| Home | Persepsi baru | Khayal Daniel | Bait Suci | Yang Tertinggal | Sabat ke Minggu | Istirahat Ilahi |
Resensi buku:
The Sabbath Under Crossfire
Penulis Resensi : Richard C. Nickels
Benar-benar menakjubkan, dan Saudara membutuhkannya! Buku terbaru dari Dr.
Samuele Bacchiocchi., membahas masalah kritis yang amat penting bagi umat Tuhan
sekarang maupun sebelumnya.
Bulan Juli 1998, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Pastoral Dies Domini
(Hari Minggu), yang menyerukan agar umat Kristen beribadah di hari Minggu
sebagai penggenapan Sabat, dan meminta perundang-undangan sipil untuk memberi
sarana kepada peribadahan Minggu ini. Adanya pengajaran Katolik tradisional,
yang sampai sekarang, mengakui bahwa pemeliharaan (peribadahan) hari Minggu
berasal dari tradisi gereja dan bukan mandat dari Alkitab, maka Paus berusaha
menyediakan dukungan Alkitabiah untuk pemeliharaan hari Minggu. Adanya kebutuhan
untuk menanggapi teologi "baru" dari Paus inilah yang merupakan salah
satu alasan mengapa Dr. Bacchiocchi memutuskan untuk menulis buku terbarunya
ini.
Awal tahun 1998, Dale Ratzlaff, pendahulu Gereja Advent Hari KeTujuh, penulis
buku "Sabat dalam Krisis" (1998), muncul di stasiun radio KJSL di St.
Louis, Missouri. Ia secara kejam menyerang hari Sabat. Bukunya telah digunakan
lebih dulu oleh Joseph Tkach dari Gereja Al Masehi (Worlwide Church of God)
untuk membuang keabsahan dari pemeliharaan Sabat. Kawan saya, Neil Gardner dari
Florissant, Missouri, menanggapi pemberitaan di radio tersebut, melalui surat ia
menjawab butir-butir yang diajukan Ratzlaff, meminta waktu yang tepat untuk
menyuguhkan peneguhan terhadap ajaran Sabat hari ke-tujuh. Gardner meminta saya
untuk menyertainya dalam mempertahankan Sabat. Saya menyadari bahwa diri saya
tidak sesuai menghadapi seorang retoris (pandai berbicara) seperti Ratzalf. Saya
menyarankan untuk mencoba mendatangkan Dr. Bacchiocchi untuk menghadapi
Ratzlaff, yang ternyata beliau sangat bersedia. Diskusi/ debat pertama
berlangsung tanggal 15 Juni 1988 dan dilanjutkan selama beberapa minggu lewat
internet. Akhirnya Ratzlaff mundur dari diskusi selanjutnya. Serangan Ratzalf
yang anti-Sabat inilah yang merupakan motivasi kedua dari buku Bacchiocchi yang
baru ini.
Paus menantang umat Kristen untuk menghormati hari Minggu, bukan hanya sebagai
institusi Gerejawi, tetapi sebagai perintah Ilahi, sebagai "ekspresi yang penuh"
dari Sabat. Ini sangat kontras dengan apa yang disebut "Perjanjian Baru", dan
berhubungan dengn ajaran "Dispensasi" (dianut oleh Ratzlaff dan Tkach) yang
menekankan secara tegas bahwa tidak ada kesinambungan antara Sabat dan Minggu.
Penganut "Dispensasi" menyatakan bahwa Sabat adalah hukum Musa, Perjanjian Lama,
suatu institusi yang berakhir di salib.
Bacchiocchi memperlihatkan bahwa hari Minggu bukanlah Sabat, seperti yang dinyatakan Paus saat ini, karena kedua hari tersebut berbeda dalam otoritas, makna dan pengalaman. Hari Minggu sangat kurang dalam hal otoritas sehingga memerlukan panggilan Paus untuk pengesahan sipil agar dijadikan hari peribadahan. Pada kebanyakan negara-negara di Eropa, undang-udang hari Minggu telah berlaku bertahun-tahun lamanya, namun pengunjung kebaktian Minggu kurang dari 10% dari populasi umat Kristen. Di Italy, 95 % umat Katolik datang ke gereja hanya tiga kali seumur hidupnya, saat "lahir, menikah dan meninggal". Undang-undang hari Minggu gagal menguatkan peribadahan di hari Minggu.
Dalam bab 2, Bacchiocchi menyelidiki secara dalam "Apakah Sabat adalah
kresional (peringatan akan penciptaan) atau ceremonial (hukum upacara)?" Di
luar dari Kejadian 2 dan Markus 2: 27-28, banyak teolog Kristen, termasuk
Ratzlaff dan Tkach, percaya bahwa Sabat bukanlah diberikan kepada manusia
sebagai tanda untuk peringatan akan penciptaan, tetapi peraturan Musa yang
diberikan pada bangsa Israel bersama-sama dengan Sepuluh Hukum.
Bacchiocchi secara cermat mengulangi bukti-bukti Alkitabiah, dan mengutip
komentar-komentar dari mereka yang bukan penganut Sabat, untuk menambah dukungan
yang berotoritas bahwa Sabat adalah suatu perintah dalam hal peringatan
penciptaan bagi semua manusia.
Dalam bab 3, Bacchiocchi membahas "Perjanjian Lama dan Baru",
sehubungan dengan pandangan Joseph Tkach mempertentangkan kedua belah perjanjian
tersebut. Dr. Sam (Bacchiocchi) memperlihatkan bahwa keselamatan berdasarkan
anugrah adalah tema sentral baik dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Memelihara
iman tidak bisa berdiri sendiri, harus dibarengi dengan kepatuhan karena
mengasihi - Galatia 5: 6. Dekalog bukanlah hanya sebuah daftar dari hukum-hukum
yang berjumlah sepuluh, tetapi juga merupakan sepuluh prinsip dari kasih. Tidak
ada pemisahan antara Hukum dan Kasih, karena yang satu tidak dapat ada/eksis
tanpa yang lainnya. Dr. Sam memperlihatkan bahwa Paulus menggunakan kata
"sabbatismos" dalam Ibrani 4 :9, yang mendukung pemeliharaan Sabat
secara literal, dimana hal ini menjawab lima alasan yang dikemukakan Ratzlaff
yang menolak pemeliharaan Sabat secara literal. Berbeda dari keimamatan Lewi dan
pengorbanan binatang yang sudah 'dihapuskan' (Ibrani 10:9), 'usang' dan 'dekat
pada kemusnahannya' (Ibrani 8:13), Paulus secara eksplisit mengajarkan bahwa
"Pemeliharaan Sabat masih disediakan untuk umat Tuhan" (Ibrani 4:9).
Pengikut Luther (Lutherans) seperti juga Ratzlaff dan Tkach, percaya bahwa
Yesus Kristus telah menggenapi perintah Sabat sekaligus menghentikan peribadahan
di hari itu, dan digantikan dengan adanya pengalaman dalam perhentian
keselamatan yang tersedia bagi umat percaya setiap hari. Untuk yang lainnya,
seperti Katolik dan Calvinis, Kristus menggenapi dan menghentikan hanya aspek
upacara (seremonial) dari perintah Sabat; yaitu peribadahan di hari ketujuh,
tetapi aspek moral dari perintah Sabat, prinsip peribadahan di satu hari khusus
dalam seminggu tidak dicabut oleh Kristus, tetapi dipindahkan ke peribadahan
hari pertama dalam minggu (hari Minggu).
Dalam menjelajahi topik "Juruselamat dan hari Sabat", Dr. Sam memperlihatkan
kekeliruan dari kedua pandangan tersebut. Penyembuhan-penyembuhan ajaib yang
dilakukan Yesus pada hari Sabat memperlihatkan perluasan /pengembangan, bukan
pemutusan/penghentian peribadahan Sabat, dan mengungkapkan sifat alamiah
penebusan dari pemeliharaan Sabat yang benar. Seperti Allah " bekerja sampai
sekarang" (Yohanes 5:17), kita juga harus bekerja untuk meyampaikan dan
meluaskan istirahat dan kedamaian dalam Sabat kepada orang lain, Yoh 9:4.
"Artinya untuk umat percaya saat ini" Dr Sam menyatakan, "bahwa Sabat adalah
hari untuk merayakan bukan hanya penciptaan yang telah Allah lakukan, dengan
cara kita beristirahat; tetapi juga penebusan Kristus dengan cara berbelas
kasihan kepada sesama manusia, " hal 173.
Berikutnya, Dr Sam menghadirkan diskusi secara mendalam mengenai "Paulus dan Hukum Taurat", dan "Paulus dan hari Sabat". Bagaimana seseorang bisa mempertemukan pernyataan Paulus yang terlihat bertentangan mengenai Hukum Taurat ? Lima ayat-ayat utama diteliti, dimana seringkali dikutip untuk mendukung pemikiran bahwa Hukum Taurat sudah digenapi oleh Kristus, sebagai akibatnya tidak lagi menjadi tolok ukur dari kelakuan orang Kristen.
Roma 6:14, " tidak lagi berada di bawah hukum ";
II Korintus 3 : 1-18, " surat dan Roh ";
Galatia 3 : 15-25, " iman dan hukum ";
Kolose 2:14, " telah dipakukan di salib ? " dan
Roma 10:4, "Kristus adalah akhir (bhs Ingg:'end') dari hukum Taurat."
Kesimpulan Bacchiocchi adalah pada waktu Paulus membicarakan Hukum dalam konteks
keselamatan (pembenaran, berdiri dengan benar dihadapan Tuhan), dia menegaskan
bahwa pemeliharaan Hukum tidak berlaku (Roma 3:20). Pada kesempatan lainnya,
ketika Paulus berbicara mengenai Hukum dalam konteks tingkah laku Kristiani
(penyucian, hidup benar dihadapan Tuhan), dia meninggikan nilai dan keabsahan
Hukum Tuhan (Roma 7:12; 13:8-10; I Korintus 7:19). Ini merupakan bagian yang
paling berharga dari buku "Sabbath Under Crossfire".
Menurut pendapat saya, pengajaran dari Gereja Al Masehi (Worldwide Church of God) sepanjang sejarah, agak lemah dalam hal Hukum Tuhan dan Perjanjian yang Baru. Kelemahan ini memberikan pintu kesempatan untuk Dr. Ernest L. Martin, mantan ketua Departemen Theologia dari perguruan tinggi Ambassador, untuk membawa lebih dari 10.000 anggota keluar dari gereja pada tahun 1974, yang mana kebanyakan mereka melalaikan pemeliharaan sabat secara keseluruhan. Dr. Martin membuka jalan untuk Proyek Teologi Ssistematik di akhir 1970-an, yang secara teologis merupakan fondasi untuk Joseph Tkach, Senior dan Junior. Dalam sebuah surat bulan April 1995, Dr Martin menyatakan penghargaan atas banyak doktrin-dokrin yang umat gereja Al Masehi sekarang katakan sebagai "kebenaran-kebenaran baru" selama lebih dari 20 tahun! Ajaran Martin yang disebut "Perjanjian Baru (New Covenant)" dan anti Sabat, sejajar dengan pengajaran Ratzlaff dan Tkach. Banyak dari pendeta-pendeta senior saat ini diajar oleh Martin di perguruan tinggi Ambassador. Apakah mengherankan bahwa banyak orang yang terguling dan jatuh, ketika sampai pada pengertian Alkitab mengenai Hukum Tuhan dan Perjanjian yang Baru? Pengajaran Tkach saat ini mendekati ajaran Martin.
Dalam bukunya ini, Dr Sam menyatakan"Kebalikan dengan apa yang banyak
dipercaya orang, Perjanjian Lama tidak lah memandang Hukum Taurat sebagai suatu
alat untuk mendapatkan penerimaan/perkenan dari Tuhan lewat penurutan, tetapi
merupakan suatu cara untuk merespon/membalas anugrah penebusan Tuhan dan yang
mengikat antara Israel dengan Tuhan .... keselamatan adalah selalu pemberian
ilahi yang berupa anugrah dan bukan usaha manusia." hal 186-187.
Tidak ada
legalisme dalam Perjanjian Lama; konsep yang menyimpang itu dikembangkan dintara
kedua Perjanjian (PL dan PB -red) oleh orang-orang Farisi. "Paulus menolak
pengertian kaum Farisi bahwa Hukum adalah alat untuk keselamatan, ia meneguhkan
pandangan Perjanjian Lama terhadap Hukum sebagai pengungkapan apa yang Tuhan
kehendaki dalam tingkah laku manusia." hal 189. Ernest Martin dan beberapa
mantan pendeta Gereja al Masehi sekarang ini, menjadikan Paulus seorang
pelanggar hukum. Tetapi yang benar ialah kehidupan baru kita dalam Kristus
memampukan kita untuk mematuhi Hukum, bukan secara penampilan luar (ditulis
dengan tinta pada loh batu), tetapi sebagai respon yang penuh kasih kepada Tuhan
(ditulis oleh Roh pada loh daging dalam hati).
Sebelum membaca bagian ini dalam buku "Sabbath
Under Crossfire",
saya tidak mempunyai dasar pengertian yang baik terhadap penempatan Hukum Tuhan
dalam kehidupan Kristiani. Terminologi Bacchiocchi yang sederhana, mudah
dimengerti dan exegese Alkitabiahnya sangat menakjubkan. Jika saudara mengetahui
seseorang yang meninggalkan gereja, mungkin sudah bertahun-tahun lampau, dan
telah mengabaikan Sabat dan kebanyakan pengajaran utama kita, mungkin mereka mau
meneliti kembali masalah-masalah mengenai Sabat, Hukum Tuhan dan teologia
Paulus. Buku 'Sabbath Under Crossfire' ini bisa menjadi buku yang terbaik yang
pernah ditulis sehubungan dengan masalah tersebut, dan akan merupakan pemberian
yang sangat baik untuk menolong seseorang mendapatkan kembali pijakan bagi
kerohaniannya. Jangan lupakan dirimu sendiri. Mungkin saudara, seperti juga
saya, tidak sungguh-sungguh menggali pengajaran mengenai hukum Taurat dalam
tulisan rasul Paulus sebagaimana yang dilakukan Bacchoiocchi dalam bukunya yang
sangat baik ini.
Akhirnya, dalam Pasal 7, Dr Sam memperlihatkan bahwa banyak pemelihara hari
Minggu meneliti dan menemukan kembali keabsahan dari Sabat. Sabat bukanlah
berarti satu jam kebaktian ibadah, tetapi 24 jam yang kudus bersama Tuhan,
liburan ilahi dari kerusuhan dan tekanan hidup sehari-hari. Dimana sebagian
pemelihara hari Minggu lebih bersungguh-sungguh memelihara hari Minggu, fakta
tetap menyatakan bahwa hari Minggu bukanlah Sabat. Saudara tidak dapat menyimpan
air dingin agar tetap hangat. Dimana Ratzlaff dan Gereja Al Masehi telah
mengabaikan Sabat, berita menggembirakan adalah orang-orang Kristen lainnya
justru menemukan kembali Sabat hari ke tujuh, beribadah di hari tersebut, dan
mempelajari lebih dalam mengenai arti rohaninya.
Bishop Steven Sanchez dan Sinode Wesley dari 68 kumpulan jemaat Methodis di
Amerika Utara, akhir-akhir ini telah menjadi pemelihara Sabat, menyatakan bahwa
John Wesley asalnya memelihara Sabat dan juga hukum/peraturan diet. Mereka memelihara
Sabat sejak matahari terbenam di hari Jumat sampai terbenam kembali di hari
Sabtu, mengadakan kebaktian gereja di hari Sabtu, dan berhenti dari pekerjaan
mereka di hari Sabat tersebut. Betapa sangat menggembirakan berita ini.
Kebanyakan Yahudi Mesianik (percaya Yesus Kristus sebagai Mesias -red), yang
menerima Mesias melalui usaha para Protestan dan tadinya memelihara hari Minggu,
sekarang sudah menjadi penganut Sabat hari ke-tujuh. Penganut Menonit
(Sabbatarian Menonit) seperti Daniel Leichty, sedang memperbaharui warisan
Anabaptis dari Andreas Fischer dan Oswald Glait dengan kembali pada Sabat.
Gereja Yesus Sejati (the True Jesus Church, berdiri th 1917 di China (yang
mungkin adalah generasi penerus dari orang-orang Tionghoa penganut Sabat abad
19) hari ini mempunyai satu juta anggota di Cina dan 79.000 di dunia bebas.
Prinsip dasar mereka menyatakan,"Hari Sabat, hari ketujuh dalam satu minggu
(Sabtu), adalah hari yang suci, diberkati dan dikuduskan oleh Allah. Itu harus
dipelihara di bawah anugrah Tuhan untuk memperingati penciptaan dan penebusan
Tuhan, dan dengan pengharapan akan istirahat yang kekal."
Bagaimana dengan saudara? Akankah engkau membuang Sabat seperti Martin, Ratzlaff, dan Tkach? Akankah engkau menjalankan Sabat dengan cara legalistis, keras hati, berpikir bahwa dengan melakukan hal ini engkau dapat memperoleh kemurahan Tuhan dan mendapatkan keselamatan, atau, menjadikan Sabat suatu beban bagi anak-anakmu sehingga mereka akan menolaknya ketika mereka dewasa? Atau sebaliknya, akankah engkau, meskipun sudah menjadi seorang pemelihara Sabat selama bertahun-tahun, menemukan kembali kesukaan atas Sabat, "hadiah yang sedang menunggu untuk dibuka"? Akankah engkau mengijinkan Tuhan memperkaya hidupmu dengan kehadiran, kedamaian dan peristirahatan ilahiNya dalam takaran yang lebih besar lagi sebagaimana yang diberikan oleh Sabat?
Dan, yang
terpenting, seperti yang disimpulkan Dr Samuele, akankah engkau MELAKUKAN SESUATU
untuk menyebarkan kesukaan dalam Sabat kepada yang lainnya? Akankah engkau
bagikan imanmu pada yang lainnya? Dr. Sam memohon dengan sangat agar kita
melepaskan diri kita dari kelesuan spiritual: Banyak orang akan menerima
pemberian Sabat ini jika mereka yang telah mengalami berkatnya setiap minggu
atas pemberian ilahi ini mau membagikannya kepada orang lain manfaat yang
diberikan hari tersebut dalam hidup kita." hal 283.
Written by: Richard C. Nickels
You may order any one of these three excellent Sabbath books for $15.00
postpaid from Giving & Sharing, PO Box 100, Neck City, MO 64849. Or, order
any two, or all three, for $12.50 each from the same.
This material distributed on the Web by the Giving & Sharing site at: http://www.giveshare.org
|
Home |
Persepsi baru |
Khayal Daniel |
Bait Suci
| Yang Tertinggal
|
Pemisahan Luther |
Wycliffe |
Keruntuhan Yerusalem