Huss dan Jerome

        Benih Injil telah ditanam di Bohemia pada abad kesembilan. Alldtab telah diterjemahkan, dan perbaktian umum telah dilaksanakan dalam bahasa penduduk setempat. Akan tetapi, sementara kuasa paus bertamibah, maka firman Allah semakin tersembunyi. Paus Gregory VII, yang telah merendahkan harga diri raja-raja, tidak kurang niatnya untuk memperbudak orang-orang. Dan untuk itu ia mengeluarkan keputusan melarang perbaktian umum diadakan di dalam bahasa Bohemia. Paus mengatakan bahwa "adalah menyenangkan kepada Yang Mahakuasa kalau perbaktan kepada-Nya dilakukan dalam satu bahasa yang tidak diketahui, dan bahwa banyak kejahatan dan bidat telah timbul karena tidak mematuhi peraturan ini."-Wylie, b. 3, psl.l

 

          Dengan demikian Roma telah mende­kritkan bahwa terang firman Allah harus dipadamkan, dan orang-orang harus ditutup dalam kegelapan. Tetapi Surga telah menyediakan agen-agen lain untuk memelihara gereja. Banyak orang Waldensia dan Albigensia yang diusir oleh penganiayaan dari rumah-rumah mereka di Perancis dan Italia datang ke Bohemia. Meskipun mereka tidak berani mengajar secara terang-terangan, mereka dengan bersemangat bekeda secara sembunyi-sem­bunyi. Dengan demikian iman yang benar itu telah dipelihara dari abad ke abad.

 

Sebelum zamannya Huss, ada orang-orang di Bohemia yang bangkit mempersalahkan dengan terang-terangan kebejatan di dalam gereja dan kemerosotan moral umatnya. Usaha mereka itu membangkitkan perhatian di kalangan luas. Timbullah kekuatiran hirarki, dan penganiayaan pun dila­kukan ke atas murid-murid Injil itu. Mereka diusir ke hutan-hutan dan ke gunung-gunung di mana mereka mengadakan perbaktian. Mereka diburu oleh tentara dan banyak yang dibunuh. Setelah beberapa lama dikeluarkanlah dekrit bahwa semua yang berpaling dari perbaktian Romaisme harus dibakar. Akan tetapi sementara orang-orang Kristen menyerahkan hidup mereka, mereka mengharapkan kepada kemenangan jauh di hadapan mereka.

 

Salah seorang dari mereka yang "mengajarkan bahwa keselamatan hanya didapat oleh iman dalam Juruselamat yang telah disalibkan itu," mengata­kan waktu mau meninggal, "Kemarahan musuh-musuh kebenaran seka­rang leluasa melawan kita, tetapi itu tidak akan berlangsung selama-lama­nya. Akan ada seseorang yang bangkit dari orang-orang biasa, tenpa pedang dan kekuasaan; dan melawan dia mereka tidak akan bisa sewenang­wenang."-Wylie, b. 3, ch. 1. Zaman Luther masih jauh di depan. Tetapi telah bangkit seseorang, yang kesaksiannya melawan Roma akan meng­gemparkan bangsa-bangsa.

 

John Huss dilahirkan sebagai orang yang hina, dan secara dini telah men­jadi anak yatim karena ditinggal mati ayahnya. Ibunya yang saleh, yang menganggap pendidikan dan takut akan Allah sebagai-harta milik paling berharga, berusaha membuat ini sebagai warisan bagi anaknya. Huss bel­ajar di sekolah propinsi, kemudian melanjutkan ke universitas di Praha yang diterima sebagai mahasiswa amal, tanpa membayar.   Ia disertai ibunya da­lam perjalanan ke Praha. Sebagai seorang janda miskin ia tak mempunyai sesuatu harta dunia yang bisa diberikan. kepada anaknya. Tetapi sementara mereka semakin dekat ke kota besar itu, ibunya berlutut di samping pemuda yang tidak berayah ini, dan memohon berkat Bapa Surgawi baginya. Ibu itu tidak begitu menyadari bagaimana doanya itu akan dijawab.

 

Di universitas itu Huss segera menonjol karena ketekunannya yang tak mengenal lelah dan kemajuannya yang pesat, sementara kehidupannya yang tidak bercacat dan kelemahlembutannya, dan kelakuannya yang baik mem­berikan kepadanya penghargaan universal. Ia adalah seorang penganut Gereja Roma yang sungguh-sungguh, dan seorang yang sungguh-sungguh mencari berkat-berkat rohani yang dijanjikan akan diberi. Pada suatu pera­yaan jubileum, ia mengadakan pengakuan dosa, membayarkan uangnya yang terakhir, dan mengikuti arak-arakan agar mudah mendapat bagian pengampunan yang dijanjikan. Setelah ia menyelesaikan pendidikan ting­gi, ia memasuki kismamatan, dan dengan segera memperoleh kedudukan yang tinggi. Ia segera bertugas di istana raja.  Ia juga diangkat menjadi pro­fesor dan kemudian menjadi rektor universitas di mana ia dulu mempero­leh pendidikannya. Dalam beberapa tahun-saja, mahasiswa amal yang hina ini telah menjadi kebanggaan negaranya, dan namanya telah terkenal di seluruh Eropa.

 

Tetapi Huss memulai pekerjaan pembaruan dalam bidang lain. Beberapa tahun setelah ia menjadi imam, ia ditunjuk sebagai pengkhotbah di kapel Betlehem. Pendiri kapel ini telah melakukan pengkhotbahan Alkitab da­lam bahasa masyarakat setempat, sebagai sesuatu yarig sangat penting. Wa­laupun Roma menentang tindakan seperti itu, belum sepenuhnya dihentikan di Bohemia. Tetapi mereka sangat buta mengenai Alkitab, dan kejahatan merajalela di semua lapisan masyarakat. Kejahatan ini sangat dicela oleh Huss, dan mengimbau untuk memperhatikan firman Allah dan menjalankan prinsip-prinsip kebenaran dan kesucian yang ia telah ajarkan berulang-ulang.

Seorang warga Praha yang bemama Jerome, yang kemudian begitu de­kat berhubungan dengan Huss, telah membawa tulisan-tulisan Wycliffe pada waktu ia kembali dari Inggris. Ratu Inggris, yang telah bertobat kepa­da pengajaran Wycliffe, adalah Putri Bohemia. Dan melalui pengaruhnya juga pekerjaan Reformasi itu telah disebarkan secara luas di negara asalnya. Tulisan-tulisan itu dipelajari oleh Huss dengan minat yang besar. Ia percaya pengarang tulisan-tulisan itu adalah seorang Kristen yang sungguh-sung­guh, sehingga ia cenderung mengakui pembaruan-pembaruan yang dilancarkannya. Huss sebenarnya telah memasuki suatu jalan yang mem­bawanya jauh dari Roma, walaupun ia tidak menyadarinya.

 

 

Pada waktu itu ada dua orang asing yang baru tiba di Praha dari Inggris. Orang-orang itu adalah orang-orang terpelajar, yang telah menerima te­rang. Mereka datang untuk menyebarkan terang di negeri itu. Mereka me­mulai dengan serangan terbuka terhadap supremasi paus, dan oleh karena itu mereka segera dibungkam oleh para penguasa. Tetapi oleh karena me­reka tidak mau membatalkan niatnya, maka mereka terpaksa mencari cara lain. Oleh karena mereka adalah seniman yang sekaligus pengkhotbah, mereka mulai menggunakan kemahiran mereka: Di suatu tempat yang ter­buka untuk umum mereka melukis dua gambar. Yang satu menggambar­kan Kristus memasuki Yerusalem, "lemah lembut dan mengenderai seekor keledai" (Matius 21:5), dan diikuti oleh murid-murid-Nya dengan pakaian yang sudah kumal dan dengan kaki telanjang. Lukisan yang satu lagi meng­gambarkan prosesi kepausan :  Paus berhias diri dengan jubah yang mewah dan dengan mahkota tiga tingkat, duduk di atas kuda yang dihiasi dengan agungnya, yang didahului oleh peniup sangkakala dan diikuti oleh para kardinal dan pejabat-pejabat tinggi agama dalam suatu kemegahan.

 

Ini merupakan suatu khotbah yang menarik perhatian semua golongan. Orang ramai berkerumun melihat lukisan itu. Tak seorang pun yang gagal membaca makna moral lukisan itu, bahkan banyak yang terkesan secara mendalam oleh perbedaan menyolok antara kelemah-lembutan dan keren­dahan hati Kritus, yang adalah Tuhan;  dengan kesombongan dan keangkuhan paus, yang mengatakan dirinya hamba Kristus. Terjadilah keributan di Praha. Dan demi keselamatan mereka, kedua orang asing itu merasa perlu untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi pelajaran yang mereka telah ajarkan tidak dilupakan. Lukisan itu memberikan kesan mendalam dalam pikiran Huss, sehingga menuntun dia untuk mempelajari Alkitab dan tulisan-tulisan Wycliffe lebih teliti. Meskipun pada waktu itp ia belum siap untuk meneri­ma semua pembaruan yang dicetuskan oleh Wycliffe, ia melihat semakin jelas tabiat kepausan. Dan dengan semangat yang lebih besar ia mencela kesombongan, ambisi dan kebejatan moral para penguasa hirarki.

Dari Bohemia terang itu meluas ke Jerman, karena gangguan yang terjadi di Universitas Praha menyebarkan ratusan mahasiswa Jerman ditarik dari sana. Banyak dari antara mereka telah menerima pengetahuan pendahulu­an Alkitab dari Huss. Dan pada waktu mereka kembali, mereka menyiar­kan Injil itu di negeri mereka.

Berita mengenai pekerjaan di Praha telah sampai ke Roma. Dan Huss dipanggil untuk menghadap paus di Roma. Memenuhi panggilan seperti itu berarti Huss membuka diri kepada kematian. Raja dan ratu Bohemia, pelajar-pelajar universitas, kaum bangsawan dan pejabat-pejabat pemerintah bersatu untuk mengadukan suatu permohonan kepada paus, agar Huss diizinkan tetap tinggal di Praha, dan memberikan jawaban di Roma melalui wakil atau utusan. Gantinya memenuhi permintaan itu paus melanjutkan mengadili dan menghukum Huss dan mengadakan Praha sebagai kota terlarang (tidak boleh mengadakan upacara kudus--sakramen).

Pada masa itu hukum seperti ini, bila diumumkan, akan menimbulkan kegemparan dan ketakutan. Upacara yang diadakan bersamaan dengan pengumuman disesuaikan benar untuk menimbulkan teror kepada seseorang yang memandang paus sebagai wakil Allah sendiri, yang memegang anak kunci surga dan neraka, dan mempunyai kuasa untuk mengadakan pengadilan duniawi maupun rohani. Dipercayai bahwa pintu surga telah tertutup bagi daerah yang dinyataka terlarang, sehingga orang-orang mati di daerah yang terlarang seperti itu tidak akan masuk ke tempat yang berbahagia sampai paus dengan senang hati mencabut larangan itu. Sebagai tanda bencana yang mengerikan ini semua upacara agama dihentikan. Gereja-gereja ditutup. Upacara pernikahan dilaksanakan di halaman gereja saja. Orang-orang mati dilarang dikuburkan di tempat pemakaman yang telah ditahbiskan. Merek dikuburkan di parit-parit atau di ladang-ladang tanpa upacara penguburan.  Dengan demikian, oleh hal-hal yang menarik kepada imaginasi orang-orang,  Roma berusaha menguasai hati nurani manusia.

 

Kota Praha dipenuhi kegemparan dan kekacauan. Sebagian besar menuduh Huss sebagai penyebab dari semua malapetaka ini dan menuntut agar ia menyerah saja kepada tindakan balas dendam Roma. Untuk menenangkan gejolak tersebut, untuk sementara reformis itu mengundurkan diri ke kampung halamannya. la menulis kepada teman-temannya di Praha, "Jika  saya mengundurkan diri dari tengah-tengah Anda sekalian, adalah mengikuti ajaran dan teladan Yesus Kristus, untuk memberikan kesempatan ke pada orang-orang yang sudah sakit pikiran mengambil bagi dirinya hukuma yang kekal, dan agar supaya jangan menjadi penyebab kepicikan manya. Dari abad ke abad, pekerja-pekerja yang setia susul-menyusul menuntun orang-orang lebih jauh ke dalam jalan penbaraan.

 

Perpecahan dalam gereja masib terus berlangsung. Sekarang tiga orang paus bersaing untuk mendapatkan supremasi, dan persaingan mereka itu memenuhi dunia Kekristenan dengan kejahatan dan keributan. Tidak puas dengan sating mengutuk, mereka juga mengguhakan senjata. Masing-ma­sing membeli senjata dan membentuk pasukan tentara. Sudah barang tentu mereka memerlukan uang untuk ini. Dan untuk memperoleh uang mereka menjual hadiah-hadiah, jabatan dan berkat-berkat gereja (Lihat Lampiran1). Para imam juga meniru atasan mereka, memperjualbelikan pangkat gereja dan berperang menjatuhkan martabat lawan dan memperkuat kekuasaan sendiri. Dengan keberanian yang semakin bertambah setiap hari, Huss mencela kekejian yang dilakukan dengan kedok agama. Dan orang-orang menuduh para pemimpin Roma sebagai penyebab penderitaan yang menimpa dunia Kekristenan.

 

Sekali lagi-kota Praha nampaknya berada di tepi jurang pertikaian berda­rah. Seperti pada zaman-zaman dahulu, hamba-hamba Allah dituduh seba­gai "yang mencelakakan Israel" (1 Raja-raja 18:17). Kota itu sekali lagi dinyatakan sebagai kota terlarang, dan Huss mengundurkan dirt ke kampung halamannya. Berakhirlah sudah kesaksian setia yang keluar dari kapelnya di Betlehem. Ia akan berbicara dari podium yang lebih luas kepada semua dunia Kekristenan, sebelum menyerahkan nyawanya sebagai saksi kebe­naran.

 

Untuk mengatasi kejahatan-kejahatan yang mengganggu Eropa, maka diadakanlah konsili umum di Constance. Konsili itu diadakan atas kemauan Kaisar Sigismund, oleh salah seorang paus yang bersaing, Yohanes XIII. Sebenarnya Paus Yohanes tidak menyukai diadakannya konsili itu oleh karena tabiat pribadinya dan kebijaksanaannya tidak tahan pemeriksaan, baik oleh pejabat-pejabat tinggi gereja, yang kurang bermoral sebagaima­na juga para anggota gereja pada masa itu. Namun, ia tidak berani melawan keinginan Kaisar Sigismund. (Lihat Lampiran 2).

 

Tujuan utama yang hendak dicapai konsili itu ialah untuk memulihkan perpecahan di dalam gereja, dan untuk membasmi bidat atau aliran yang menyimpang. Oleh karena itu kedua orang yang anti paus telah dipanggil menghadap serta propagandis utama pemikiran-pemikiran baru, John Huss. Kedua orang anti paus tidak mau menghadap oleh karena alasan kesela­matan, tetapi mengirim utusannya untuk mewakili.

 

Paus Yohanes, semen­tara berpura-pura sebagai seorang yang mengadakan konsili itu, ia datang dengan keragu-raguan, menduga bahwa kaisar berencana secara diam-diam untuk menggulingkannya. Ia takut diminta pertanggung-jawaban atas keja­hatan-kejahatan yang merendahkan mahkota kepausan, serta kejahatan­kejahatan yang telah dilakukan untuk mendapatkannya. Namun begitu ia memasuki kota Constance dengan suatu kebesaran dan keagungan disertai para imam golongan atas dan diikuti oleh iring-iringan panjang pegawai tinggi istana. Semua imam dan para pejabat kota bersama kerumunan massa keluar menyambut dan' mengelu-elukan dia. Di atas kepalanya terbentang penutup singgasana keemasan yang diusung oleh empat orang pejabat tinggi. Roti Suci dibawa dihadapannya, dan kemegahan pakaian para kardinal dan para bangsawan membuat suatu pameran yang mengagumkan.

 

Sementara itu seorang lain yang mengadakan perjalanan juga sedang mendekati kota Constance. Huss sadar akan bahaya yang mengancamnya. Ia berpisah dengan teman-temannya, seolah-olah ia tidak akan pernah me­lihat mereka lagi. Dan ia menjalani perjalanannya dengan perasaan seolah­-olah berjalan menuju tiang gantungan, Walaupun ia telah mendapatkan surat jaminan keamanan dari raja Bohemia dan Kaisar Sigismund untuk perjalanannya ini, ia telah menyiapkan segala sesuatu karena kematiannya masih mungkin dapat terjadi.

 

Dalam sebuah suratnya yang ditujukan kepada teman-temannya di Praha ia berkata, "Saudara-saudaraku, . . . Saya pergi dengan surat jaminan dari raja, untuk menemui musuh-musuh saya yang banyak.... Saya menaruh kepercayaan penuh pada kuasa Allah, pada Juruselamatku; saya percaya bahwa la akan mendengarkan doamu yang sungguh-sungguh, agar Dia memasukkan kebijaksanaan-Nya dan akal budi-Nya kedalam mulutku, agar supaya saya boleh bertahan terhadap mereka. Dan agar Dia memberikan Roh Kudus-Nya untuk menguatkan saya di dalam kebesaran-Nya, agar supaya saya dapat menghadapi dengan berani segala pencobaan dan penjara, dan jikalau perlu, kematian yang kejam.

 

Yesus Kristus menderita untuk semua yang dikasihi-Nya, dan oleh sebab itu bukankah kita patut bergembira karena Ia telah memberikan teladan­Nya bagi kita, agar supaya kita tabah menanggung segala sesuatu demi keselamatan kita? Ia adalah Allah, dan kita adalah makhluk-Nya. Ia adalah Tuhan, dan kita adalah hamba-hamba-Nya. Ia adalah Tuhan dunia ini, dan kita adalah manusia berdosa yang hina dan keji namun Dia telah mende­rita untuk kita! Kalau begitu, mengapa kita juga tidak menderita, terutama kalau penderitaan itu bagi kita adalah penyucian?

 

Oleh sebab itu, saudara-saudara yang kekasih, jikalau kematianku untuk kemuliaan-Nya, berdoalah supaya kematian itu cepat datang, dan agar Dia menyanggupkan saya menanggung semua malapetaka dengan keteguhan hati. Akan tetapi jika adalah lebih baik aku kembali ke tengah-tengah kamu, baiklah kita berdoa kepada Allah agar saya boleh kembali tanpa noda; yaitu, agar aku jangan menyembunyikan satu pun kebenaran Injil, agar aku dapat meninggalkan suatu teladan bagi saudara-saudaraku untuk diikuti. Oleh sebab itu, mungkin saudara-saudara tidak akan memandang mukaku lagi di Praha. Tetapi jika menjadi kehendak Allah yang Mahakuasa berke­nan mengembalikan saya kepada kamu, marilah kita maju terus dengan hati yang semakin teguh dalam pengetahuan dan kecintaan kepada hukum­Nya." Bonnechose, Jld. I, hlm. 147, 148.

 

Dalam surat lain, kepada seorang imam yang telah menjadi murid Injil, Huss berbicara dengan kerendahan hati yang mendalam mengenai kesa­lahan-kesalahannya sendiri, menuduh dirinya sendiri, "telah menikmati kesenangan dalam memakai pakaian yang mewah, dan telah menghabis­kan waktu dalam pekerjaan yang sia-sia." Lalu ia menambahkan nasihat yang menyentuh hati ini: "Biarlah kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa­jiwa menempati pikiranmu, dan bukan kedudukan dan harta kekayaan. Berhati-hatilah, jangan menghiasi rumahmu melebihi jiwamu. Dan diatas segalanya, berikanlah perhatianmu kepada pembangunan kerohanian. Berlakulah saleh dan rendah hati kepada orang miskin, dan jangan meng­habiskan hartamu dalam pesta pora. Jikalau engkau tidak mengubah kehidupanmu dan berhenti dari segala yang berlebihan, saya khawatir bah­wa engkau akan dihukum seperti saya ini .... Engkau mengetahui ajaran­ku, karena engkau telah menerima petunjukku sejak dari masa kanak­kanakmu. Oleh sebab itu tidak ada gunanya bagiku menulis kepadamu le­bih jauh. Tetapi saya meminta kepadamu, oleh rahmat Tuhan kita, agar tidak meniruku dalam kesombongan yang sia-sia, ke dalam mana engkau saksikan saya jatuh." Pada sampul suratnya itu is menambahkan, "Saya mengimbaumu, saudaraku, jangan membuka surat ini sampai engkau su­dah mendapat kepastian bahwa saya sudah mati"' Ibid, hhn. 148, 149.

 

 

Dalam perjalanannya, Huss melihat di mana-mana tanpa-tanda tersebamya ajaran-ajarannya, dan dukungan demi perkembangan ajaran itu. Orang-orang berduyun-duyun menemuinya, dan di beberapa kota pejabat-pejabat menyambutnya di jalan-jalan.  Setelah tiba di Constance, Huss diberikan kekebasan penuh. Kepadanya telah diberikan  su­rat jaminan keamanan yang diberikan oleh kaisar, ditambah jaminan perlindungan pribadi oleh paus. Tetapi pelanggaran kepada deklarasi yang sungguh-sungguh dan diulang-ulang ini, menyebabkan Pembaru itu ditang­kap dalam waktu singkat, dan atas perintah paus dan para kardinal, ia dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang menjijikkan. Kemudian  Huss  dipindahkan ke kastil yang kokoh di seberang Sungai Rhine sebagai tawanan.

 

Tidak berapa lama kemudian, paus, oleh karena pengkhianatannya telah dijebloskan kedalam penjara yang sama.Ibid, hlm. 247. Di hadapan konsili, paus telah terbukti melakukan kejahatan yang paling mendasar, di samping pembunuhan, memperjua-lbelikan kedudukan gereja dan perzina­an, "dosa-dosa yang tidak pantas disebut namanya." Jadi konsili mengelu­arkan pernyataan; dan demikianlah akhirnya mahkota dicopot dari pada­nya, dan ia dijebloskan ke dalam penjara. Orang-orang yang anti paus juga dicopot dan paus baru pun dipilih.

 

Meskipun paus sendiri telah melakukan kesalahan  yang lebih besar dari­pada yang pernah dituduhkan Huss kepada para imam, sehingga untuk itu  Huss menuntut diadakan reformasi; namun konsili yang sama yang menurunkan martabat paus, juga meneruskan menumpas Sang Reformis. Dengan dipenjarakannya Huss telah menimbulkan kemarahan di Bohemia. Kaum bangsawan yang berkuasa mengajukan protes keras kepada konsili menentang perbuatan biadab itu. Kaisar, yang tidak suka adanya  pe­langgaran terhadap surat jaminan keamanan yang diberikannya, menentang tindakan yang dilakukan kepada Huss. Tetapi musuh-musuh Sang Refor­mis begitu ganas dan bersikeras. Mereka memohon perhatian raja menge nai prasangkanya, ketakutannya dan semangatnya terhadap gereja. Mereka mengajukan argumentasi yang.panjang lebar untuk membuktikan bahwa "iman tidak boleh dipelihara bersama dengan bidat atau orang-orang yang dicurigai menganut kepercayaan yang menyimpang, walaupun mereka dilengkapi dengan surat-surat jaminan keamanan dari kaisar atau raja-raja."-Lenfant, "History of the Councils of Constance," Rd. I, him. 516. Maka dengan demikian mereka pun berhasil.

 

Dilemahkan oleh penyakit dan penahanannya di dalam -penjara bawah tanah yang lembab dengan udara yang bau busuk, telah menyebabkan Huss menderita demam yang nyaris mengakhiri hidupnya. Akhirnya Huss di ha­dapkan ke depan  konsili. Dibebani dengan rantai-rantai, ia berdiri di hadapan kaisar yang mulia dan yang mempunyai iman yang baik, yang telah berjan­ji melindunginya. Selama pemeriksaannya yang memakan waktu lama, dengan teguh ia mempertahankan kebenaran, dan di hadapan perkumpulan para pejabat tinggi gereja dan negara ia mengeluarkan protes yang sung­guh-sungguh dan jujur menentang kebenaran para penguasa hirarki.

 

Rahmat Allah mendukung dia. Selama minggu-minggu yang telah berlalu sebelum keputusan terakhimya, damai surga memenuhi jiwanya. "Saya menulis surat ini," katanya- kepada seorang temannya, "di dalam ruang penjara saya, dan dengan tangan saya yang terbelenggu, menanti pelaksa­naan hukuman mati saya besok .... Bilamana, dengan pertolongan Yesus Kristus, kita kan.bertemu lagi di kedamaian kehidupan yang akan datang, engkau akan tahu bagaimana Allah yang berbelas kasihan itu telah memberikan  diri-Nya kepadaku, dan betapa besar pertolongan Nya kepadaku dalam pencobaan dan pengadilanku.'' Bonnechose, Md. II, him. 67.

 

Di dalam kegelapan penjara ia melihat kemenangan iman yang benar. Dalam mimpi ia kembali ke kapel di Praha di mana ia mengkhotbahkan Injil, ia melihat paus dan para uskupnya menghapus gambar Kristus yang telah dilukisnya di dinding kapel itu. "Penglihatan ini menyusahkan hati­nya, tetapi hari berikutnya ia melihat banyak pelukis melukis kembali gambar itu dalam jumlah yang lebih besar dan dengan warna yang lebih terang. Segera setelah tugas mereka selesai, para pelukis itu, yang telah dikelilingi oleh banyak sekali orang, berseru, “Sekarang biarlah para paus dan para uskup datang. Mereka tidak akan pemah lagi bisa menghapus gambar itu! "

 

Pembaharu itu berkata pada waktu ia menghubungkan mimpinya, "Saya merasa pasti, bahwa gambar Kristus tidak akan pernah dihapus. Mereka ingin memusnahkannya, tetapi akan dilukis baru di dalam semua hati oleh para pengkhotbah yang jauh lebih baik dari saya." D’ Aubigne, b. 1, ch.6.

 

Untuk terakhir kalinya, Huss dibawa kembali ke hadapan konsili. Mah­kamah sekali ini adalah mahkamah yang brilian dan luas-dihadiri oleh kaisar, para pangeran kerajaan, para deputi kerajaan, para kardinal, uskup-­uskup dan imam-imam; dan orang banyak yang datang sebagai penonton kejadian hari itu. Dari seluruh dunia Kekristenan telah berkumpul untuk menyaksikan korban besar yang pertama ini yang telah lama memperjuang­kan kebenaran hati nurani.

 

Setelah dipanggil untuk mendengarkan keputusan terakhir, Huss menya­takan penolakannya untuk menyangkal keyakinannya, dan sambil menuju­kan pandangannya yang tajam kepada kaisar yang kata-kata janjinya telah dilanggar dengan tidak mengenal malu, ia mengatakan, "Saya memutus­kan atas kemauan saya sendiri, untuk hadir di hadapan konsili ini di bawah perlindungan umum dan jaminan keselamatan kaisar yang hadir di sini."­Bonnechose, Jld.. 11, hlm. 84. Wajah Kaisar Sigismund menjdi merah pa­dam pada waktu semua mata orang yang hadir di mahkamah itu meman­dang kepadanya.

 

Keputusan telah diumumkan, upacara penurunan pangkat pun dimulai. Para uskup mengganti pakaiannya dan memakaikan pakaian keimamatan. Dan pada waktu Huss mengenakan pakaian keimamatan itu, ia berkata, "Tuhan kita Yesus Kristus telah dibungkus dengan kain putih sebagai penghinaan, pada waktu Herodes memerintahkan menghadapkannya kepada Pilatus."­Ibid, hlm. 86. Pada waktu sekali lagi ia diminta untuk menarik kembali pernyataannya, ia menjawab sambil berbalik kepada orang banyak, "Lalu dengan muka apa saya harus memandang Surga? Bagaimana saya melihat orang banyak itu kepada siapa saya sudah khotbahkan Injil yang sejati? Tidak. Saya lebih menghargai keselamatan mereka daripada tubuh saya yang hina ini, yang sekarang telah diputuskan untuk dibunuh." Pakaiannya ditanggalkan satu persatu; setiap uskup mengatakan kata-kata kutukan se­mentara mereka melakukan tugasnya dalam upacara itu. Akhimya, "mere­ka mengenakan di atas kepalanya sebuah topi atau semacam topi yang dipakai oleh uskup dalam upacara, yang berbentuk piramida dan terbuat dari kertas. Dikertas itu dilukiskan gambar-gambar Setan dengan kata-kata, `Kepala Bidat,' dituliskan dengan menyolok di bagian depan. `Sangat se­nang' kata Huss, `akan saya pakai mahkota yang memalukan ini demi Engkau, O, Yesus, yang telah mengenakan mahkota duri untukku"'

 

Setelah itu, "para pejabat tinggi gereja berkata, `Sekarang kami serahkan jiwamu kepada Setan.' `Dan saya,' kata John Huss, dengan menengadah ke langit, `menyerahkan rohku kedalam tangan-Mu, O, Tuhan Yesus, oleh karena Engkau telah menebus aku."'- Wylie, b. 3, psl. 7.

 

Sekarang ia diserahkan kepada pejabat-pejabat pemerintah, dan dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Suatu arak-arakan besar mengikuti dia, ratusan orang bersenjata, para imam dan para uskup dengan berpakai­an yang mahal-mahal, dan penduduk kota Constance. Pada waktu ia diikat ke tiang gantungan, dan semua sudah siap untuk menyalakan api, orang martir (mati syahid) ini sekali lagi diimbau untuk menyelamatkan dirinya dengan meninggalkan kesalahannya. -"Kesalahan apa," kata Huss, "yang saya harus tinggalkan? Saya tahu saya tidak bersalah. Saya memohon Allah untuk menyaksikan bahwa semua yang saya telah tuliskan dan khotbahkan adalah demi penyelamatan jiwa-jiwa dari dosa dan kebinasaan. Dan oleh sebab itu, dengan sangat senang saya akan pastikan dengan darahku, kebe­naran yang telah kutuliskan dan kukhotbahkan. "-Wylie, b. 3, psl 7. Ketika api menyala disekelilingnya, ia mulai menyanyi, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku," dan demikianlah seterusnya ia menyanyi sampai suaranya terdiam untuk selamanya.

 

Musuh-musuhnya sendiri pun merasa terpukul melihat keperkasaannya. Seorang pengikut paus yang bersemangat, menerangkan kematian Huss dan Jerome, yang mati segera sesudah itu, demikian: "Mereka berdua menetapkan hati pada waktu saat-saat terakhir datang menjelang. Mereka telah bersedia menghadapi api itu seperti mereka menghadapi pesta perni­kahan. Mereka tidak mengeluh kesakitan. Ketika nyala api menjulang, mereka menyanyikan nyanyian puji-pujian. Dan kehebatan api tidak dapat menghentikan nyanyian mereka."-Wylie, b.3, psl. 7.

 

Setelah tubuh Huss seluruhnya hangus terbakar, maka abunya bersama tanah tempat abu itu, dikumpulkan dan dibuangkan ke Sungai Rhine, yang kemudian dihanyutkan arus ke laut. Para penganiaya membayangkan bahwa mereka telah berhasil membasmi kebenaran yang telah dikhotbahkan Huss. Tidak terbayang bagi mereka bahwa abu jenazah yang dihanyutkan arus ke laut akan menjadi benih yang tersebar ke-seluruh negeri di dunia ini. Dan bahwa negeri yang belum diketahui itu akan memberikan buah-buah yang limpah sebagai saksi kebenaran.

 

Kata-kata yang diucapkan di gedung konsili di Constance telah mem­bahana, dan gaungnya akan terdengar sampai ke masa-masa yang akan datang. Huss tidak ada lagi, tetapi kebenaran yang diperjuangkannya de­ngan kematiannya tidak akan pernah binasa. Teladan iman dan ketetapan hatinya akan mendorong banyak orang untuk berdiri teguh demi kebenar­an, dalam menghadapai siksaan dan kematian. Kematiannya telah mem­beberkan kepada seluruh dunia tentang kekejaman pengkhianatan Roma. Musuh-musuh kebenaran, meskipun mereka tidak menyadarinya, telah memajukan kebenaran itu, yang dengan sia-sia mereka berusaha memusnah­kannya.

 

 

Satu lagi tiang gantungan pembakaran akan didirikan di kota Constance. Darah saksi yang lain harus menyaksikan kebenaran itu. Jerome, yang mengucapkan selamat jalan kepada Huss waktu ia pergi untuk menghadiri konsili, telah mendorong semangat dan menguatkan pendirian Huss. Jerome menyatakan akan datang menolongnya jika Huss harus menghadapi baha­ya. Setelah mendengar penahanan Pembaru itu, murid yang setia ini segera menyiapkan diri memenuhi janjinya. Tanpa surat jaminan keamanan ia berangkat ke Constance dengan seorang teman. Setelah tiba di Constance ia merasa pasti bahwa ia hanya membuka dirinya kepada bahaya tanpa adanya kemungkinan bisa berbuat sesuatu untuk melepaskan Huss. Ia melarikan diri dari kota itu, tetapi tertangkap dalam perjalanan pulang. Ia dibawa kembali ke Constance dengan dirantai dan dengan pengawalan sepasukan tentara. Pada penampilan pertama di konsili, dalam usahanya menjawab tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya, telah disambut dengan teriakan, "Bakar dia! bakar dia!" Bonnechose, Md. l, hlm. 234. la dijebloskankan kedalam penjara bawah tanah, dirantai dalam posisi yang menyebabkannya sangat menderita, dan diberi makan roti dan air saja. Setelah beberapa bulan kekejaman yang dilakukan kepada Jerome, ia men derita penyakit yang mengancam nyawanya. Musuh-musuhnya takut ka­lau-kalau ia melarikan diri, memperlakukannya tidak sekejam sebelum­nya, meskipun ia tetap meringkuk dalam penjara selama setahun.

 

Kematian Huss tidak berakibat seperti yang diharapkan oleh pengikut-­pengikut kepausan. Pelanggaran terhadap surat jaminan keamanan telah membangkitkan badai kemarahan. Dan sebagai cara yang lebih aman, konsili memutuskan untuk memaksa Jerome, kalau mungkin, untuk menarik mun­dur pernyataannya, sebagai ganti membakarnya. Ia dibawa menghadap mahkamah, dan memberikan pilihan untuk menarik kembali pernyataannya, atau mati di tiang gantungan pembakaran. Kematian pada permulaan penahanannya adalah merupakan belas kasihan jika dibandingkan dengan penderitaan hebat yang telah dialaminya. Tetapi sekarang, setelah dilemah­kan oleh penyakit, keangkeran penjara, siksaan kecemasan dan ketegangan, dipisahkan dari teman-temannya, dan terpukul oleh kematian Huss, maka keteguhan hati Jerome pun luluhlah sudah. Dan ia setuju untuk menyerah kepada konsili. Ia berjanji kepada dirinya untuk mematuhi imam Katolik, dan menerima tindakan konsili dalam melarang ajaran-ajaran Wycliffe dan Huss, namun kecuali " kebenaran kudus," yang mere­ka telah ajarkan. Bonnechose, Jid.11, hlm. 141.

 

Dengan cara ini Jerome berusaha untuk mendiamkan suara hati nuraninya dan melepaskan diri dari kebinasannya. Akan tetapi di dalam keterasing­annya di penjara bawah tanah ia melihat lebih jelas apa yang telah dilaku­kannya. Ia merenungkan keberanian dan kesetiaan Huss, bertolak belakang dengan penyangkalannya akan kebenaran. Ia merenungkan Tuhannya yang kepada-Nya ia telah berjanji untuk melayani, dan demi kepentingannya sendiri bersedia menanggung kematian di kayu salib. Sebelum menarik kembali pernyataannya ia memperoleh penghiburan atas semua penderita­annya, dan kepastian memperoleh kasih Allah. Tetapi sekarang, penyesal­an yang dalam dan keragu-raguan menyiksa jiwanya. Ia tahu bahwa masih banyak penarikan pernyataan yang harus dilakukannya sebelum ia berdamai dengan Roma. Jalan yang sekarang akan ia lalui bisa berakhir hanya dengan kemurtadan penuh. Akhirnya ia membuat keputusan:  ia tidak akan me­nyangkal Tuhannya hanya untuk kelepasan sementara dari penderitaan. Kemudian ia dibawa kembali menghadap konsili. Penyerahannya belum

memuaskan para hakimnya. Kehausan mereka akan darah yang dirang­sang oleh kematian Huss, mendesak mereka untuk mendapatkan korban baru. Hanya dengan penyerahan tanpa syarat Jerome dapat mempertahankan hidupnya. Tetapi ia telah berketetapan untuk berpegang pada imannya, dan mengikuti jejak saudara martirnya, Huss, ke pembakaran.

 

Ia membatalkan penarikan pernyataannya yang sebelumnya. Dan seba­gai seorang yang sedang sekarat, dengan sungguh-sungguh ia memohon kesempatan untuk memberikan pembelaannya. Takut akan pengaruh kata-­katanya, para pejabat tinggi gereja bertahan agar ia hanya menguatkan atau menolak kebenaran tuduhan yang dituduhkan kepadanya. Jerome memprotes perlakuan yang begitu kejam dan tidak adil. "Kalian telah me­nutup saya di penjara yang mengerikan selama tiga ratus empat puluh hari," katanya, "di tengah-tengah kekotoran, di dalam ruangan yang pengap dan bau busuk, dan di mana sangat kekurangan segala sesuatu. Dan sekarang kamu membawa saya menghadap dan mendengarkan musuh-musuhku , tetapi kalian  tidak mau mendengarkan saya .... Jikalau kalian benar-benar orang bijaksana dan terang dunia ini, hati-hatilah jangan berdosa kepada keadiIan. Bagiku, saya hanya seorang manusia yang lemah. Hidupku tidak begitu penting. Dan bilamana saya mengimbau kalian agar jangan mengu­capkan satu pun kalimat yang tidak adil, saya bukan berkata-kata untuk diriku, tetapi untuk kalian." Ibid, hlm. 146, 147.

 

Akhirnya permohonannya disetujui. Di hadapan hakimnya Jerome ber­lutut dan berdoa agar Roh Ilahi dapat kiranya menguasai pikirannya dan kata-katanya, agar ia dapat berbicara dengan tidak bertentangan dengan kebenaran ataupun jangan sampai tidak menghormati Tuhannya. Baginya pada hari itu telah digenapi janji Allah kepada murid-murid yang, pertama itu: "Karena Aku kamu akan digiring kemuka penguasa-penguasa dan raja-raja .... Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagai­mana dan akan apa yang kamu harus katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang ber­kata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang berkata-kata di dalam kamu" (Matius 10:18-20).

 

Kata-kata Jerome menimbulkan keheranan dan kekaguman kepada semua orang, juga kepada musuh-musuhnya. Karena sepanjang tahun ia telah dikurung di dalam penjara bawah tanah, ia tidak bisa membaca bahkan melihat. Ia menanggung penderitaan fisik yang berat dan kecemasan mental. Namun argumen-­argumennya disampaikan dengan begitu jelas dan dengan kuasa seolah­-olah ia tidak pernah mengalami gangguan kesempatan belajar. Ia menun­jukkan kepada para pendengarnya barisan panjang orang-orang kudus yang telah dihukum oleh hakim-hakim yang tidak adil. Hampir di setiap generasi terdapat orang-orang yang, sementara berusaha mengangkat derajat orang-­orang pada zamannya, telah dipersalahkan dan dibuang, tetapi yang di ke­mudian hari ternyata berhak mendapat kehormatan. Kristus sendiri telah  dihukum sebagai penjahat oleh pengadilan yang tidak adil.

 

Pada waktu Jerome menarik kembali pernyataannya, ia setuju dengan keputusan pengadilan yang menghukum mati Huss. Tetapi sekarang ia menyatakan pertobatannya, dan bersaksi mengenai ketidak bersalahan dan kesalehan orang yang mati syahid itu. "Saya mengenal dia sejak masa kanak-­kanaknya," katanya. "Ia adalah orang yang paling balk, jujur dan saleh. Ia telah dihukum walaupun ia tidak bersalah .... Saya juga, saya sudah sedia untuk mati. Saya tidak akan mundur menghadapi siksaan yang telah dise­diakan bagiku oleh musuh-musuhku dan para saksi palsu. Pada suatu hari kelak, mereka akan mempertanggung-jawabkan semua perbuatan tipuan mereka di hadirat Allah Yang Mahaagung, yang tak seorang pun bisa me­nipu."-Ibid, hlm. 151.

 

Dalam penyesalan dirinya sendiri karena menyangkal kebenaran, Jerome selanjutnya berkata, "Dari semua dosa yang saya lakukan sejak masa mudaku, tidak ada yang lebih berat membebani pikiranku dan yang menyebabkanku begitu sangat menyesal, daripada apa yang kulakukan di tempat celaka ini, pada waktu aku menyetujui keputusan yang tidak adil yang dijatuhkan kepada Wycliffe, dan kepada syuhada saleh John Huss, tuanku dan sahabatku. Ya! Saya mengakuinya dari dalam hatiku, dan me­nyatakan dengan kengerian bahwa saya merasa malu dan takut pada waktu saya mempersalahkan. ajaran-ajaran mereka oleh karena takut mati. Oleh sebab itu, saya memohon ... Allah Mahakuasa sudi mengampuni aku dari dosa-dosaku, terutama yang satu ini, yang paling mengerikan dari semua."  SambiI menunjuk kepada hakimhya, ia berkata dengan tegas, "Kamu telah mempersalahkan Wycliffe dan John Huss, bukan karena mereka menggoncangkan doktrin gereja, tetapi hanya oleh karena mereka  mengutuk kejahatan yang dilaku­kan para imam, kesombongan dan keangkuhan mereka, dan semua kebusukan para pejabat tinggi gereja dan para imam. Hal-hal yang mereka sudah kuatkan, yang tidak dapat dibantah lagi, saya juga berpikir dan me­ngatakan demikian, seperti mereka."

 

Kata-katanya disela. Para pejabat tinggi gereja gemetar dalam kemarah­annya, dan berteriak, "Bukti-bukti apa lagi yang diperlukan? Kita telah melihat dengan mata kepala kita sendiri seorang bidat yang keras kepala!"

Tanpa terpengaruh oleh keributan itu, Jerome menyerukan, "Apa? Apa­kah kamu menyangka saya takut mati? Kamu telah mengurung saya dipenjara bawah tanah yang mengerikan setahun penuh, yang lebih me­ngerikan dari kematian itu sendiri. Kamu telah memperlakukan saya lebih buruk dari orang-orang Turki, Yahudi atau orang kafir. Dan dagingku se­benarnya telah membusuk dan terlepas dari tulang-tulangku selagi saya masih hidup. Namun begitu, saya tidak mengeluh, karena ratap tangis akan menyakitkan hati dan jiwa. Tetapi saya tak dapat mengutarakan keherananku atas kebiadaban besar seperti itu terhadap seorang Kristen." Ibid, hlm. 151-153.

 

Sekali lagi topan amarah meledak, dan Jerome dilarikan ke penjara. Na­mun ada beberapa orang di dalam mahkamah yang sangat terkesan dengan kata-kata Jerome, dan yang ingin untuk meyelamatkan nyawanya. Ia dikunjungi oleh para pejabat tinggi gereja dan mendorongnya untuk menyerahkan dirinya kepada konsili. Hari depan yang paling gemilang te­lah ditawarkan kepadanya sebagai imbalannya jika ia meninggalkan perlawanannya kepada Roma. Tetapi seperti Tuhannya pada waktu dita­warkan kemuliaan dunia, Jerome tetap teguh menolak.

 

"Butikanlah kepadaku dari Alkitab bahwa saya ini salah," katanya, "dan saya akan meninggalkannya untuk selama-lamanya."

"Alkitab!" Seru seorang yang mencobainya, "apakah semuanya harus diadili oleh Alkitab? Siapa yang bisa mengertinya sampai gereja menafsir­kannya?

"Apakah tradisi manusia lebih layak untuk dipercaya daripada Injil Juruselamat kita?" jawab Jerome. "Paulus tidak menasihatkan orang-orang yang dikirimi surat untuk mendengarkan tradisi manusia, tetapi katanya, `Selidikilah Alkitab."'

“Bidat !” teriak seseorang, "Saya menyesal telah membujuk engkau begi­tu lama. Saya melihat bahwa engkau telah didorong oleh Setan."-Wylie, b. 3, psl. 10. .

Tidak lama kemudian keputusan hukuman mati dijatuhkan kepadanya. Ia dituntun ke tempat yang sama di mana Huss menyerahkan nyawanya. Sepanjang jalan ia menyanyi, wajahnya bercahaya penuh sukacita dan ke­damaian. Pandangannya tertuju kepada Kristus, dan baginya kematian te­lah kehilangan kengeriannya. Pada waktu petugas, yang hampir menyala­kan onggokan kayu api, berjalan dibelakangnya, syuhada itu berkata, "Ma­julah dengan berani, taruhlah api itu diwajahku. Kalau saya takut saya tidak akan berada di sini."

 

Kata-katanya yang terakhir yang diucapkan sementara nyala api membesar disekelilingnya adalah sebuah doa, "Tuhan Yang Mahakuasa," katanya, "kasihanilah saya, dan ampunilah dosa-dosaku, karena Engkau tahu, saya selalu mencintai kebenaran-Mu." Ibid, him. 168. Suaranya lenyap, teta­pi bibirnya tetap komat-kamit berdoa. Setelah api membakar seluruh tubuhnya, abu syuhada itu bersama tanah tempatnya, dikumpulkan dan, seperti abu jenazah Huss; dibuangkan ke Sungai Rhine.

 

Demikianlah binasa para pembawa terang Allah yang setia. Tetapi te­rang kebenaran yang disiarkan mereka, terang teladan keperkasaan mereka tidak bisa dipadamkan. Bagaikan manusia yang paling kuat berusaha me­nahan peredaran matahari agar matahari fajar tidak menyingsing, tetapi bagaimana pun juga, fajar tetap terbit bagi dunia. Pelaksanaan hukuman mati Huss telah menyulut api kemarahan dan kengerian di Bohemia. Hal itu dirasakan segenap bangsa itu, bahwa ia telah menjadi mangsa kebenaran para imam dan pengkhianatan kaisar. Ia dinyatakan sebagai seorang guru kebenaran yang setia, dan konsili yang memutuskan hukuman mati itu dituduh bersalah sebagai pembunuh. Ajaran-ajaran Huss sekarang menarik perhatian orang lebih banyak daripada sebelumnya. Atas perintah kepausan tulisan-tulisan Wycliffe telah dibakar. Tetapi yang lolos dari pemusnahan sekarang dibawa keluar dari tempat persembunyiannya dan dipelajari ber­sama Alkitab, atau bagian-bagiannya yang bisa didapat. Dan banyaklah yang dituntun menerima iman yang diperbarui itu.

 

Para pembunuh Huss tidak tinggal diam dan menyaksikan kemenangan­-kemenangan Huss. Paus dan kaisar bersatu untuk menumpas gerakan itu, dan tentara Sigismund menyerang Bohemia.

 

Tetapi bangkit seorang penyelamat. Ziska, yang segera sesudah perang mulai telah menjadi buta sama sekali, namun ia adalah seorang jenderal yang paling mahir pada zamannya, dan menjadi pemimpin orang Bohemia. Percaya pada pertolongan Allah dan kebenaran perjuangan mereka, membuat orang-­orang dapat menahan tentera musuh yang kuat yang menyerang mereka. Berulang-ulang kaisar mengirim tentera baru untuk menyerang Bohemia hanya untuk dipukul mundur secara memalukan. Pengikut-pengikut Huss sekarang tidak takut mati, dan tak ada yang tahan melawan mereka. Bebe­rapa tahun setelah perang meletus, Ziska, si pemberani itu wafat. Tetapi tempatnya digantikan oleh Procopius, yang juga adalah seorang jenderal pemberani dan trampil, dan dalam berbagai hal, seorang pemimpin yang lebih berkemampuan.

 

Musuh-musuh orang Bohemia, mengetahui bahwa pejuang yang buta itu telah meninggal, merasa sudah saatnya untuk menebus kekalahan mereka selama ini. Paus mengumumkan perang suci melawan pengikut-pengikut Huss. Dan tentara yang besar jumlahnya segera dikirimkan menyerang Bohemia, tetapi hanya untuk menderita kekalahan yang mengerikan. Pe­rang suci lain diumumkan. Di semua negara kepausan di Eropa, tentara, uang dan perlengkapan perang dikumpulkan. Orang banyak berduyun-duyun menggabungkan diri ke bawah panji-panji kepausan. Mereka merasa pasti bahwa akhimya para bidat pengikut Huss akan dapat ditumpas. Dengan keyakinan akan menang, pasukan besar itu pun memasuki Bohemia. Orang-­orang Bohemia bertempur mengusir mereka. Kedua pasukan saling men­dekat, sehingga hanya dipisahkan oleh sebuah sungai saja. "Tentara kepausan jauh lebih unggul, tetapi sebagai gantinya mereka langsung menyeberangi sungai untuk memerangi pengikut-pengikut Huss, mereka berdiri meman­dangi dengan diam prajurit-prajurit Huss. Sebenarnya mereka jauh-jauh datang hanya untuk memerangi pengikut-pengikut Huss ini."-Wylie, b. 3, psl. 17. Tiba-tiba ketakutan yang misterius melanda pasukan kepausan. Tanpa membuat sesuatu untuk melawan, pasukan yang kuat ini tercerai-berai dihalau oleh kekuatan yang tidak kelihatan. Banyak yang ditumpas oleh pasukan pengikut-pengikut Huss, yang mengejar musuh yang lari itu. Dan banyaklah barang-barang rampasan yang jatuh ke tangan pasukan yang menang, sehingga sebagai gantinya, perang-itu membuat kemiskinan, justru membuat orang-orang Bohemia lebih kaya.

 

Beberapa tahun kemudian, perang suci yang lain direncanakan di bawah pimpinan paus yang baru. Seperti yang sebelumnya, tentara dan peralatan diambil dari negara-negara kepausan di Eropa. Banyaklah janji diberikan untuk membujuk orang-orang untuk bergabung kepada pekerjaan yang berbahaya ini. Pengampunan penuh atas kejahatan yang paling keji telah dijanjikan bagi setiap orang tentara kepausan. Semua yang tewas dalam peperangan itu dijanjikan upah besar di suara dan mereka yang selamat akan memperoleh penghormatan dan kekayaan di medan pertempuran. Sekali lagi pasukan besar telah terkumpul, dan melintasi perbatasan me­masuki Bohemia. Pasukan pengikut Huss menggunakan taktik mundur di hadapan pasukan penyerang, sehingga musuh semakin jauh masuk ke negeri itu. Hal ini membuat penyerang mengira bahwa mereka telah meme­nangkan peperangan. Akhirnya tentara Procopius bertahan dan berbalik menghadapi musuh, maju menyerang mereka. Tentara musuh, menyadari kesalahannya, menunggu serangan di perkemahannya. Sementara suara pasukan yang mendekat terdengar, bahkan sebelum pasukan pengikut Huss terlihat, kembali kepanikan melanda pasukan kepausan. Para pangeran, para jenderal dan tentara biasa membuangkan senjata mereka, lalu lari ke segala penjuru. Sia-sia utusan kepausan, yang memimpin penyerangan itu, ber­usaha untuk mengumpulkan pasukannya yang sudah ketakutan dan kucar-­kacir tak teratur lagi itu. Walaupun ia berusaha keras, ia sendiri pun juga ikut hanyut dalam arus pelarian. Kekalahan itu sempurna. Dan sekali lagi barang-barang rampasan yang banyak jatuh ke tangan pemenang.

 

Demikianlah untuk kedua kalinya pasukan yang jumlahnya besar, yang dikirim oleh bangsa-bangsa kuat di Eropa, pasukan berani yang siap tempur, dan yang dilatih serta diperlengkapi

untuk berperang, lari tanpa perlawanan dari hadapan para pembela bangsa yang kecil dan lemah. Di sinilah mani­festasi kuasa Ilahi. Para penyerang telah dipukul mundur dengan teror gaib. Ia yang mengalahkan tentara Firaun di Laut Merah, yang membuat lari tentara Midian dari hadapan Gideon dan pasukannya yang berjumlah tiga ratus orang itu, yang pada suatu malam melumpuhkan pasukan Assur yang angkuh, kembali merentangkan tangan-Nya melumpuhkan kekuatan penindas. "Di sanalah mereka di timpa kejutan yang besar, padahal tidak ada yang mengejutkan; sebab Allah menghamburkan tulang-tulang para pengepungmu; mereka akan dipermalukan, sebab Allah telah menolak mereka" (Mazmur 53:5).

 

Setelah putus asa tidak berhasil menguasai Bohemia dengan kekuatan senjata, para pemimpin kepausan akhirnya menggunakan saluran-saluran diplomasi. Mereka mengadakan kompromi. Sementara mereka mengata­kan memberikan kemerdekaan hati nurani kepada Bohemia, tetapi sebe­narnya mereka dikhianati untuk masuk ke dalam kekuasaan Romawi. Orang-­orang Bohemia mengajaukan empat tuntutan sebagai syarat perdamaiannya dengan Roma: Kebebasan mengkhotbahkan Alkitab;  hak seluruh jemaat atas roti dan anggur dalarn perjamuan kudus dan penggunaan bahasa sen­diri dalam perbaktian llahi;  penarikan imam-imam dari kuasa dan jabatan pemerintahan;  dan dalam hal perkara kejahatan, juridiksi pengadilan sipil sama terhadap para pendeta clan orang awam. Penguasa kepausan akhirnya "menyetujui menerima keempat tuntutan pengikut-pengikut Huss, akan te­tapi hak untuk menjelaskannya, yaitu menentukan makna yang sebenar­nya, haruslah menjadi hak konsili-dengan perkataan lain, hak paus dan hak kaisar."-Atas dasar ini dibuatlah suatu perjanjian. Dengan menyem­bunyikan tipu muslihatnya dan kecurangannya Roma memperoleh apa yang tidak bisa diperolehnya dengan peperangan, oleh karena, dengan memberi­kan interpretasinya atas tuntutan pengikut Huss itu, seperti juga atas Alkitab, ia dapat memutarbalikkan artinya sesuai dengan maksud dan kemauannya.

 

Segolongan besar orang di Bohemia, yang melihat bahwa kemerdekaan mereka telah dikhianati, tidak setuju dengan perjanjian itu. Timbullah perselisihan dan perpecahan yang menjurus kepada bentrokan dan pertum­pahan darah di antara mereka sendiri. Dalam perselisihan ini bangsawan Procopius jatuh, dan lenyaplah kebebasan Bohemia.

 

Sigismund, pengkhianat Huss dan Jerome, sekarang menjadi raja Bo­hemia. Dan tanpa mengingat sumpahnya untuk mendukung hak-hak orang Bohemia, ia mulai mendirikan kepausan. Tetapi ketakutannya kepada Roma tidak memberi keuntungan banyak baginya. Selama dua puluh tahun kehi dupannya telah dipenuhi dengan kerja keras dan bahaya. Bala tentaranya dikalahkan dan hartanya habis terkuras oleh perjuangan yang lama dan yang tak membawa hasil. Dan sekarang, setelah ia memerintah selama se­tahun ia pun mangkat, meninggalkan kerajaannya di tepi jurang perang saudara, dan mewariskan kepada generasi yang akan datang suatu nama kekejian.

 

Kerusuhan, perselisihan, dan pertumpahan darah berkepanjangan. Sekali lagi pasukan dari luar menyerang Bohemia, dan perselisihan di dalam ne­geri berlanjut mengalihkan perhatian bangsa itu. Mereka yang tetap setia kepada Injil dihadapkan kepada penganiayaan berdarah.

 

Sementara saudara-saudara mereka yang terdahulu, mengadakan per­janjian dengan Roma, dan menelan kesalahannya, mereka yang memberi perhatian kepada iman yang mula mula itu membentuk suatu gereja yang berbeda sifatnya, yang diberi nama, "United Brethren" (Perserikatan Saudara-saudara). Tindakan ini mengundang kutukan dari semua golongan kepada mereka. Namun, mereka tidak dapat digoyahkan. Meskipun ter­paksa mencari perlindungan di hutan-hutan dan di gua-gua, mereka masih tetap berkumpul untuk membawa firman Allah dan bersatu dan berbakti bersama kepada Tuhan.

 

Melalui pesuruh-pesuruh yang dikirim secara rahasia ke berbagai negeri, mereka mengetahui bahwa di sana-sini terdapat "saksi-saksi kebenaran yang terpisah-pisah, sedikit di kota ini dan sedikit di sana yang menjadi sasaran penganiayaan seperti mereka. Dan di tengah-tengah Pegunungan Alpen ada gereja tua; yang beralaskan Alkitab, dan yang memprotes kebejatan moral Roma."-Wylie, b. 3, ps1.19. Pesuruh-pesuruh rahasia ini telah diterima dengan sukacita yang besar, dan surat menyuratpun diadakan dengan orang Kristen Waldensia.

 

Sambil tetap teguh berpegang kepada Injil, orang-orang Bohemia menunggu sepanjang malam penganiayaan mereka. Di malam yang paling gelap mereka masih mengalihkan matanya ke ufuk timur seperti orang-­orang yang sedang menantikan terbitnya matahari pagi. "Mereka meng­alami nasib buruk pada hari-hari yang jahat, tetapi ... mereka mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Huss, dan yang diulangi oleh Jerome, bah­wa seabad harus-berlalu sebelum fajar menyingsing. Kata-kata ini ditujukan kepada bangsa-bangsa di dalam perhambaan: `Saya akan mati, dan Allah pasti akan melawat kamu, dan membawa kamu keluar."' Ibid, b. 3, psl. 19. "Selama masa penutupan abad kelima belas terlihat perkembangan yang lambat tetapi pasti dari gereja Brethren. Walaupun tidak jauh dari ganggu­an, namun mereka masih mengalami kedamaian yang sebanding. Pada permulaan abad keenam belas, gereja mereka telah berjumlah dua ratus gereja di Bohemia dan Moravia."-Gillett, "Life and Times of John Huss," jld. II, hlm.,570. "Betapa bersukacitanya perasaan umat yang sisa, yang terlepas dari keganasan api dan pedang; melihat terbitnya fajar yang telah diramalkan oleh Huss."-Wylie, b. 3, ps1.19.

 

 

Lampiran 1

SURAT PENGAMPUNAN DOSA - Lihat catatan bab 3 "Zaman Kegelapan Rohani - Lampiran 7" 

 

Lampiran 2

KONSILI CONSTANCE - Mengenai Konsili Constance oleh Paus Yohanes XXIII, atas desakan kaisar Sigismund, lihat Mosheim “Ecclesiastical History,” bk 3, cent 15, part 2, ch 2, sec 3.

J. Dowling, “History of Romanism,” bk 6, ch 2, par 13

A. Bower, “Hostory of the popes,” vol VII, pp 141-143 (London 1766)

Neander, “History of the Christian Religion and Church,” period 6, sec 1 (1854)

 

 

 

| Home | Persepsi baru | Khayal Daniel | Bait Suci | Yang Tertinggal | Sabat ke Minggu | Istirahat Ilahi |