Home       

 

      Daftar Artikel       

 

Apakah Semua Daging Binatang Halal Dimakan ?

 

Banyak orang Kristen tidak mengetahui bahwa Tuhan sudah merancang makanan yang terbaik bagi manusia. Bermula di taman Eden sebelum manusia jatuh dalam dosa, Tuhan memberikan buah-buahan dan biji-bijian sebagai makanan (Kej 1:29). Setelah jatuh ke dalam dosa, makanan manusia pun turut "jatuh" sehingga memakan juga tumbuh-tumbuhan di padang (Kej 3:18), yang sebelumnya untuk binatang (Kej 1:30). Terlebih pada waktu air bah, kesulitan mendapatkan bahan makanan tersebut di atas, maka Tuhan mengijinkan hanya daging binatang-binatang tertentu yang dapat dimakan (Kej 7:2). Tidak semua daging binatang layak untuk dikonsumsi. Karena tubuh kita adalah baitNya yang diciptakan secara khusus, maka seharusnya kita hanya memasukkan apa yang baik dan berguna bagi tubuh kita. Untuk mempelajari hal ini lebih lanjut, silakan baca dalam ""Tubuhku BaitNya".

Dunia saat ini umumnya (diluar ajaran agama) sudah tidak memperdulikan lagi mengenai aturan tersebut. Terlebih di saat krisis, alternatif-alternatif daging binatang yang bisa dikonsumsi bermunculan. Persoalan jijik atau tidak dianggap persoalan pribadi. Bisa saja seseorang menganggap daging belut, babi, bekicot adalah menjijikkan, tapi bagi yang lain itu merupakan santapan yang enak. Bahkan banyak umat Kristen pun mengganggap bahwa Tuhan Yesus sendiri mengijinkan kita untuk memakan daging apa saja. Benarkah demikian ? Di bawah ini kami sajikan tulisan dari Pdt. Hemat Sibuaea, semoga menjadi berkat.

 

APAKAH KITAB PERJANJIAN BARU

SUDAH MENGHALALKAN DAGING HARAM?

Pdt. Hemat Sibuea, MPTh

Perbedaan pendapat dan pandangan adalah sesuatu yang lazim terjadi sebagai konsekwensi dinamika pemikiran yang progresif. Pemikiran manusia yang beraneka ragam ini dapat menjadi aset untuk memperkaya wawasan kita dalam menyikapi suatu pokok pemikiran. Oleh karena itu perbedaan pendapat tidak perlu membuat kita menutup diri. Sebaliknya, hal itu akan memacu kita untuk belajar lebih dalam. Rasul Paulus berkata: "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." 1 Tesalonika 5:21. Segala sesuatu perlu kita uji sebelum menerimanya. Dengan apakah kita akan mengujinya? Jawabnya tentu dengan Alkitab. Sebab Alkitab adalah Firman Tuhan yang menuntun kepada kebenaran (Yohanes 17:17). Selain itu kita memerlukan tuntunan Roh Kudus (2 Petrus 1:20-21).

 

Pembahasan kali ini adalah sesuatu yang cukup menarik untuk kita simak. Pokok pembahasannya ialah APAKAH KITAB PERJANJIAN BARU SUDAH MENGHALALKAN DAGING HARAM ? Berbicara tentang makanan adalah penting karena ada hubungannya dengan memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31). Makanan sangat erat hubungannya dengan kesehatan tubuh. Kesehatan tubuh juga dapat mempengaruhi kerohanian. Tentu Tuhan sangat senang bila umatNya selalu sehat. Yohanes berkata kepada Gayus: "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja." 3 Yohanes 1:2. Karena makanan begitu erat hubungannya dengan kesehatan sehingga Tuhan telah memilih makanan terbaik bagi manusia segera setelah diciptakan. Tuhan Allah berfirman: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu." Kejadian 1:29. Menu pilihan Allah ini dapat disebut dengan istilah "menu orisinil". Tuhan berkata: "Lihatlah". Artinya, umat Tuhan perlu melihat lebih dahulu sebelum memakan sesuatu. Dengan kata lain, jangan sembarang makan. Jika kita mau mendengar firman Tuhan, baiklah kita membuka mata kita lebih dahulu dan melihat menu makanan pilihan Allah tersebut. Apakah ada daging hewan di sana? Tidak ada! Tentu Tuhan mengasihi nyawa hewan sehingga kita tidak perlu membunuh hewan untuk makanan.

 

Kalau demikian, sejak kapankah Tuhan mengizinkan manusia memakan daging hewan? Bila kita mengikuti sejarah Alkitab maka kita dapati bahwa Allah mengizinkan manusia memakan daging hewan yaitu setelah peristiwa Air Bah. Setelah Nuh dan keluaraganya keluar dari dalam bahtera, mereka tidak lagi menemukan menu makanan orisinil pilihan Allah. Sejak itu, Tuhan berfirman tentang makanan untuk yang selanjutnya selain yang ada di dalam Kejadian 1:29; 3:18). Allah berkata: "Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan." Kejadian 9:3-4.

 

Tentulah daging binatang yang dimakan oleh umat Allah sesudah Air Bah itu adalah daging binatang halal. Karena sebelumnya, Nuh telah memahami tentang daging binatang yang halal dan daging binatang yang haram. Sebab Tuhan berfirman: "Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya." Kejadian 7:2. Adalah tidak mungkin jika Nuh menyembelih binatang yang haram untuk dimakan karena hal itu akan berarti kepunahan mengingat binatang haram yang masuk ke dalam bahtera itu hanya satu pasang. Tentu Tuhan tidak setuju dengan pemunahan keturunan hewan yang haram tersebut. Sebab tentang hewan tersebut Tuhan berkata: "Supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi." Kejadian 7:3.

 

Kemudian Allah menegaskan tentang larangan memakan daging binatang haram dalam Imamat 11: 1-37. Sekalipun daging binatang bukan makanan orisinil namun kenyataannya manusia sudah menyukai makanan tersebut. Sekarang, Tuhan tidak dapat lagi melarang umatNya memakan daging binatang demi menu dalam Kejadian 1:29. Hanya Tuhan masih dapat melarang umat umatNya memakan daging binatang yang haram. Menyentuh bangkainya sajapun tidak diizinkan oleh Allah (Imamat 11:8). Bila hal ini kita fahami dengan baik maka kita akan lebih mudah memahami pembahasan kita selanjutnya.

 

Setelah kita memandang dari sudut sejarah atau kronologi dari Perjanjian Lama, maka sekarang kita akan meninjau dari sudut pandang Perjanjian Baru. Telah terjadi perbedaan pendapat di antara para pelajar Alkitab sehubungan dengan daging binatang halal dan daging binatang haram. Ada mengajarkan bahwa peraturan mengenai daging binatang halal dan daging binatang haram hanya didapati di buku Perjanjian Lama dan hanya berlaku pada masa Perjanjian Lama sedangkan di masa Perjanjian Baru semua daging binatang sudah menjadi halal. Bahkan ada juga yang mengutip dari Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa larangan memakan daging yang haram sudah tidak ada lagi meskipun masih zaman Perjajian Lama. Menguatkan argumen ini mereka mengutip Kejadian 9:3 "Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau." Ayat ini telah ditafsirkan bahwa apa saja yang bergerak boleh dimakan. Apakah daging hewan yang dinyatakan haram oleh Allah boleh dimakan manusia hanya karena hewan tersebut bergerak dan hidup? Jika tidak demikian, apakah arti ayat di atas? Istilah bergerak yang diizinkan Tuhan sebagai makanan adalah untuk membedakannya dari makanan yang tidak bergerak yaitu tumbuh-tumbuhan yang pertama kali dianjurkan Tuhan sebagai makanan manusia. Bukan berarti apa saja yang bergerak boleh dimakan.

 

Berbagai alasan telah dibuat oleh para pelajar Alkitab untuk mengatakan semua daging binatang adalah halal setelah di zaman Perjanjian Baru. Mereka mengutip ayat-ayat Alkitab untuk menguatkan alasan mereka tersebut. Namun bila ayat-ayat yang dikutip tersebut dipelajari kembali dengan teliti maka kita dapati berbagai ketimpangan. Ketimpangan yang dimaksud ialah mengutip ayat Alkitab tersebut keluar dari konteksnya dan mungkin juga masalah terjemahan yang sangat mempengaruhi maksud dari ayat-ayat tersebut.

 

Pada kesempatan ini kita akan membahas kembali beberapa ayat yang sering menjadi fokus perdebatan sehubungan dengan daging binatang halal dan daging binatang haram. Kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus menerangi hati dan pikiran kita. Pemahaman kita perlu didasari dengan Pure Logic dan Pure Faith. Dengan demikian pertimbangan kita tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadi atau golongan atau sekte tertentu. Alkitab harus di atas segalanya. Tuhan berkata kepada Musa: "tanggalkanlah kasutmu dari kakimu" Keluaran 3:5. Mari kita tangggalkan lebih dahulu tradisi dan pendapat manusia yang tidak berdasarkan Firman Tuhan supaya kita dapat menerima Firman Tuhan dengan baik sebagaimana yang tertulis dalam Kitab Suci.

 

Sebelum melanjutkan pembahasan ini alangkah baiknya bila kita menyatukan persepsi lebih dahulu dalam beberapa poin penting berikut ini:

  1. Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Firman TUHAN adalah kebenaran yang mutlak dan tidak bertentangan satu dengan yang lain (Yohanes 17:17; Galatia 1:8).
  2. TUHAN tidak pernah menyesal atau berubah-ubah sehingga apa yang difirmankan tidak ditepati. (Bilangan 23:19; Ibrani 13:8).
  3. Menafsirkan ayat Alkitab tidak boleh keluar dari konteksnya (Lukas 1:3; 1 Tesalonika 5:21;Yesaya 8:20). Misalnya, Filipus menerangkan satu nas dengan "bertolak dari nas itu" Kisah 8:35).
  4. Kita perlu mencek bahasa asli Alkitab khususnya bahasa Ibrani dan bahasa Yunani untuk memperoleh arti yang tepat dari sebuah kata yang sulit dipahami (2 Petrus 3:16).
  5. Kita harus lebih taat kepada Firman TUHAN daripada tradisi atau pendapat manusia (Kisah 5:29; Markus 7:9; Yohanes 10:35). Tuhan berkata kepada Musa: "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu" (Keluaran 3:5). Kasut tradisi dan pendapat manusia yang tidak selaras dengan Firman Tuhan harus ditanggalkan lebih dahulu suapaya kita menuruti yang tertulis di Alkitab.
  6. Biarkan Alkitab menafsirkan Alkitab itu sendiri (Sola Scriptural). Alkitab "Tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri" 2 Petrus 1:21. Misalnya biarkanlah Rasul Paulus menafsirkan tulisannya sendiri dengan cara membandingkan tulisannya yang satu dengan yang lain.
  7. Kita mengikuti metode Yesus dalam menghadapi perbincangan dengan berkata: "Ada tertulis" Matius 4:4). Bahkan bila Yesus Kristus dibantah oleh maka Dia berkata lebih jauh: "Tidak pernahkah kamu membaca nas ini" Markus 12:10.
  8. Firman TUHAN adalah kekal (1 Petrus 1:24-25; Matius 5:17-18).
  9. Apa yang telah difirmankan oleh TUHAN tidak boleh ditambah atau dikurangi oleh manusia (Wahyu 22:18-19; Ulangan 4:2; Amsal 30:6). Tertulis di Alkitab tapi diajarkan dengan tepat sama dengan mengurangi. Tidak tertulis di Alkitab tapi mengajarkan seolah-olah firman Tuhan sama dengan menambahi.
  10. Mengenai makanan haram dan halal hanya diatur di dalam Imamat 11 dan juga dalam Ulangan 14. Tidak ada ayat Perjanjian Baru yang menentang dua fasal ini sebab Allah Perjanjian Lama sama dengan Allah Perjanjian Baru. Jika ada ayat Perjanjian Baru yang kelihatannya bertentangan dengan ayat-ayat Pernjanjian Lama maka hal itu perlu dicocokkan (dipelajari lebih dalam) bukan diadu.
  11. Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) tidak bertentangan satu dengan yang lain (Yohanes 17:17). Sebab "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya" Ibrani 13:8.
  12. Pikiran manusia terbatas karena dosa hingga tidak mungkin semua bisa dipahami dengan sempurna (Ulangan 29:29).

Di dalam Taurat yang dikenal dengan Pentateukh yaitu lima buku Musa (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan) kita dapati paling sedikit empat hukum-hukum di dalamnya, antara lain:

    1. Hukum Upacara (Imamat 1-7).
    2. Hukum Moral (Keluaran 20:1-37)
    3. Hukum Sipil (Yang mengatur pemerintahan Israel).
    4. Hukum Kesehatan (Imamat 11, dll.).

Yang dimaksud dengan hukum upacara ialah yang berhubungan dengan upacara-upacara keagamaan orang Yahudi di Bait Suci Allah (Kemah Pertemuan) khususnya yang berhubungan dengan korban-korban sembelihan. Misalnya, kalau ada seorang yang berbuat dosa maka dia akan membawa seekor domba kemudian domba tersebut akan disembelih oleh orang berdosa itu sendiri dan disaksikan oleh Imam. Kemudian Imam akan meneruskan mempersembahkan korban itu (Imamat 1:1-5). Yesus Kristuslah yang dilambangkan oleh korban-korban yang telah disembelih oleh manusia sejak jatuh ke dalam dosa. Ketika Yohanes Pembaptis bertemu dengan Yesus Kristus, Yohanes berkata tentang Yesus: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" Yohanes 1:29.

Upacara-upacara tersebut yang dilakukan menurut hukum Taurat adalah merupakan bayangan (Ibrani 10:1) sedangkan wujudnya ialah Yesus Kristus Anak domba Allah. "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa" Ibrani 10:4. Upacara korban-korban adalah bayangan sedangkan wujudnya ialah Yesus Kristus. Korban-korban hewan itu bagaikan cek yang harus ditukarkan jadi uang. Dan biasanya jikalau cek itu sudah ditukar maka cek itu dengan sendirinya tentu tidak berlaku lagi. Upacara-upacara korban itu sudah digantikan dengan korban, yaitu tubuh Yesus Kristus sebagai Anak domba Allah. Sejak Yesus Anak domba Allah telah menjadi korban maka korban hewan tidak diperlukan lagi.

Imam-imam yang memimpin upacara korban juga tidak diperlukan lagi karena sudah diambil alih oleh Yesus Kristus Imam Besar kita yang ada di surga (Ibrani 8:1-2). "Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diriNya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri". Ibrani 9:24-25. Dengan demikian "Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua" Ibrani 10:9. Darah korban hewan adalah Perjanjian Lama (PL) sedangkan darah Yesus Kristus, Anak Domba Allah, adalah Perjanjian Baru (PB). Hal inilah yang paling membedakan antara PL dan PB. Bukan hal daging halal dan daging haram.

Apakah yang terjadi kepada Hukum Upacara setelah Yesus mati di kayu salib Golgota? Alkitab mencatat "Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah…" Matius 27:51. Bait Suci itu terdiri dari tempat kudus dan tempat yang maha kudus. Tabir itulah yang memisahkan tempat kudus dari tempat yang maha kudus (Ibrani 9:1-5). Tabir atau tirai Bait Suci terbelah berarti upacara korban tidak berlaku lagi. Sebagaimana tabir itu terbelah dari atas sampai ke bawah berarti pula bahwa pembatalan upacara itu berasal dari atas yaitu Allah sendiri. Korban yang sesungguhnya bukanlah hewan melainkan Yesus Kristus. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis berseru: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia" Yohanes 1:29.Dengan demikian Hukum Upaca tidak berlaku lagi karena sudah digenapi oleh kematian Yesus Kristus di kayu salib (Kolose 2:14). Mengapa hukum upacara di atas harus diakhiri? Alasannya ialah "Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa." Ibrani 10:4.

Bagaimanakah dengan hukum moral? Hukum moral yang dimaksud ialah khususnya sepuluh Hukum yang tertulis di dua loh batu. Tidak ada satu ayat atau tindakan Yesus Kristus yang meniadakan Hukum Moral ini. Sebab kematian Yesus di kayu salib tidak pernah mengendorkan penurutan penurutan kita kepada sepuluh hukum. Rasul Paulus berkata: "Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya." Roma 3:31. Iman dan hukum Allah tidak saling membatalkan satu dengan yang lain. Karena iman dan hukum Allah saling mempunyai tujuan dan maksud masing-masing. Bahkan Yesus Kristus berkata: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu." Yohanes 14:15. Bagaimanakah iman dan hukum Allah dapat dipadukan? Rasul Yohanes menegaskan: "Yang penting di sini ialah ketekunan orang-orang kudus, yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus." Wahyu 14:12.

Hukum sipil hanya berlaku kepada bangsa Israel itu sendiri. Misalnya, Indonesia tidak lagi diatur oleh hukum sipil bangsa Israel karena kita sudah mempunyai hukum sendiri yaitu KUHP. Mengapa kita tidak menerapkan hukum sipil ini? Karena hukum sipil bangsa Israel dapat bertentangan dengan KUHP pemerintah Indonesia yang lebih dominan. Misalnya, dalam hukum sipil bangsa Israel diatur bahwa "Apabila engkau melalui kebun anggur sesamamu, engkau boleh makan buah anggur sepuas-puas hatimu, tetapi tidak boleh kaumasukkan ke dalam bungkusanmu. Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauanyunkan kepada gandum sesamamu itu." Ulangan 23:24-25. Dengan demikian hukum sipil bangsa Israel ini tidak lagi relevan diterapkan di negara Indonesia. Hukum sipil inilah juga yang tidak berlaku lagi dari Perjanjian Lama.

Bagaimanakah dengan Hukum Kesehatan? TUHAN berfirman: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau". Keluaran 15:26. Rasul Yohanes berkata: "Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja" 3 Yohanes 1:2. Rasul Paulus juga melihat pentingnya kesehatan tubuh menjelang kedatangan Tuhan (1 Tes. 5:23). Hukum kesehatan tidak dikendorkan oleh kematian Yesus di kayu salib. Kematian Yesus di kayu salib adalah untuk menyelamatkan orang berdosa bukan untuk menghalalkan makanan haram.

Memang banyak ayat-ayat di dalam Alkitab khususnya dalam Perjanjian Baru yang sulit dimengerti. Sulit dimengerti bukan berarti tidak dapat dimengerti. Sulit berarti kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus untuk memahaminya. Yesus berkata: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga" Matius 13:11. Sering kali kesulitan itu makin bertambah sulit karena ada usaha orang untuk memutarbalikkannya. Hal itu ditegaskan oleh rasul Petrus dalam bukunya 2 Petrus 3:15-16.

Berikut ini kita akan diskusikan dengan singkat beberapa ayat Perjanjian Baru yang sering dijadikan sebagai landasan yang kuat untuk menyingkirkan larangan memakan daging haram.

  1. Dalam 1 Korintus 6:12. "Segala sesuatu halal bagiku" kata Paulus. Dalam bahasa Gerika Panta moi exestin. Apakah benar bahwa rasul Paulus sudah menghalalkan segala sesuatu termasuk semua daging? Tidak! Rapat Sidang di Yerusalem dimana rasul Paulus hadir pada waktu itu telah memutuskan dengan tertulis supaya bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, daging binatang yang mati dicekik dan dari darah (Kisah 15:19-21). Jika segala sesuatu halal bagi Paulus mengapa dia menyetujui larangan memakan makanan sejenis di atas tadi? Apakah mungkin ada sesuatu yang bagi kita adalah haram tapi bagi rasul Paulus adalah halal? Perintah TUHAN itu adalah sama bagi Paulus dan bagi kita semua. Kalau kita memperhatikan konteks ayat tersebut kita dapati bahwa Paulus sedang berbicara tentang Percabulan bukan tentang makanan. Kemudian kata halal dalam ayat tadi ialah exestin yang kalau kita lihat kamus bahasa Yunani maka kita dapati ada tiga arti kata tersebut yakni: It is proper, permitted or lawful; it is possible. Bila kita sesuaikan dengan konteks dari ayat itu maka terjemahan e x e s t i n yang paling tepat ialah it is possible. Jadi ayat di atas seharusnya diterjemahkan "Segala sesuatu adalah mungkin bagiku". Dengan demikian, segala sesuatu adalah mungkin untuk dilakukan oleh Paulus tapi tidak semuanya berguna. Maksudnya ialah karena ayat di atas mengenai perzinahan, adalah mungkin bagi Paulus untuk melakukan perzinahan tapi tidak melakukannya karena semuanya itu adalah tidak berguna. Ayat di atas bukanlah mengenai daging haram dan daging halal melainkan mengenai nasihat tentang percabulan. Sungguh sangat keliru kalau ayat ini digunakan untuk menghalalkan daging haram karena ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan daging haram atauppun daging halal.
  2.  

  3. Markus 7:19b. "karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu di buang di jamban? Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal". Dalam bahasa Gerika o t i o u k e i s p o r e u e t a i a u t o u e i V t h n k a r d i a n a l l ¢ k o i l i a n , k a i e i V t o n a f e d r w n a e k p o r e u e t a i , k a q a r i z w n p a n t a t a b r w m a t a ; (oti ouk eisporeuetai autou eiV thn kardian all¢ koilian, kai eiV ton afedrwna ekporeuetai, kaqarizwn panta ta brwmata). Dalam terjemahan King James Version [KJV] "Because it entereth not into his heart, but into the belly, and goeth out into the draught, purging all meats?" Jika kita bandingkan tiga terjemahan di atas maka kalimat "Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal" yang terdapat di terjemahan LAI tidak kita temukan di KJV dan bahasa Gerika. Dengan demikian penulis berpendapat bahwa kalimat "Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal" tidak seharusnya ada dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia [LAI]. Kalimat tersebut nampaknya merupakan penafsiran bukan terjemahan karena dasar bahasa aslinya (Gerika) tidak mendukung. Jika Terjemahan bahasa Indonesia ini tidak dikoreksi maka hal itu dapat membingungkan banyak orang khususnya mereka yang tidak memperhatikan bahasa aslinya. Meskipun demikian umat Tuhan tidak perlu bingung mengartikan kalimat tersebut sebab kalimat tersebut tidak menyebutkan bahwa "semua daging haram adalah halal". Sebab daging haram bukanlah makanan. Alkitab tidak pernah menggunakan istilah "makanan haram". Maksudnya ialah bahwa semua makanan (bahasa Gerika bromata) yang halal tidak menjadi haram walaupun dimakan dengan cara tidak membasuh tangan terlebih dahulu.
  4. Kalau kita perhatikan konteks ayat tersebut bukanlah mengenai daging haram dan halal melainkan mengenai cara makan yang dituntut oleh adat istiadat orang Yahudi yang dijunjung tinggi oleh orang Yahudi melebihi dari perintah Allah (Markus 7:1-9). Markus 7:1-23 paralel dengan Matius 15:1-20. Dua pasal tersebut sama-sama membahas pokok yang sama yaitu tentang Perintah Allah dan Adat Istiadat Yahudi. Tidak membahas tentang makanan yang halal dan yang haram. Sebenarnya terjemahan di atas "Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal" tidak ada masalah karena memang semua makanan (yang diizinkan Tuhan untuk dimakan) adalah halal. Sebab daging haram bukanlah makanan karena Tuhan sudah melarang umatNya untuk memakan semua daging haram. Namun bisa juga orang lain mengartikan ayat di atas bahwa semua yang dapat dimakan adalah halal. Terjemahan yang kurang akurat menimbulkan kebingunan dan kesalah pahaman bagi mereka yang mencintai Firman Tuhan.

     

  5. 1 Timotius 4:4 "Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan satupun tidak ada yang haram". Ayat ini sering dikutip orang sebagai alasan untuk memakan semua jenis daging yang haram. Penekanannya ialah bahwa semua yang diciptakan Allah itu "satupun tidak ada yang haram." Ayat ini sering digunakan sebagai senjata pamungkas untuk memangkas larangan Allah memakan daging haram. Namun jika kita kaji lebih dalam kita akan dapati bahwa konteks ayat tersebut tidak ada sama sekali hubungannya dengan peraturan tentang daging haram dan daging halal sebagaimana diatur oleh Allah dalam Imamat 11.
  6. Rasul Paulus menulis dalam 1 Timotius 4 adalah sehubungan dengan tugas Timotius dalam menghadapi pengajaran sesat. Sedangkan peraturan Allah tentang daging halal dan daging haram bukanlah pengajaran sesat karena itu berasal dari Allah sendiri. Dalam pendahuluan Imamat 11 tertulis "Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kataNya kepada mereka:" (ayat 1). Allah berkata: "FirmanKu yang keluar dari mulutKu: Ia tidak akan kembali kepadaKu dengan sia-sia." Yesaya 55:11.

    Jika demikian, apakah artinya bahwa semua yang diciptakan Allah itu "satupun tidak ada yang haram."? Yang menjadi masalah pokok dalam ayat itu ialah kata "haram". Sebab kata "haram" dalam ayat itu tidaklah sama dengan kata "haram" dalam Imamat 11 dan juga yang terdapat dalam Kisah 10:14 dimana rasul Petrus mengaku: "belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir."

    Kata "haram" dalam dalam 1 Timotius 4:4 berasala dari bahasa Gerika a p o b l h t o n (apoblhton) -- nominative, singular, dan neuter. Kata kerjanya ialah a p o b a l l w (apoballw) yang artinya to cast or throw off, cast aside. Dalam Markus 10:50 kata apoballw diterjemahkan "menanggalkan". Jadi kata apoblhton yang diterjemahkan "haram" dalam 1 Timotius 4:4 mengartikan sesuatu yang "ditolak, dibuang, dilemparkan dan ditanggalkan" bukanlah "haram" seperti larangan memakan daging haram. Sedangkan kata "haram" dalam Kisah 10:14 berasal dari kata koinon yang arti sebenarnya ialah "umum". Tentu hal ini mengartikan bahwa ada daging yang khusus dimakan oleh umat Allah yang menuruti Firman Allah yakni daging yang halal dan ada juga daging umum yang dimakan oleh mereka yang tidak mau menuruti Firman Allah yakni daging yang haram.

    Terjemahan King James Version untuk apoblhton  ialah to be refused. Sedangkan dalam New International Version ialah to be rejected. Jadi kata refused atau rejected sangat berbeda sekali dengan kata haram. Segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah baik untuk maksud dan tujuannya mengapa ia diciptakan. Tidak ada ciptaan Allah yang harus ditolak karena ia tidak punya maksud dan tujuan diciptakan. Dengan kata lain, tidak ada satupun yang diciptakan Allah itu tidak berguna sehingga kita harus membuangnya. Namun tidak semua yang diciptakan Allah itu berguna untuk dimakan.

    Bila kita bandingkan juga terjemahan bahasa Indonesia dengan bahasa aslinya kita dapati bahwa kata "itu" tidak seharusnya ada dalam bahasa Indonesia. Kata "itu" adalah ditambahkan oleh penerjemah Alkitab. Hal itu bisa terjadi karena Alkitab bahasa Indonesia tidak diterjemahkan secara kata perkata. Yang jelas ialah bahasa aslinya tidak memiliki definite article (seperti "the" dalam bahasa Inggris) ataupun demonstrative pronoun seperti "this, that," dll. Kalau kita coba menerjemahkan menurut aslinya ialah "karena semua ciptaan Allah (adalah) baik". Pernyataan Paulus ini sesuai dengan Kejadian 1:31 "Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik". Kalau definite article dimasukkan berarti seolah-olah pernyataan itu hanya mengenai makanan dan perkawinan sebagaimana konteks ayat tersebut.

    Penekanan Paulus yang utama ialah akan roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan yaitu melarang orang kawin dan melarang orang memakan makanan yang diciptakan Allah (1Timotius 4:3). Melarang orang memakan makanan yang diciptakan Allah adalah ajaran setan-setan yang bertentangan dengan Firman Allah (Kejadian 1:29; 2:16-17; 3:18). Sudah tentu makanan yang dilarang ajaran setan ini ialah makanan yang halal. Sebab kalau melarang memakan makanan haram itu bukanlah ajaran setan-setan tetapi ajaran Allah sendiri (Imamat 11; Ulangan 14). Sebaliknya ajaran yang mengatakan bahwa daging binatang haram boleh dimakan, justru itulah ajaran setan-setan karena bertentangan dengan Firman Allah. Karena Allah sangat jelas membedakan antara daging binatang yang halal dan daging binatang yang haram. Lagi pula belum pernah kita menemukan dalam satu ayat Alkitab yang mengatakan bahwa Yesus dan murid-muridNya pernah memakan daging binatang yang haram. Bahkan rasul Paulus juga tidak pernah menulis satu ayat yang mengatakan bahwa dia pernah memakan daging yang haram. Bahkan rasul Petrus tegas mengaku dengan berkata: "Aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir." Bahkan rasul Petrus menegaskan: "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." 1 Petrus 1:14-16. Pernyataan Petrus ini tentu ada hubungannya dengan menjauhkan diri daging haram yang dilarang Allah untuk dimakan (Imamat 11). Kudus berarti tidak menyentuh yang haram. Setelah Allah memaparkan larangan memakan daging haram, Dia berfirman: "Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi…jadilah kudus, sebab Aku ini kudus." Imamat 11:44-45. Untuk itu kita tidak boleh berspekulasi dengan mengajarkan bahwa semua daging haram boleh dimakan. Allah telah mengajarkan mana daging halal dan mana yang haram. Dengan demikian, semua ajaran yang bertentangan dengan Firman Allah adalah ajaran setan-setan yang harus ditolak oleh pengikut Yesus Kristus yang sejati. Yesus Kristus dan rasul-rasul haruslah teladan kita dalam segala hal termasuk dalam hal makan dan minum. Jadilah Kristen (pengikut Kristus) yang sejati.

    Melarang orang kawin itu sudah pasti juga ajaran setan-setan sebab Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia". Kejadian 2:18. Dengan demikian maka 1 Timotius 4:3-4 tidak relevan dijadikan sebagai dasar untuk memakan daging binatang yang dinyatakan haram oleh Allah.

     

  7. Kolose 2:16 "Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman". Bahasa Gerika: M h o u n t i V u m a V k r i n e t w e n b r w s e i k a i e n p o s e i (Mh oun tiV umaV krinetw en brwsei kai en posei). Kita memperhatikan kata en brwsei dan en posei. Dua kata tersebut ialah "Dative, Singular". "In meat or in drink" [KJV]. Menekankan cara-cara makan dan minum yaitu suatu tradisi yang diajarkan secara turun temurun. Ayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan hukum Allah yang melarang umatNya memakan daging haram. Melarang orang memakan daging haram bukanlah hukum manusia melainkan hukum Tuhan. Akan tetapi cara-cara makan seperti membasuh tangan sebelum makan (Matius 15:2) adalah hukum manusia yang disebut "adat istiadat nenek moyang". Melanggar adat istiadat ini tidak ada hubungannya dengan keselamatan. 
  8. Dalam Kitab Perjanjian Baru sering kita dapati problem tentang makanan. Namun saya dapati bahwa semua problem makanan yang terdapat dalam Perjanjian Baru tidak satu pun yang mempermasalahkan larangan Allah memakan daging haram. Dengan kata lain bahwa Perintah Allah melarang memakan daging haram (Imamat 11) dituruti oleh umat Allah baik yang hidup di zaman Perjanjian Lama maupun umat Allah yang hidup dalam Perjanjian Baru. Itu sebabnya dalam Kitab Perjanjian Baru tidak ada satu ayat saja yang menyebutkan bahwa Yesus Kristus dan pengikut pengikutNya pernah memakan daging yang haram.

    Kitab Perjanjian Lama tidak pernah bertentangan dengan Kitab Perjanjian Baru karena sumbernya ialah sama yaitu dari Allah. Yesus Kristus berkata: "Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?" Yohanes 5:46-47.

    Mungkin ada juga orang yang berspekulasi mengatakan bahwa Petrus pernah memakan daging yang haram di Antiokhia. Alasan spekulasi ini ialah karena Petrus "makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat" Galatia 2:12. Namun spekulasi ini sirna setelah membaca pengakuan Petrus yang mengatakan bahwa dia tidak pernah memakan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir (Kisah 10:14). Lagi pula ayat di atas mengatakan bahwa Petrus makan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat. Tentu saudara-saudara yang tidak bersunat ini adalah orang-orang yang sudah bertobat yaitu mereka yang tidak memakan daging haram.

     

  9. Kisah 10:15 "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram". Pasal di atas bukanlah berbicara tentang daging halal dan daging harammelainkan tentang Petrus dan Kornelius. Petrus adalah orang Yahudi sedangkan Kornelius adalah seorang yang bukan Yahudi. Konteks ayat itu ialah penginjilan kepada orang kafir. Orang Yahudi menganggap orang yang bukan Yahudi sebagai orang haram. Di zaman Yesus Kristus masih terlihat suatu permusuhan antara orang Yahudi dengan yang bukan Yahudi. Ketika Yesus Kristus meminta minum kepada seorang perempuan Samaria di Sikhar maka permusuhan antara orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi terungkap kembali. Perempuan Samaria itu berkata kepada Yesus Kristus: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" Yohanes 4:9. Dalam Kisah 10:28, 34 dinyatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Namun kalau daging yang halal dan yang haram tetap dibedakan oleh Allah. Petrus mengaku belum pernah makan yang haram dan tidak akan pernah karena benda itu terangkat ke langit tanpa menyentuhnya.
  10.  

  11. Rasul Paulus berkata dalam Roma 14:17 "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." Jika Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, apakah kita bebas memakan apa saja yang kita sukai? Tidak! Rasul Paulus juga berkata: "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." 1 Korintus 10:31. Apakah Allah dimuliakan jika kita memakan dan menyentuh yang haram? Rasul Paulus lebih lanjut menegaskan: "Muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" 1 Korintus 6:20. Tubuh harus selalu dijaga agar tetap kudus (1 Petrus 1:15).

 

Berikut ini kita dapat lihat beberapa alasan bahwa Peraturan Allah tentang daging binatang haram dan daging binatang halal masih berlaku hingga saat ini:

  1. Rasul Petrus yang hidup dalam zaman Perjanjian Baru mengaku bahwa dia belum pernah dan tidak akan pernah memakan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.
  2. Pada waktu Tuhan menunjukkan kepada Petrus suatu penglihatan yaitu binatang haram berkaki empat, kemudian Tuhan menyuruh Petrus untuk menyembelih dan memakannya, maka Petrus heran serta berkata: "Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir." Kisah Para Rasul 10:14. Petrus tidak jadi memakan daging haram tersebut sebab hidangan itu terangkat ke langit. Kemudian Petrus mengerti bahwa Tuhan bukan bermaksud mentahirkan daging haram seperti apa yang ditunjukkan Tuhan kepadanya. Yang Tuhan maksudkan ialah supaya Petrus jangan menyebut orang (orang bukan Yahudi) najis atau tidak tahir (ayat 28, 34). Rasul Petrus dalam bukunya memberi nasihat: "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu" 1 Petrus 1:14. Ayat ini menekankan bahwa orang yang dikuasai hawa nafsu adalah orang bodoh. Demikian juga orang yang tidak membedakan antara daging yang haram dan daging yang halal adalah orang bodoh.

     

  3. Yesus Kristus datang ke dunia ini dan mati di kayu salib adalah untuk mencari dan menyelamatkan manusia yang hilang (Lukas 19:10) bukan untuk menghalalkan daging haram.
  4. Kematian Yesus di kayu salib tidak mengendorkan hukum kesehatan. Ada yang mengajarkan bahwa dengan matinya Yesus Kristus di kayu salib maka hukum tidak berlaku lagi. Mereka mengutip perkataan Paulus yang mengatakan bahwa "dengan mengahapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib" Kolose 2:14. Hukum manakah yang telah dipakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib? Dalam ayat ini jelas disebutkan bahwa itu ialah hukum yang mendakwa dan mengancam kita. Hukum manakah yang ada hubungannya dengan dakwaan dan ancaman kepada orang berdosa? Apakah hukum kesehatan (Imamat 11:1-47; Ulangan 14:3-21) mendakwa dan mengancam kita? Atau apakah hukum moral yaitu sepuluh hukum (Keluaran 20:1-17) mendakwa dan mengancam kita? Sama sekali tidak!. Hukum yang mendakwa dan mengancam kita bukan hukum kesehatan yaitu yang mengatur larangan memakan daging binatang haram, dan bukan juga hukum moral yaitu sepuluh hukum.

    Hukum yang ada hubungannya dengan dakwaan dan ancaman ialah Hukum upacara (Imamat 1-7) yang mengatur tentang korban-korban di dalam bait Allah. Dengan matinya Yesus Kristus di kayu salib maka Hukum upacara yang mengatur korban-korban yang dipersembahkan di bait Allah dinyatakan tidak berlaku lagi. Hal ini ditandai dengan robeknya tabir Bait Suci dari atas ke bawah (Matius 27:51). Yesus Kristuslah korban sejati yang menggantikan kita orang berdosa. Yohanes Pembaptis berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." Yohanes 1:29. Rasul Paulus mengatakan: "Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus." 1 Korintus 5:7. Harusnya kitalah yang didakwa dan diancam untuk mati. Itu sebabnya nabi Yesaya berkata: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Yesaya 53:5. Sejak matinya Yesus di kayu salib maka korban tidak berlaku lagi.

     

  5. Perintah Tuhan tidak berobah dulu sampai sekarang.
  6. Allah berfirman: "Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali." Yesaya 45:23. "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." 1 Petrus 1:24-25. Yesus Kristus berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesuangguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu tititkpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerjaan Sorga." Matius 5:17-19.

     

  7. Masalah perut atau pencernaan.

Perut manusia sekarang ini tentu sama dengan perut manusia di zaman Perjanjian Lama. Bahkan kemungkinan perut manusia sekarang ini lebih lemah daripada perut manusia zaman dahulu kala. Terbukti bahwa usia manusia zaman dahulu lebih tinggi dari usia manusia zaman sekarang ini. Dari dahulu, Tuhan tahu yang terbaik untuk dimakan oleh manusia. Firman Tuhan melalui nabi Yeremia berkata: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Yeremia 29:11. Rancangan Tuhan yang pertama tentang makanan manusia bukanlah daging binatang. Tuhan berfirman: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu." Kejadian 1:29.

 

Sebenarnya daging bukanlah makanan yang dirancang Tuhan, melainkan itu adalah makanan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat itu. Setelah Air Bah, bumi dan tanam-tanaman telah rusak. Pada saat seperti inilah Tuhan mengizinkan manusia memakan daging. Tuhan berfirman: "Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau." Kejadian 9:3. Ayat ini telah dijadian oleh banyak orang menjadi alasan untuk memakan apa saja yang bergerak, seperti babi, anjing, tikus, ular, cecak, dll. Pernah saya mendengar anekdot tentang makanan yang agak lucu. Dikatakan bahwa semua yang berkaki empat boleh dimakan kecuali meja, itupun kalau lunak akan dilahap juga sampai habis; semua yang berenang boleh dimakan kecuali kapal selam, itupun kalau lunak akan dilahap juga sampai ludes; semua yang terbang boleh dimakan kecuali pesawat, itupun kalau lunak akan habis juga dilahap. Hal ini tentu menggambarkan betapa manusia itu sangat rakus kalau tidak mengikuti firman Allah dalam hal makan. Rasul Paulus berkata: "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" 1 Korintus 10:31. Setiap kita makan dan minum jangan lupa untuk selalu bertannya kepada Tuhan. Apakah Allah dimuliakan melalui makanan yang anda makan dan minuman yang anda minum? Apakah Allah dimuliakan kalau kita memakan daging yang dinyatakan haram oleh Allah? Apakah Allah dimuliakan jika kita meminum minuman memabukkan yang dilarang oleh Allah?

Apakah sebenarnya maksud ayat di atas? Kalau kita perhatikan konteksnya maka dapat kita artikan bahwa makanan sebelum Air Bah yang tidak bergerak seperti tumbuh-tumbuhan. Tetapi setelah Air Bah maka Allah mengizinkan manusia untuk memakan yang bergerak, yang hidup, yaitu yang bernyawa seperti daging binatang.

Kemungkinan besar manusia yang hidup pada zaman pasca Air Bah itu mengartikan juga bahwa semua daging binatang yang bergerak itu boleh dimakan tanpa membedakan yang halal dan yang haram. Namun hal yang sebaliknya bisa juga terjadi yaitu bahwa manusia pada zaman itu sudah mengetahui tentang yang haram dan yang halal. Hal ini dapat kita perhatikan perintah Tuhan kepada Nuh untuk memasukkan ke dalam Bahtera itu tujuh pasang yang halal dan satu pasang yang haram (Kejadian 7:2).

Namun kalau kita perhatikan selanjutnya kemungkinan besar setelah Allah mengizinkan manusia memakan daging binatang maka mereka memakan jenis daging apa saja yang penting ialah enak tanpa membedakan apakah itu halal atau haram sehingga Allah menetapkan peraturan tentang daging binatang yang halal dan yang haram (Imamat 11:1-47; Ulangan 14:3-21). Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia (Kisah 5:29).

 

Amaran-amaran yang penting diperhatikan oleh pengikut-pengikut Kristus sekarang ini.

Alkitab dengan tegas meramalkan tentang datangnya penyesat-penyesat. Rasul Petrus berkata: "Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan …" 2 Petrus 1:1. "Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu…" (ayat 2). Rasul Petrus berkata lebih lanjut dalam 2 Petrus 3:15-16 "… seperti juga Paulus,… Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yg sukar dipahami, sehingga orang-orang yg tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain". Penegasan Paulus: "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yg memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yg telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia" Galatia 1:9.

Alkitab sudah lebih dahulu menubuatkan bahwa akan ada orang yang memutarbalikkan kebenaran Alkitab. Untuk itu kita perlu selalu waspada. Selidikilah firman Tuhan sebab itulah kebenaran (Yohanes 17:17). Orang yang berpegang teguh kepada Alkitab, tidak akan mungkin tersesat. Marilah kita mohon Roh Kudus Tuhan untuk membukakan pikiran kita agar kita mengerti Firman Tuhan. Dalam hal ini peranan Roh Kudus sungguh sangat kita perlukan (Yohanes 16:8,13). Biarlah berkat Tuhan menjadi bahagian kita sementara kita belajar firmanNya (Wahyu 1:3). Amin.

 

Bagi anda yang ingin bertanya, diskusi atau belajar Alkitab silahkan menghubungi kami:

Pdt. Hemat Sibuaea

Alamat : Jl. Ngemingan 53, Telp. 0271-668092, Solo 57126.

E-mail : vincent_celin@yahoo.com