Home       

 

      Daftar Artikel       

          

 

 

 

Adakah Jurang Pemisah Waktu ?

 

oleh Randall W. Younker

 

 

JURANG PEMISAH WAKTU (Ezra 7:1-5; 1 Taw. 6:3-15)

Dapatkah diitemukan sesuatu mengenai jurang pemisah dalam silsilah keturunan dalam Alkitab? Ezra 7:1-5; 1 Taw. 6:3-15.

Sebagian orang mengatakan bahwa jumlah waktu yang telah berlalu sejak pekan Penciptaan bisa direntangkan jika ada "jurang pemisah" dalam silsilah keturunan Kitab Kejadian 5 dan 11. Benar bahwa sering dalam silsilah keturunan Timur Dekat baik yang modern maupun yang kuno, hubungan bapak - anak tidak selamanya berarti harus langsung- yang dikatakan "bapak" bisa juga sebenamya adalah kakek atau ayah dari kakek, dan sebagainya. Kasus seperti itu tampak dalam silsilah yang sudah dipadatkan dalam bagian tulisan-tulisan Alkitab kemudian. Sebagai contoh, jika silsilah keturunan Ezra 7:1-5 dibandingkan dengan 1 Tawarikh 6:3-15, tampak bahwa enam generasi dihilangkan dalam buka Ezra. Kelihatannya, dalam paragraf ini, mencatat garis keturunan adalah lebih penting dari pada memberikan catatan lengkap silsilah keturunan (lihat SDA Bible Commentary, jld. 1, hlm. 186).

Silsilah keturunan dibuat oleh orang-orang zaman dulu kala untuk berbagai alasan yang berbeda. Banyak dari silsilah keturunan Timur Dekat pada zaman dulu kala, yang telah diketemukan dibuat oleh kaum elit sosial politik negara yang besar atau birokrasi pemerintahan. Silsilah keturunan yang dibuat, tidak mengherankan, biasanya mengenai suksesi (urutan) pemegang kekuasaan-terutama raja, dan ada kalanya, imam-imam (yang berperan secara politis dan juga secara agama) dan para jurutulis. Tujuan silsilah ini ialah untuk memberikan status kepada seseorang dan untuk membenarkan atau mengukuhkan kedudukan mereka memangku sesuatu jabatan atau menguasai sesuatu negeri.

Kemudian silsilah keturunan Alkitabiah - terutama setelah bangkitnya kerajaan juga pada suatu ketika mempunyai tujuan seperti ini. Bangsa Israel yang ditawan dan diasingkan, yang kembali ke negeri leluhur mereka, tidak diragukan pada suatu ketika memperhatikan bagaimana mereka bisa menuntut kembali tanah leluhur mereka, dan silsilah keturunan adalah penting dalam membantu mereka mencapai maksud ini. Silsilah keturunan juga penting untuk menentukan keabsahan atau legitimasi mereka yang mengatakan mempunyai hak untuk memangku sesuatu jabatan. Terutama jabatan keimamatan. Ini adalah mungkin sebagian alasan mengapa buku Ezra dan Nehemia mencatat silsilah keturunan yang kembali dari pengasingan (lihat Ezra 7 dan 8 dan Nehemia 7).

Perselisihan atau pertengkaran mengenai silsilah keturunan untuk menentukan hak seseorang atau statusnya di masyarakat mungkin adalah yang melatar belakangi peringatan Paulus agar jangan menghabiskan waktu berdebat_mengenai silsilah keturunan ( 1 Tim. 1:4 dan Tit. 3:9); dan bukan mengenai kronologi. Sebaliknya, silsilah keturunan dalam Kejadian 1-11 mempunyai fungsi nyata yang berbeda, yang dengan jelas merefleksikan mengenai masyarakat pra-kerajaan, yang dibentuk berdasarkan suku-suku bangsa (orang-orang kepada siapa Musa pada mulanya menulis). Dengan demikian, silsilah keturunan secara seragam berhubungan dengan garis keturunan yang menyangkut hubungan hanya di antara mereka yang bertalian keluarga; bukan pemegang jabatan dan penguasa negeri di mana silsilah yang dipadatkan sudah cukup.

 

TUJUAN YANG BERBEDA SILSILAH ZAMAN DULU KALA (Kei. 5 dan 11).

Ada beberapa alasan untuk mempercayai bahwa silsilah keturunan dalam Kejadian 5 dan 11 tidak dengan sengaja dipadatkan sebagaimana yang lain. Pertama, silsilah Alkitabiah yang mula-mula ini tidak bisa dengan sesederhana itu dibandingkan dengan silsilah zaman purbakala Timur Dekat yang lain, atau bahkan yang muncul kemudian dalam Alkitab Sebagaimana yang ditunjukkan oleh sarjana Perjanjian Lama Richard Hess, tak satupun contoh-contoh Timur Dekat purbakala itu mempunyai kesejajaran yang tepat dengan cara penulisan silsilah Kejadian 1 11 (lihat Biblica, jld 70 hal 241-254)

Secara khusus, silsilah dalam Kejadian 5 dan 11 adalah unik dalam hal mereka dinyatakan dengan apa yang diterangkan Gerhard Hasel sebagai suatu formula "kronogenealogikal." Yaitu bilamana orang X hidup selama sekian tahun ia memperanakkan orang Y; setelah ia memperanakkan Y, ia hidup sekian tahun lagi; seluruhnya ia hidup Z tahun. (Lihat origins, jld. 7, no. 1, 1980, him. 23-37; jld. 7, no. 2, 1980, him. 53-70.)

Sebagaimana yang diamati oleh T.C. Hartman, 1amanya hidup dan umur pada waktu figur berikut diperanakkan "tidak pernah dicatat dalam daftar raja-raja Timur Dekat zaman purba. Hal ini bertentangan dengan silsilah Alkitabiah untuk siapa tujuan satu-satunya dalam penggunaan angka-angka kelihatannya bahwa pencatatan usia harapan hidup setiap pembawa nama dan umur pada waktu ia melahirkan pembawa nama berikut ... "-Some Thoughts on Sumerian King Lists. . . . ,"Journal of Biblical Literature, jld. 91, him. 25-32. Bukan hanya formula ini unik kepada Alkitab, silsilah itu dibangun begitu ketat sehingga tidak mungkin diganggu atau dikacaukan oleh menyisipkan jurang pemisah generasi.

Keketatan.ini diperkuat oleh kata kerja Ibrani yang digunakan dalam paragraf itu "memperanakkan" (wayyoled-et); kata kerja yang biasa digunakan dalam Alkitab untuk menyatakan kebapaan jasmani sesunguhnya seorang keturunan.(Hak. 11:1; 1 Taw. 8:9; 14:3, 2 Taw. 11:21-13-21;24:3). Bilamana digabungkan dengan formula silsilah yang unik, tidak mungkin menyisipkan jurang pemisah generasi ke dalam silsilah-silsilah khusus ini. Kombinasi unik formula waktu dengan bentuk kata kerja ini menunjukkan bahwa penulis Kejadian 1-11 tertarik baik dalam waktu maupun ketepatan silsilah ini.

Bilamana Anda mempertimbangkan silsilah-silsilah yang kelihatannya tidak menarik ini di dalam Alkitab, menurut pendapat Anda mengapa Allah mau menaruh mereka di sana?

 

-----------------------------------------------------------------------

Randall W. Younker adalah Profesor Madia Perjanjian Lama dan Arkeologi Alkitabiah dan Direktur Istitut Arkeologi, Universitas Andrews - USA.

Tulisan di atas termuat  dalam Pedoman Pemahaman Alkitab Sekolah Sabat Dewasa (edisi bahasa Indonesia) terbitan Juli-Sep 1999 berjudul "Ciptaan Allah."