Home       

 

      Daftar Artikel       

          

 

 

             YANG TIDAK  DICIPTAKAN  ALLAH

Oleh   Randall W.Younker

 

 

Sebagian orang heran mengapa Kejadian I menyatakan bahwa tumbuh-tumbuhan dan manusia sudah dijadikan pada pekan pertama Penciptaan (Kej. 1:11, 12, 26, 27), sementara pasal dua kelihatannya menyatakan bahwa Allah belum selesai menjadikan ini sampai waktu berikutnya (Kej. 2:4-6). Menurut Kejadian 2:4-6 empat perkara yang belum dijadikan Allah adalah : (1) semak di bumi (2) tumbuh-tumbuhan di padang (3) orang untuk mengusahakan tanah; dan (4) hujan yang turun ke bumi.

 

Setelah membaca ayat ini dalam bahasa Inggris, seseorang mungkin berpikir bahwa penulis pasal 2 ini mengabaikan fakta bahwa empat perkara ini telah diciptakan pada pekan pertarna Penciptaan. Tetapi dalam ayat bahasa Ibrani jelas dikatakan bahwa empat perkara yang disebutkan dalam pasal 2 sebagai "belum" diciptakan, tidak ada hubungannya dengan perkara-perkara yang diciptakan selama enam hari penciptaan. Kata-kata Ibrani untuk dua perkara yang pertama, semak di bumi dan tumbuh-tumbuhan di padang, bukanlah nama yang sama dengan tumbuh-tumbuhan yang diciptakan pada hari ketiga Penciptaan--vegetasi, tumbuhan yang berbiji, pohon buah-buahan yang menghasilkan semak yang berbiji (Kej 1:11,12). Sebetulnya kata Ibrani yang diteremahkan "semak"di dalam Kejadian 2:5 (siah), agak jarang di dalam Alkitab, terjadi hanya dalam dua ayat-ayat yang lain - dalarn Kejadian 21:15 dan Ayub 30:4, 7. Konteks dari dua ayat-ayat yang ini telah meyakinkan para ahli tumbuh-tumbuhan yang telah mempelajari tumbuh-tumbuhan Alkitabiah bahwa siah adalah tumbuhan padang gurun yaitu tumbuhan yang berduri. Pernyataan lengkap siah hassadheh (semak di bumi", atau lebih baik "semak duri") terdapat hanya dalam Kejadian 2:5! Pertarna kali semak duri dan nrmput duri secara jelas disebutkan dalam Alkitab ialah dalarn Kejadian 3:18, yang diperkenalkan sebagai akibat langsung kejatuhan manusia ke dalam dosa. Apa yang sebenamya dilakukan oleh penulis Kejadian 2 ialah menimbulkan pertanyaan dari manakah datangnya tumbuhan semak duri itu? Tumbuhan semak berduri dan rumput berduri bukanlah bagian dari Penciptaan "sungguh arnat baik," yang telah diselesaikan sesudah enam hari Penciptaan; tetapil tumbuhan itu muncul sebagai akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa.

 

ORANG YANG MENGUSAHAKAN TANAH (Kej. 2:5,7-25)

Apa maksud pernyataan "orang untuk mengusahakan tanah itu"? Kapankah pengusahaan tanah mulai? Kej. 2:5.

Dalam bahasa Ibrani suatu kata sifat yang menerangkan suatu kata adalah sangat penting. "Orang mengusahakan tanah itu" dalam Kejadian 2:5 bukan orang yang diciptakan pada hari keenam (Kej. 1:26, 27). Tetapi, itu adalah gambaran orang yang berlaku sesudah kejatuhan manusia ke dalam dosa, pada waktu Adam harus berjuang dengan tanah (mencangkul dan mengairinya) untuk memperoleh makanannya (lihat Kej. 3:17). Jenis manusia seperti ini selaras dengan "semak duri" dan "tumbuhan di padang," yang pemunculannya juga sesudah kejatuhan ke dalam dosa. Dengan demikian, sekali lagi, "orang untuk mengusahakan tanah itu belum ada" dalam pasal 2, ia tidak akan menjadi orang seperti itu sebelum pasal 3, sesudah manusia jauh ke dalam dosa.

Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam cerita penciptaan Mesopotamia, salah satu berkat para dewa kepada raja-raja duniawi salah menyediakan kebutuhan manusia yang mau bekerja seperti ternak" dan yang akan "mengairi" ladang. Tetapi, Allah Alkitab tidak menciptakan manusia untuk menjadi pekerja budak. Sebaliknya, dengan kasih sayang dan dengan cermat la sendiri menanami taman dan menyediakan pengairannya!. Lalu la memberikan taman itu kepada Adam dan Hawa sebagai hadiah, sebagai karunia. Sejumlah sarjana telah memperhatikan perbedaan penting ini antara cerita Penciptaan Alkitab dengan cerita yang tidak bersumber dari Alkitab. Mereka telah menyimpulkan bahwa penulis Kitab Kejadian dengan jelas menyuguhkan suatu "polemik" Penciptaan, yaitu suatu cerita yang dirancang untuk menantang pandangan-pandangan yang salah mengenai Penciptaan yang beredar, dengan cerita yang sebenarnya.

Pekerjaan yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita yang pertama di Taman Eden ialah "mengawasi dan memelihara taman itu" (Kej. 2:15, NKJV). Pekerjaan ini tidak sama dengan pekerjaan yang harus dilakukan Adam sesudah kejatuhan ke dalam dosa "dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu" (Kej. 3:19). "Pekerjaan mereka tidak melelahkan dan membosankan, tetapi menyenangkan dan menguatkan... ---Patriarchs and Prophets, hlm. 50.

Ada yang lebih khusus rangkuman cerita Penciptaan dalam pasal 2, tetapi tidak akan mulai sebelum ayat 7 gantinya ayat 4. Gambaran yang diberikan dalam ayat-ayat ini sesungguhnyalah satu Allah yang penuh kasih menyediakan segala sesuatu yang akan dibutuhkan oleh Adam dalam keberadaannya yang baru, termasuk suatu tempat untuk tinggal, makanan dan minuman yang limpah, kekuasaan atas tempat tinggalnya serta istri dan pendampingnya yang kekasih, Hawa.  

Seperti "semak di bumi," pernyataan lbrani yang diterjemahkan sebagai "tumbuhan di padang", 'esev hassadhe sangat jarang dalam Alkitab. Bahkan hanya muncul dua kali-dalam Kejadian 2:5 dan 3:18. Kunci untuk mengerti sifat tumbuhan ini terdapat dalam Kej. 3:17, 18, di mana diberitahukan kepada kita bahwa `esev hassadhe adalah tumbuhan yang harus menjadi makanan Adam setelah kejatuhannya ke dalam dosa "Makai terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang ['esev hassadhe] akan tetap menjadi makananmu." Tumbuh-tumbuhan ini bukan pohon yang menghasilkan buah yang disediakan Allah menjadi makanan manusia, yang diciptakan pada hari ketiga. Sebaliknya, itu adalah tumbuhan yang hanya dipelihara oleh manusia sesudah kejatuhannya ke dalam dosa.

-------------------------------------------------------------------------

Randall W. Younker adalah Profesor Madia Perjanjian Lama dan Arkeologi Alkitabiah dan Direktur Istitut Arkeologi, Universitas Andrews - USA.

Tulisan di atas termuat  dalam Pedoman Pemahaman Alkitab Sekolah Sabat Dewasa (edisi bahasa Indonesia) terbitan Juli-Sep 1999 berjudul "Ciptaan Allah."