![]()
Tuhan Menolong
Saya dalam Perjalanan ke Bali
Tanggal 25 Desember 1998, sehabis keluarga saya merayakan Natal
di Gereja paginya. Kami berangkat menuju Bali dengan mengendarai mobil Kijang.
Semuanya ada 6 orang dewasa, yaitu papa dan mama saya, saya sebagai anak tertua,
adik saya laki-laki dan dua adik perempuan saya, plus Rahel bayi saya yang
hampir 1 tahun. Suami saya tidak bisa ikut karena tidak cukup cutinya.
Kami bermalam dan singgah di beberapa tempat a.l Solo, Jogja, Magelang, dan
kemudian menuju Bali. Kira-kira saat itu pk 17.30, adik saya yang laki-laki
sedang menyupir, entah dia mengantuk atau apa, tiba-tiba sebelum tikungan dia
mengerem mobil dengan mendadak sambil menghindari tong yang ada di jalan (jalan
tersebut sedang dalam perbaikan). Namun tidak keburu berhenti. Dari arah bail
sebuah mobil kijang melaju dengan cepat dan adik saya tidak bisa menghindari
terjadinya tabrakan. Mobil terhantam dengan sangat keras, karena muka dengan
muka, sampai mobil saya berbalik muka ke belakang dan kemudian jatuh terguling.
Mereka yang duduk di depan mobil, yaitu papa dan adik saya tahu-tahu sudah
terlempar ke luar sekitar 5 m dan kaca mobil pecah berantakan. Namun ajaib, kami
yang dibelakang tidak apa-apa hanya lecet-lecet. Adik saya mukanya terkena
pecahan kaca dan ada pecahan yang hampir kena mata, tapi syukur tidak kena. Adik
satu lagi terkilir kakinya. Mama dan saya hanya lecet-lecet. Suatu mujizat atas
Rahel bayi saya. Tadinya dia dipangku oleh papa saya di depan. Yang sudah pasti
akan ikut terlempar pada waktu kecelakaan. Namun lima menit sebelum kecelakaan
terjadi Rahel mendadak ingin ke belakang, sehingga papa saya memberikan kepada
kami yang duduk di belakang. Tuhan telah melindunginya, dia tidak terlempar,
hanya mungkin ada keseleo sehingga dia menangis terus malamnya dan mau digendong
terus.
Adik saya yang menyupir pingsan da ayah saya juga setengah sadar dan tidak bisa
bangun. Sungguh sekali lagi kami bersyukur bahwa penduduk sekitar sangat baik.
Mereka menolong kami dan membawa kami ke rumah salah satu penduduk. Adik dan
ayah saya diberi telor dan madu, terutama untuk adik saya yang terbentur
dadanya. Kemudian adik dan papa dibawa ke rumah sakit di Surabaya dan diopname 1
minggu, karena papa mengalami gegar otak dan kelumpuhan pada kaki kanannya. Kami
menitipkan koper dan barang-barang kami di rumah penduduk tersebut dan mereka
sama sekali tidak memanfaatkan kejadian ini untuk keuntungan pribadi.
Mobil kami dibawa ke kantor polisi. Kami tinggal 4 orang wanita semua, yang
pria justru dua-duanya masuk rumah sakit. Mobil kijang yang menabrak kami hanya
berisi dua orang, seorang laki-laki yang empunya dan supirnya,dimana yang
empunya ini mengalami patah tangannya. Kami bingung berurusan dengan polisi dan
juga dimana empunya mobil satu lagi itu menekan kami untuk ganti rugi karena
kami yang salah mengambil jalur orang lain yang balik arah (akibat menghindari
tong). Untunglah saudara-saudara papa saya ada yang sedang di Jawa Tengah
sehingga bisa datang dan membantu mengurus segala sesuatu.
Kini kejadian itu telah lewat, kami sangat bersyukur dari tabrakan yang keras
itu tidak ada yang meninggal, padahal tabrakan hidung dengan hidung biasanya
berakibat fatal. Papa dan adik saya tidak lama sembuh dan tidak mengalami
kelumpuhan apa-apa atau cacat akibat kecelakaan tersebut. Apa yang saya tulis
ini merupakan rasa syukur saya bahwa Tuhan telah memelihara dan menolong kami.
Segala puji dan syukur bagi Tuhan.
oleh Yulie Hanna