![]()
Mencari Kebenaran
Nama saya Stanley Iskandar Sethiadi. Saya lahir di-Jakarta pada tanggal 29 Juni 1938 dengan nama Stanley Thio Swie Liong sebagai anak keempat dari lima saudara. Ayah saya seorang pemikir bebas (freethinker, vrijdenker). Beliau percaya ada Allah, tetapi beliau tidak mau terikat agama manapun. Beliau sering siter Confucius, tetapi menolak kalau disebut Confucianis, karena beliau juga suka siter Buddha, Laocius, Shakespeare, bahkan ayat-ayat Alkitab yang beliau setuju.
Setelah perang dunia kedua usai, saya dimasukkan ayah saya disekolah Katolik Roma. Beliau pesan kepada saya agar saya belajar baik-baik. Sekolah Katolik ajaran ilmunya baik, tetapi ajaran agamanya tidak benar. Ajaran yang benar adalah ajaran yang Papa ajarkan kepada kamu, ialah ajaran pemikir bebas. Jadi terimalah ilmunya, tetapi tolak agamanya. Dengan pesan demikian saya mulai usia sekolah.
Mula-mula saya terombang-ambing antara ajaran pemikir bebas ayah dan ajaran
Katolik disekolah. Maklumlah anak kecil, apa saja yang ia dengar, ia percaya.
Lulus SD saya masuk SMP Kanisius Kolese Jakarta. Sewaktu SMP saya pelajari teori
Heliosentris dan teori Evolusi. Saya sadar bahwa itu bertentangan dengan ajaran
Alkitab. Waktu duduk dikelas I SMA saya tanyakan hal ini kepada guru agama saya.
Guru agama saya tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan saya. Saya
kemudian tarik kesimpulan bahwa Alkitab terbukti salah secara ilmiah. Kemudian
lagi saya menyatakan diri saya agnostik. Seorang agnostik bukan seorang ateis.
Saya tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, tetapi saya juga tidak mengatakan
bahwa Tuhan ada. Saya mulai menyerang orang-orang Kristen, Katolik, Protestan
maupun Pentakosta. Saya selalu mulai argumen saya dengan teori Yoshua 10:12,13
versus teori Heliosentris serta Kejadian 1 versus teori evolusi. Kalau
pernyataan-pernyataan Alkitab yang dapat diselidiki secara ilmiah terbukti
salah, tentu pernyataan-pernyataan yang tidak dapat diselidiki seperti surga,
neraka, dosa, keselamatan dsb tidak dapat dipercaya. "Pakai logika dong!", kata
saya. Saya bahkan serang ayah saya sendiri. Saya bertanya kepada beliau: "Apakah
Papa pernah lihat Tuhan?" Beliau jawab: Belum!" "Darimana Papa tahu bahwa Tuhan
ada?" tanya saya lagi. Ayah saya marah dan kemudian berkhotbah lama sekali,
berusaha meyakinkan saya bahwa Tuhan ada. Dan kalau ayah saya berkhotbah, presis
seperti pastor atau pendeta, percaya tanpa bukti yang jelas.. Saya senyum-senyum
saja. Dalam hati saya berkata: "Papa juga kurang konsekwen! Saya hanya mau
percaya akan sesuatu yang dapat saya lihat dan dapat dibuktikan secara ilmiah".
Saya bertekad mencari kebenaran tanpa takut akan ancaman-ancaman para pastor dan
para pendeta akan api neraka. Makin diancam saya makin nantang. Waktu itu saya
yakin bahwa hanya ilmu pengetahuan alam yang dapat membawa manusia kepada
kebenaran. Alkitab hanyalah dongeng-dongeng manusia primitip.
Lulus SMA saya masuk ITB dengan tekad yang bulat untuk mencari kebenaran.
Saya mulai mempelajari dari pelajaran di-ITB maupun diluar ITB seperti filsafat,
psychohogie, sejarah dsb. Sudah barang tentu saya memperdalam perdebatan teori
Geosentris versus Heliosentris serta teori evolusi baik astronomis, geologis
maupun biologis. Saya kemudian mengerti bahwa dalam pandangan astronomi tahun
1957/1958 teori Heliosentris tidak mutlak benar. Matahari hanyalah sebuah
bintang diantara jutaan bintang-bintang lain yang berputar mengelilingi sumbu
galaksi Bima Sakti (Milky Way). Sesungguhnya teori Heliosentris sama salahnya
atau sama benarnya dengan teori Geosentris. Alkitab ternyata tidak sebodoh
dugaan saya waktu saya duduk dibangku SMA. Saya juga pelajari bahwa alam semesta
ini dikonstruksi memakai matematika sangat tinggi. Saya yakin ada suatu
intelegensi yang sangat tinggi dibelakang alam semesta ini. Saya kemudian
menyebut intelegensi itu sebagai cosmological God.
Saya kemudian belajar lagi bahwa menurut para filsuf dan para ilmuwan abad
ke-20, sebuah teori ilmiah tidak pernah dapat dibuktikan benar, maksimal dapat
dikatakan belum terbukti salah. Saya sangat kecewa. Bayangkan waktu saya masuk
ITB saya yakin bahwa hanya ilmu pengetahuan alam dapat membawa saya kepada
kebenaran. Beberapa tahun kemudian saya sadar bahwa ilmu pengetahuan tidak
pernah dapat membawa saya kepada kebenaran. Saya begitu kecewa hingga saya masuk
masa impasse. Saya tidak lagi mau pelajari ilmu pengetahuan dan filsafat.
Berbulan-bulan saya hanya ngobrol omong kosong, nonton bioskop dll.
Seorang kawan satu kos yang mengetahui mengenai kekecewaan saya bertanya kepada
saya: "Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu mencari kebenaran?". Saya
membenarkannya. Ia kemudian menunjukan kepada saya Alkitabnya dan minta saya
baca Yohanes 14:6 "Kata Yesus kepadanya ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapak, kalau tidak melalui Aku."
Saya terheran-heran. Saya selalu mengatakan bahwa saya mencari kebenaran. Tetapi
apakah itu yang disebut kebenaran? Semula saya kira bahwa yang disebut kebenaran
adalah teori-teori dan filsafat-filsafat yang benar, dengan akibat saya masuk
masa impasse tersebut diatas. Ini koq Yesus mengatakan bahwa diriNya adalah
kebenaran. Dan ini tertulis salam Alkitab yang pernah saya buang. Apa artinya
ini? Saya tidak mengerti dan saya tidak percaya, tetapi saya ingin tahu lebih
banyak. Saya baca juga ayat-ayat lain. Melihat hal itu, kawan saya katakan:
"Baca saja terus sampai kamu puas. Saya punya Alkitab satu lagi". Saya baca
sebagian besar dari Injil Yohanes dan tentu saja juga Kitab Kejadian 1. Saya
merasa heran dan tertarik, tetapi saya tetap tidak percaya. Saya mulai belajar
lagi pelajaran di-ITB, walaupun saya kini tahu tidak ada kebenaran mutlak dalam
teori yang manapun. Sekali waktu saya ikut sebuah seminar yang dipimpin oleh
seorang uskup dari gereja Anglikan dari Australia, Bisshop Mark Loan.. Saya
menanyakan kasus saya secara tertulis. Beliau jawab: "Whoever asks this
question, in this manner should he pray ‘Jesus I believe, take away my unbelief"
". Saya coba berdoa seperti dikatakan Bisshop Loan, tetapi saya malah merasa
diri saya munafik. Betapa tidak? Saya sangsikan Yesus, tetapi saya berdoa kepada
Yesus, apakah itu bukan munafik namanya? Saya kemudian alihkan doa saya kepada
cosmological God yang saya imani. Tetapi cosmological God itu tidak menjawab.
Bulan April 1964 saya lulus sarjana teknik dari ITB. Kalau kawan-kawan lain
merasa bangga, saya merasa sangat tidak bahagia. Kebenaran yang saya cari tidak
saya dapati. Saya serasa mau mengoyak ijazah saya. Ini saya dapat, sebagai tanda
bahwa saya telah lulus mempelajari teori-teori yang setiap saat dapat dibuktikan
salah. Untuk apa? Untuk cari makan "lumayan". Itu sebabnya saya tidak jadi
mengoyaknya. Tetapi untuk mencari kebenaran? "No way!".
Pada suatu malam diakhir bulan Juni 1964 saya terbangun tengah malam dari tidur
saya. Sebelum pikiran-pikiran lain menyelinap dalam otak saya, saya berdoa:
"Jesus I believe, take away my unbelief!". Sebelum keraguan atau perasaan lain
memenuhi hati saya, saya telah tertidur pulas lagi. Pagi-pagi sekitar jam 5 pagi
saya terbangun lagi. Saya rasa ada "sesuatu" memasuki diri saya. Sesuatu yang
hangat, makin lama makin hangat sampai panas sekali. Bukan panas yang
menghanguskan, tetapi panas yang sangat membahagiakan. Air mata keluar dari mata
saya. Saya hanya dapat mengatakan: "Thank you oh God, thank you oh Jesus!". Saya
yakin dan percaya bahwa Tuhan berkenan memberi saya tanda bahwa memang Yesus
adalah kebenaran yang saya cari-cari selama ini. Saya telah mendapat jawaban
sendiri mengenai pertanyaan saya sewaktu di-SMA tentang Yoshua 10:12,13 versus
teori Heliosentris. Tetapi mengenai kontroversi Kejadian 1 dengan teori evolusi
belum. Tetapi saya pikir saya akan mencari jawabannya belakangan. Tahun itu juga
saya dibaptis, tepatnya tanggal 20 Desember 1964 di-Gereja Kristus, Jl Sukasari,
Bogor
Pertanyaan saya yang pertama mengenai kontroversi antara Yoshua 10:12,13 dengan
teori Heliosentris telah saya pecahkan sendiri dari hasil studi saya. Tetapi
pertanyaan saya yang kedua ialah kontroversi antara Kejadian 1 dan teori evolusi
belum terjawab. Menurut Alkitab Tuhan menciptakan alam semesta termasuk manusia
dalam waktu 6 hari. Menurut teori evolusi dalam waktu miliaran tahun. Yang mana
yang benar? Baik sebelum maupun setelah saya dibaptis banyak pastor dan pendeta
yang saya tanya. Tetapi tidak ada satupun yang dapat jawab saya dengan
memuaskan. Jawaban yang paling buruk ialah menyentak saya dengan mengatakan
dengan ketus: "Itu tidak penting!" Kalau halaman pertama dari Alkitab tidak
penting tentu halaman kedua juga tidak penting, selanjutnya halaman
ketiga-keempat dst. juga tidak penting. Lalu buat apa masuk Kristen? Pendeta
lain berusaha mengkompromikan Kejadian 1 dengan teori evolusi dengan mengaburkan
kata "hari" dalam Kejadian 1. Mereka katakan satu hari mungkin berarti beberapa
milliar tahun dengan mensiter Mazmur 90:4. Tetapi inipun tidak memuaskan hati
dan piliran saya. Hari yang ada petangnya dan ada paginya jelas hari harafiah.
Kalau alam semesta terjadi dalam miliaran tahun maka Kejadian 1 salah. Kalau
Kejadian 1 salah, konsekwensi logis Kejadian 2,3,4 dst mungkin juga salah. Kalau
begitu, mana mungkin Alkitab adalah Firman Tuhan? Saya cari buku-buku Kristen
mengenai hal ini, tetapi semuanya tidak memuaskan hati dan pikiran saya.
Kemudian saya coba menulis buku sendiri. Tetapi setelah menulis kira-kira 100
halaman, saya baca ulang apa yang saya tulis. Saya sangat tidak puas dengan
karya saya sendiri, maupun karya orang lain yang saya baca waktu itu termasuk
tulisan dosen STT-J D.C. Mulder.
Sekitar tahun 1970 saya tinggal di-Pematang Siantar, Sumatra Utara. Saya pernah
turut persekutuan di-unoversitas Nommensen dalam bahasa Inggris. Saya berkenalan
dengan seorang dosen teologi universitas Nommensen Mr Nyhuss. Saya tanyakan
beliau hal ini dan beliau jawab: "I’m sorry, I cannot answer something that I
don’t know myself." Kalau para dosen teologi tidak dapat menjawab pertanyaan
saya, mana mungkin murid-murid mereka, ialah para pendeta, bisa menjawab? Saya
coba jawab sendiri pertanyaan saya sendiri. Saya buat draft sebuah buku. Tetapi
setelah menulis sepanjang kira-kira 100 halaman, saya baca ulang apa yang saya
tulis. Saya tidak puas. Saya berhenti menulis. Sejak itu saya tidak mau bertanya
lagi atau memikirkannya lagi. Saya masih kegereja tetapi iman saya yang
menggebu-gebu pada tahun 1964, merosot drastis pada tahun 1970 dan seterusnya.
Saya masih kegereja, tetapi kadang-kadang saya menghilang selama berbulan-bulan.
Muncul kembali waktu Natal. Ada yang mengatakan Kristen seperti itu adalah
"Kristen kapal selam", kadang-kadang muncul, kadang-kadang tenggelam". Pada
tahun 1976 memang karena pengalaman saya dipantai Kuta iman saya naik sebentar,
tetapi kemudian merosot lagi. (Bila diperkenan Tuhan akan saya saksikan
peristiwa Kuta tersebut dihari kemudian.)
Pada tahun 1983 iman saya mencapai titik yang sangat rendah. Sulit membedakan
saya dari orang dunia non-Kristen waktu itu. Hanya di-KTP saya saja masih
tercantum agama Kristen. Saya merasa sangat tidak sejahtera, tetapi tidak tahu
mengapa dan bagaimana memperbaikinya. Tanya pendeta percuma, mereka toch tidak
dapat menjawab. Kemudian saya mulai mengadakan riset sendiri. Saya
bongkar-bongkar buku saya yang tua dan beli buku-buku baru mengenai hal ini,
baik yang pro maupun yang anti teori evolusi. Pada awal tahun 1984 yang mencapai
kesimpulan yang "mengerikan". Kalau teori evolusi benar, maka Kejadian 1 jelas
salah. Saya tidak dapat menerima kompromi-kompromi "gap-theory", "day-age
theory" apalagi "evolusi theistic ala Pater Tijlhard de Chardin S.J." Mereka
semua tidak jujur dan berusaha memutarbalikan Alkitab. Kalau Kejadian 1 salah,
maka seluruh Kitab Kejadian tidak dapat dipercaya. Konsekwensi logis seluruh
Perjanjan lama dan seluruh Perjanjian Baru tidak dapat dipercaya. Konsekwensi
logis selanjutnya iman Kristen salah. Waktu itu saya tergoda dengan hebat untuk
kembali kepaham agnostik seperti waktu saya berumur 16 tahun. Memang saya sadar
dikemudian hari bahwa tidak semua orang mempunyai pola berpikir seperti saya.
Tetapi saya juga tahu bahwa saya bukan satu-satunya manusia yang punya pola
berpikir demikian. Didunia ini ada ribuan bahkan mungkin jutaan orang lain yang
mempunyai pola berpikir demikian. Kesaksian ini saya tulis untuk semua orang
Kristen baik Katolik, Protestan, Pentakosta, Kharismatik dsb, terutama bagi
mereka yang punya pola berpikir demikian.
Terlanjur basah, saya terjun sekalian dalam persoalan ini. Saya memperdalam lagi
sedalam-dalamnya masalah ini. Saya juga memperdalam pengetahuan saya mengenai
filsafat ilmu pengetahuan alam. Sebenarnya waktu saya mahasiswa ITB saya sudah
tahu bahwa sebuah teori ilmiah tidak pernah dapat dibuktikan benar. Tetapi
mengapa praktis semua orang Kristen termasuk para pendeta dan dosen teologi
seperti Mulder dan Nyhuss gentar menghadapi teori evolusi? Saya baca buku "The
Genesis Record" oleh H.M. Morris Ph.D. dan kemudian berkorespondensi dengan
beliau. Beliau berkenan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Saya baca kembali
argumen-argumen para evolusionis, para kreasionis dan para filsuf ilmu
pengetahuan alam yang paling mutakhir. Saya tambah yakin bahwa sebuah teori
ilmiah memang tidak pernah dapat dibuktikan benar, maksimal dapat dikatakan ia
belum terbukti salah. Dengan segala Kejujuran IImiah (Scientific Integrity) dan
segala Kejujuran Agama (Religious Integrity) saya bertanya apakah teori evolusi
maupun teori kreasi itu ilmu pengetahuan alam atau agama? Kalau ilmu pengetahuan
alam maka mereka tidak pernah dapat dibuktikan benar. Mengapa para pendeta dan
dosen teologi sedunia begitu takut dan gentar untuk mengatakan hal ini demikian?
Karena pengalaman menghadapi teori Heliosentris Copernicus/Galileo masih
menghantui mereka. Para teolog sedunia kini trauma menghadapi teori-teori para
ilmuwan, teruatama teori evolusi. Memang disana-sini ada teolog yang mengutuk
teori evolusi tanpa mengemukakan alasan-alasan yang rasional. Jadi siapa yang
harus jelaskan semua hal ini? Para ilmuwan, para akhli teknik, para dokter dan
para filsuf yang mengerti duduknya persoalan dengan jelas. Morris telah menjadi
pelopor di-Amerika Serikat. Gerakan ini disebut "The Creationists Movement".
Salah satu sponsor gerakan ini ialah "Institute for Creation Research" yang
didirikan dan diketuai oleh Henry Madison Morris Ph.D. Kini diketuai oleh
anaknya John Morris Ph.D. Kemudian gerakan kreasionis di-Amerika Serikat
mempengaruhi Canada, Eropah Barat, Eropah Timur, Asia dan Afrika. Kini ada
ribuan bahkan mungkin puluhan ribu ilmuwan yang bergelar S3, S2 dan S1 yang
menyatakan diri mereka kreasionis..
Pada tahun 1986 dan lebih tegas lagi 1987 saya menyatakan diri saya kreasionis.
Alkitab adalah Firman Allah, dan yang Allah maksudkan adalah seluruh isi Alkitab
dari halaman pertama sampai halaman terakhir, dari Kejadian 1:1 s/d Wahyu 22:21.
Demikianlah kesaksian saya, kiranya menjadi berkat.
Oleh: Stanley I. Sethiadi
Kesaksian yang mirip terdapat di www.sahabatsurgawi.com, dimuat di Dianweb setelah diperbaharui oleh Bp. Sethiadi sendiri (July 2002) dan atas seijin Sahabat-surgawi.