kembali ke sebelumnya | Home |

 

Catatan dari Dianweb :

Buku "ALLAH DAN PERADABAN TIONGKOK PURBAKALA" adalah terjemahan dari "God and the Ancient Chinese" yang dijual di toko-toko buku Kristen.  Apa yang dimuat di sini adalah draft terjemahan sehingga terdapat perbedaan redaksional dengan terjemahan yang yang dicetak dalam buku.

 

 

ALLAH DAN PERADABAN TIONGKOK PURBAKALA

Samuel Wang dan Ethel R. Nelson

PAN-ASEAN FOUNDATION, INC

P.O. BOX 9916 Glendale, CA 91226

 

 

Dipersembahkan

Kepada Orang Kudus yang mati di kayu salib, dan kepada orang-orangTionghoa serta seluruh dunia yang untuk siapa Dia telah mati.

 

Dan apabila ada orang bertanya kepadanya: Bekas luka apakah yang ada pada badanmu ini?, lalu ia akan menjawab: Itulah luka yang kudapat di rumah sahabat-sahabatku.” (Zakharia 13:6).

 

 

**Daftar Isi **

Tentang Penulis

Pendahuluan

Kata Sambutan

Bagian I: Allah Memerintah Atas Tiongkok

1.      Tiongkok dalam Nubuatan di Alkitab

2.      Menemukan Nabi-Nabi Tiongkok Purbakala

3.      Sumber dan Pemeliharaan dari Tiongkok Klasik

4.      Nubuatan Mencius yang Mengagumkan

5.      Allah Tiongkok yang Pertama

 

Bagian II: Misteri Dao

6.      Menyingkapkan Misteri Dao

7.      Nafas Allah

8.      Rencana Surga yang Besar

9.      Tuan dan Mimpinya

 

Bagian III: Orang Kudus

10.   Lihatlah Orang Kudus!

11.   Penderitaan Orang Kudus

12.   Puisi sang Pencipta

13.   Jalan yang Paling Bagus

 

Bagian IV: Putera-Putera Pangeran

14.   Jalan Manusia

15.   Buku Baru Perubahan-Perubahan

16.   Komunikasi dengan Surga

17.   Bait Surga

 

Bagian V: Dao yang Terhilang Dipulihkan

18.   Kebenaran Pertama dan Penyesatan Pertama

19.   Waktunya Telah Tiba

20.   Jalannya Surga

21.   Harmoni Dunia yang Luar Biasa

 

Epilog

Referensi dan Catatan

Bibliografi

Lampiran Kutipan dalam bahasa Tiongkok dari Klasik

 

 ---------------

 

 

**Tentang Penulis**

 

“Puisi adalah untuk mengekspresikan keinginan seseorang, dan menulis adalah untuk menyampaikan Dao (Tao, kebenaran).”

 

Ini adalah peribahasa sejati Tionghoa.

Dao agung dari Surga dan pengajaran raja-raja dan orang bijak Tiongkok kuno sebenarnya telah terekam lebih dari  2000 tahun sebelum Kristus (SM) dalam tulisan-tulisan Tiongkok kuno. Pelajaran dari tahun yang terdahulu selalu menjadi berkat di hari ini. Banyak yang dapat dipelajari, baik darii Tiongkok Modern maupun Masyarakat Barat, dari cara Allah berurusan dengan bangsa Tiongkok purbakala.

 

            Allah dan Bangsa Tiongkok Purbakala adalah sebuah penelitian yang unik dan komparatif terhadap tulisan-tulisan Tiongkok klasik dengan Alkitab. Ini merupakan saksi dari “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia,” (Yoh.1:9), dan kebenaran dari “Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kisah 10:34, 35). Allah bangsa Tiongkok Purbakala adalah Allah yang ada di Alkitab.

 

            Untuk menulis buku semacam itu jauh melampaui apa yang dapat kubayangkan sebelumnya. Aku dilahirkan di sebuah keluarga petani dekat Sungai Yangtze. Ayahku hanya mengenyam pendidikan sekolah selama enam bulan. Seluruh pelajaran yang didapatnya diambil dari apa yang disebut sebagai Four Books (Empat Buku), koleksi dari pengajaran-pengajaran Confucius dan Mencius, yang telah dihafalkannya. Kami adalah sebuah keluarga besar – selalu dibutuhkan dua meja supaya setiap kami semua dapat duduk dalam pertemuan-pertemuan keluarga. Pada acara reuni keluarga di rumah orang tuaku, ayahku akan selalu menceritakan kisah yang diambilnya dari Four Books ini. Khususnya ia menyukai The Works of Mencius (Karya Mencius). Tradisi ini telah dilakukan selama bertahun-tahun, dengan pengajaran-pengajaran serupa yang diulang kembali dari waktu ke waktu – sekarang bahkan generasi ketiga dapat mengulangi kisah-kisah dan pepatah-pepatahnya. Acara ini memberikan kesempatan istimewa bagi generasi yang lebih muda untuk dididik dalam tradisi-tradisi besar dari tulisan-tulisan purbakala ini, dijalin bersama dengan kasih orang tua kami yang dalam untuk mereka. Dampaknya sungguh luar biasa.

 

            Tetapi ayahku tidak lagi memiliki buku-buku ini. Satu set yang dimilikinya, yang disimpan dengan baik dalam sebuah kotak kayu berkualitas, telah lenyap bersama barang-barang lainnya di dalam rumah ketika bencana banjir menimpa sebelum aku dilahirkan. Tetapi kami melihat bahwa bahkan sebelum ia dapat memahami buku-buku itu, ia telah diharuskan untuk menghafal semua isinya. Itu adalah praktek untuk mengajarkan murid-murid Tiongkok di jaman ayah. Aku tidak pernah dapat melupakan pemandangan saat ayah melihatku membawa hadiah di hari ulang tahunnya ke-70 yang sangat penting. Ia melompat dari kursi untuk menerima Four Books dalam edisi modern, air mata mengalir di wajahnya yang berkerut. Lama, ia berdiri saja tanpa berkata-kata, memegang buku itu seperti memegang tangan dari seorang teman yang telah lama hilang.

 

            Tahun 1994, aku pulang ke rumah untuk mengikuti lagi perayaan ulang tahun ayahku. Karena aku telah menerima Yesus Kristus sebagai Sahabat dan Juru Selamatku, kali ini aku menghadiahkan buku lainnya kepada ayah – Alkitab. Setelah membacanya dengan seksama, ia berkata bahwa pengajaran-pengajaran Yesus bahkan lebih bagus dan lebih jelas dari pada Four Books. Anda mungkin sudah menyimpulkan dengan benar bahwa kedua orang tuaku menjadi orang Kristen pertama di desanya. Sejak itu mereka menjadikan rumah mereka menjadi gereja rumah.

 

            Minatku terhadap Alkitab pertama kali berkobar ketika mengikuti kuliah bahasa-bahasa sosial yang diberikan oleh John Evans, seorang guru Amerika dalam program kesarjanaanku. Bapak Evans selalu menutup pertemuan kelas dengan menganalisa sebuah huruf Tiongkok, dan menghubungkan kisah yang sesuai yang tercatat dalam “Buku favorit” nya, sebuah frase yang ia gunakan di dalam kelas komunis, yang menunjuk kepada Alkitab. Semua murid kagum melihat hubungan yang integral dari huruf-huruf  Tiongkok dengan Alkitab. Kemudian Bapak Evans memberikan salinan Discovery of Genesis (Penemuan Kitab Kejadian) kepadaku, buku yang ia gunakan untuk pembelajaran huruf di dalam kelas. Itulah perkenalan pertamaku dengan nama Dr. Ethel Nelson, pengarang lainnya dari buku yang anda baca sekarang. Buku-buku pelajaran-huruf milik Dr. Nelson telah menanamkan benih-benih Surga di dalam hati banyak orang Tiongkok modern, termasuk diriku. Aku menyadari dan menerima untuk pertama kalinya  fakta yang paling jelas dan paling ilmiah: Tiongkok modern berasal dari Tiongkok purbakala; dan Tiongkok purbakala berasal dari Allah dan bukan dari Manusia Peking!

 

            Jika huruf-huruf Tiongkok kami dapat membawakan begitu banyak informasi tentang Allah, betapa harus lebih banyaknya lagi pewahyuan tentang Allah kepada kita yang dibawakan oleh tulisan-tulisan purbakala, yang ditulis dengan huruf-huruf ini. Seperti yang telah anda lihat, minat dan cintaku terhadap karya Tiongkok Klasik ditanamkan dalam hatiku ketika aku masih sangat muda, dan aku selalu ingin memahami buku-buku yang sangat disayangi oleh ayahku ini. Ketika mempelajarinya sendiri, sebuah dunia yang baru terbuka untukku. Penerimaan orang tuaku terhadap Kekristenan meyakinkan diriku lebih dari segalanya bahwa pasti ada hubungan yang dekat antara pengajaran orang-orang bijak Tiongkok dan Yesus.

 

            Yesus berkata kepada bangsa Yahudi, “Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?” (Yoh. 5:46, 47). Ini seharusnya juga berlaku bagi mereka yang mengasihi dan mempercayai orang-orang bijak Tiongkok purbakala, karena mereka juga menulis tentang Dia, seperti yang akan and temukan dalam buku ini

 

            Semua peristiwa yang terjadi ini memimpinku pada gagasan untuk menulis buku ini. Adalah kehormatan istimewa dan kesukaan tersendiri bagiku untuk dapat bekerja dengan Dr. Nelson, yang masukannya telah membuat buku ini dapat diwujudkan. Kami berdua percaya bahwa Ketetapan ilahilah yang telah memimpin kami untuk bekerja sama. Ungkapan Tiongkok, “melalui yang lama dilahirkanlah yang baru,” mengandung prinsip yang sama dengan yang Yesus katakan dalam Matius 13:52: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” Tentu saja, kami bukanlah ahli Taurat maupun sarjana Tiongkok Klasik dalam arti yang sebenarnya, namun “harta yang baru dan yang lama” ditemukan dalam upaya kami yang sederhana. Harapan kami adalah, di dalam terang Alkitab, buku ini akan memulihkan pengajaran-pengajaran para raja dan orang-orang bijak purbakala yang telah disimpangkan, dan menjadi pertolongan dalam mengobarkan kasih jaman dulu kala kepada Allah di dalam hati rakyat Tiongkok.

 

            Secara khusus aku ingin berterimakasih kepada Dr. David Lin, yang, kebetulan, telah membaptisku dalam bak mandi di Shanghai, dan yang baru-baru ini telah bersusah payah meninjau naskah ini serta mendorong kami dalam mengejar pelajaran yang penting ini. Terimakasih kami yang teristimewa ditujukan kepada Bob Smith dan Wayne Senner untuk bantuan mereka yang besar. Penghargaanku untuk Dr. dan Ibu Yew Por Ng yang telah mempertemukanku dengan Dr. Nelson. Jeff dan Christy Reich telah memberikan kepada kami dukungan mereka dalam banyak hal. Gambar sampul dibuat oleh seniman, Li Wei San, setelah beberapa percakapan telepon ke Tiongkok, dimana ia tinggal. Terri Prouty membantu merancang sampul, dan juga pengeditan salinan. Terimakasihku secara pribadi kepada Dr. Drew Liu dan Dr. Andrew Lai, yang persahabatan dan bantuannya telah menjadi kesaksian yang hidup bagiku bahwa kami memang memiliki Bapa yang penuh kasih di Surga. Aku juga sangat berhutang kepada Dr. Charles Taylor, Dr. dan Ibu Sukachevin, Traci Lemon, Bapak dan Ibu Shen, Dr. dan Ibu Dai, Dr. Samuel Young, Pendeta Joseph Jiao, Dr. Joseph Hwang dan seluruh keluarga gerejaku, dan mereka semua yang mendukung penelitian kami dalam banyak cara.

 

            Akhirnya, aku ingin mengekspresikan terimakasih kami kepada misionari abad terakhir, James Legge, yang terjemahan Tiongkok Klasiknya telah menjadi bantuan yang besar dalam mempersiapkan buku ini. Terjemahan teks-teks Tiongkokku mungkin kadang-kadang sangat berbeda dengan terjemahannya. Aku bertanggung jawab untuk setiap kesalahan di dalam penerjemahan.

 

Samuel Wang

28 September 1998

Chinese Ministry International

PO Box 958

Whitwell, TN 3739

 

 

**Kata Sambutan**

 

            Merupakan hak istimewa bagiku untuk dapat mengenal Samuel Wang dan Dr. Ethel Nelson selama tahun-tahun mereka tinggal di Tiongkok. Persahabatanku dengan Samuel Wang dimulai setelah ia menghabiskan banyak tahun sebagai guru pemimpin Yoga di Tiongkok. Ia telah belajar di bawah asuhan guru Hindu terkenal dan telah menerjemahkan, menerbitkan dan mendistribusikan banyak judul dari kitab Yoga, termasuk Bhagavad-gita As It Is, di seluruh Tiongkok, dan telah membesarkan sejumlah kelompok peminat Yoga diantara mahasiswa-mahasiswa universitas Tiongkok.

            Ia telah membaca Alkitab sebelumnya, tetapi tidak pernah melihat sedikitpun terang di dalamnya sampai ia dipimpin pada pemahaman yang tepat tentang kebenaran tentang hidup dan mati, yang ditulisnya bersama Dr. Nelson secara mendalam di buku ini. Itu meyakinkannya bahwa kebenaran yang dicarinya ada di dalam Alkitab. Ia menanggalkan semua kesalahan agamawi tentang reinkarnasi, apa yang disebut “evolusi spiritual,” dan dewa-dewa palsu, dan mendedikasikan dirinya untuk mempelajari dan memberitakan Yesus Kristus, Putera Allah, seperti yang diwahyukan di dalam Alkitab. Ini membawanya kepada banyak penemuan baru dalam Tiongkok Klasik, dimana ia telah dilatih sejak masa kanak-kanak.

 

            Dr. Nelson adalah seorang dokter misionari di Thailand selama dua puluh tahun, dan setelah itu ia digerakkan untuk mempelajari ilmu bahasa-bahasa dan etimologi (ilmu asal kata). Penelitian pertamanya muncul dalam The Discovery of Genesis, ditulis bersama Pendeta C.H. Kang. Buku terakhirnya adalah God’s Promise to the Chinese. Kedua buku tersebut berisi perbandingan antara huruf Tiongkok dan Alkitab.

 

            Pengarang-pengarang buku ini memiliki latar belakang yang sangat berbeda, namun memiliki iman yang sama terhadap Kitab Suci, dan juga keyakinan yang sama bahwa ada persekutuan yang dekat antara Allah dan bangsa Tiongkok purbakala, seperti yang ditunjukkan dengan jelas dalam tulisan-tulisan Tiongkok tertentu, demikian juga dalam huruf-huruf Tiongkok.

 

            Penelitian yang dikerjakan oleh Samuel Wang dan Ethel Nelson dalam bidang khusus mereka telah menghasilkan buah dalam buku ini, yang sekarang dipublikasikan terpisah dalam bahasa Tiongkok dan Inggris. Walaupun keduanya mengandung substansi yang sama, namun tak satupun yang merupakan terjemahan dari yang lainnya. Dalam masing-masing buku, pembaca akan menemukan kekayaan materi untuk mendemonstrasikan bahwa Allah mengasihi “orang kafir” sama seperti mengasihi mereka yang memiliki pengetahuan dari kebenaran Alkitab. Rasul Petrus berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” Kisah 10:34, 35.

            Para pengarang telah mengerahkan upaya mereka dalam menggali kebenaran-kebenaran Alkitab yang telah terkubur dalam karya-karya orang-orang bijak Tiongkok purbakala, yang, diyakini Samuel, dibangkitkan oleh Allah untuk mendidik dan memajukan masyarakat Tiongkok.

 

            Tiongkok bertahan sebagai satu-satunya negara Asia yang waktu berdirinya berkisar saat Mesir, Asiria dan Babylon maju pesat ke arah barat. Hari ini masyarakat purbakala itu telah lama punah. Tulisan Mesir dan tulisan-tulisan kuno mereka adalah bahasa mati yang dikenal hanya oleh beberapa sarjana, sementara ras dan kebudayaan Tiongkok terus tumbuh dengan subur, sekarang di milleniumnya yang kelima, dan merupakan sebuah faktor positif dalam dunia modern.

            Samuel Wang dan Dr. Nelson percaya bahwa vitalitas Tiongkok terutama dikarenakan oleh pengaruh yang tersimpan dari pengajaran prinsip-prinsip etika yang mulia yang diajarkan dan dipelihara dalam Tiongkok klasik purbakala, tetapi telah hilang dalam kesusastraan ras-ras purbakala lainnya selain bangsa Yahudi. Ini adalah pikiran pokok dalam bab-bab buku ini. Samuel Wang melangkah begitu jauh dengan mempercayai bahwa Allah membangkitkan nabi-nabi di Tiongkok dengan cara yang sama seperti Ia memanggil nabi-nabi bangsa Israel purbakala, walaupun mungkin, tidak begitu langsung berbicara kepada mereka.

           

            Banyak yang menulis tentang kebudayaan Tiongkok, dan  juga penelitian terhadap Alkitab, tetapi sedikit sarjana yang mengusahakan perbandingan sistematis antara tulisan-tulisan etis Tiongkok purbakala dengan teologia alkitabiah. Perbedaan bahasa telah menjadikan hal tersebut sulit untuk sampai pada terminologi yang umum, namun pemikiran yang tajam dapat melihat kesamaan dari konsep-konsep moral Tiongkok dengan gagasan-gagasan ilahi yang diwahyukan dalam Alkitab. Sekarang kita memiliki dasar untuk mempercayai bahwa dua aliran pikiran ini berasal dari sumber yang sama. Karya yang dibuat sekarang ini berusaha keras menjembatani jurang peristilahan untuk menemukan sumber yang umum. Dan para pengarang membayangkan bahwa risalat ini dapat dinilai sebagai upaya awal pada teologi sistematis drai Tiongkok Klasik.

 

            Samuel Wang mengamati bahwa bangsa Tiongkok purbakala telah lama menantikan kemunculan Pangeran, Raja, Orang Kudus, titisan Dao, Orang yang Setia, Putera Surga, datang dari atas untuk mengajarkan, membawa damai dan kasih kepada dunia dan menegakkan Harmoni yang Agung. Buku ini menjelaskan bahwa semua kerinduan dan nubuatan ini digenapi dalam diri Seseorang yang mati di kayu salib.  Di sini terang yang lebih kecil dalam tulisan-tulisan Tiongkok purbakala bertemu dengan Terang yang Besar, “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yoh. 1:9). Yesus Kristus adalah Dia yang ditunjuk dan disaksikan oleh Tiongkok Klasik! Alkitab sungguh-sungguh merupakan Kitab dari Allah Surgawi!

            Lebih dari satu abad masa penemuan-penemuan arkeologi telah meneguhkan keakuratan sejarah dari Alkitab. Karena tidak seirispun bukti-bukti nyata yang ditemukan menyangkal catatan Alkitab. Penemuan-penemuan kedua pengarang kita telah menambahkan semakin banyak fakta dari sudut yang berbeda untuk memperkuat observasi ini. Sebuah contoh adalah pada tahun 1766 SM. Kejadian 41:57 berkata bahwa tujuh tahun masa kelaparan di jaman Yusuf terjadi di “seluruh dunia,” bukan hanya di Mesir saja. Mengambil tahun 2348 SM sebagai tahun Air Bah Nuh menurut kronologi James Ussher, dan kemudian menambahkan umur para bapa dan nabi seperti yang tercatat dalam Kejadian 10 -46, kita sampai pada tahun 1766 SM sebagai tahun dimana Yakub masuk ke Mesir di usia 130 tahun. Itu adalah tahun kedua dari masa tujuh tahun kelaparan. Sekarang, tahun 1766 SM merupakan tahun pertama dari dinasti Chinese Shang (1766-1123 SM). Sebuah referensi dari Lu’s Spring and Autumn (Musim Semi dan Musim Gugur Lu) berkata bahwa lima tahun kelaparan terjadi pada permulaan pemerintahan Raja Tang, monarki pertama dari dinasti tersebut. Selanjutnya para penulis telah mengoreksi pernyataan ini dengan mengutip catatan-catatan terdahulu untuk menunjukkan bahwa bencana kelaparan benar-benar terjadi selama tujuh tahun, dimulai dua tahun sebelum perubahan dinasti. !766 SM merupakan waktu yang tepat! Ini adalah salah satu keselarasan yang luar biasa antara sejarah Tiongkok dan catatan Alkitab. Ini merupakan bukti yang kuat yang menunjukkan keakuratan dari catatan Alkitab.

 

            Setelah membaca buku ini, saya dapat mengatakan bahwa setiap pembaca yang bijaksana akan memperoleh manfaat bukan saja secara intelektual, tapi juga secara spiritual. Bagi orang yang mempercayai Alkitab, bukti yang segar akan menguatkan imannya. Bagi orang yang asing dengan Alkitab, banyak fakta akan meyakinkannya akan keunikan nilai buku itu – bahwa itu adalah sungguh-sungguh firman Allah.

 

David Lin

Pensiunan Gembala gereja Mu En Tang

Shanghai, China

 

kembali ke sebelumnya | Home |