KEMBALI KE-ALKITAB, KEMBALI KEKITAB KEJADIAN

Oleh Ir Stanley I. Sethiadi.

 

PENGANTAR.

Kreasionisme bukanlah sebuah aliran baru, tetapi suatu cara memandang alam semesta dan umat manusia khususnya. Apa yang dikatakan Alkitab dan apa yang dikatakan manusia? Apakah kita ada didunia ini secara kebetulan melalui mekanisme evolusi, atau diciptakan secara khusus oleh Sang Pencipta untuk tujuan khusus pula? Dunia pendidikan dari SD s/d universitas seolah-olah menganggap bahwa teori evolusi mutlak benar. Demikian juga surat kabar, majalah-majalah dan tv sedunia seolah-olah mengganggap teori evolusi mutlak benar. Apakah teori evolusi telah betul-betul dibuktikan secara ilmiah? Apakah itu yang disebut “Ilmiah”? Kalau sesuatu terbukti secara ilmiah apakah ia lalu mutlak benar? Mari kita pelajari hal ini lebih mendalam.

 

I. SEJARAH KREASIONISME VERSUS EVOLUSIONISME.

Pergumulan antara kreasionisme versus evolusionisme sesungguhnya merupakan pergumulan umat Kristen dari awal agama Kristen diabad pertama sampai sekarang. Lebih luas lagi, ini adalah pergumulan umat manusia dari awal sejarah umat manusia sampai sekarang. Apakah alam semesta termasuk umat manusia selamanya ada, terjadi secara kebetulan melalui proses evolusi atau diciptakan seorang pencipta langsung jadi menurut suatu design khusus? Tulisan-tulisan manusia sejak zaman dahulu telah membahas soal ini. Alkitab yang telah ditulis ribuan tahun yang lalu (Kitab Kejadian secara tradisionil dipercaya ditulis oleh Musa kira-kira 3600 tahun yang lalu) telah membahas hal ini. Disamping itu ada tulisan-tulisan kuno dari Babilonia, Mesir, Tiongkok, Yunani dll yang juga mengisahkan terjadinya alam semesta termasuk umat manusia. Ada yang mirip sekali dengan kitab Kejadian, tetapi ada juga yang berbeda jauh. Dalam karangan ini kita akan membahas apa yang dikatakan Alkitab dan apa yang dikatakan manusia terutama para filsuf dan para ilmuwan. Mari kita pelajari masalah ini lebih luas dan lebih mendalam.

 

II. APAKAH YANG DIKATAKAN ALKITAB?

Tuhan Yesus sendiri berkata (Matius 5:18)

Karena Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Tuhan Yesus sendiri mengatakan mengenai Alkitab agar orang jangan merubah satu titik atau satu iotapun. Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Alkitab benar.

Rasul Paulus menulis dalam 2 Timotius 3:16

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Pada zaman Paulus hidup, yang dimaksud dengan segala tulisan yang diilhamkan Allah adalah apa yang kita kini kenal sebagai Perjanjian Lama. Paulus percaya bahwa Perjanjian lama adalah tulisan yang diilhamkan Allah (Pasa Graphe Theopneostos).

 

II-1. KATA “HARI” DALAM KEJADIAN 1.

Apa yang dikatakan Yesus dan Paulus diatas berlaku untuk seluruh Perjanjian Lama, dan tentu saja termasuk Kejadian 1. Masakini, banyak teolog, bahkan teolog injili sekalipun seperti John Stott, sangsi untuk menafsirkan kata “hari” dalam kitab Kejadian 1, sebagai hari harafiah. Tetapi hari yang ada petangnya dan paginya jelas hari harafiah.

Saya percaya bahwa Musa yang menulis Kitab Kejadian. Musa seperti tahu bahwa suatu saat orang akan menyangsikan pernyataannya ini. Ia mengulang-ulang kata “jadilah petang, jadilah pagi”. Dapatkah Musa lebih tegas lagi untuk menyatakan bahwa ia betul-betul maksudkan hari harafiah? Darimana Musa dapat tahu bahwa ada manusia abad ke-19 dan apalagi abad ke-20 yang akan menyangsikan pernyataannya ini? Tentu saja karena ia mendapat Wahyu Khusus dari Allah. Thomas Aquinas (1224-1274) membahas ini dengan panjang lebar. Ia menyimpulkan bahwa kata “hari” dalam Kejadian 1 betul-betul berarti hari harafiah (“Summa Theologica” Question LXXIV article 2, reply to objection no 7). Sampai dengan akhir abad ke-18 praktis semua teolog Kristen, baik Katolik Roma maupun Protestan percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta termasuk manusia dalam waktu enam hari harafiah. Keraguan baru muncul pada abad ke-19 dan apalagi abad ke-20.

 

II-2 UMUR BUMI MENURUT ALKITAB.

Bilamana Allah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya? Memang tidak ada angka yang sangat tegas mengenai ini. Berbeda dengan kata 6 hari diatas. Tetapi orang dapat membuat exegese yang sehat mengenai hal ini. Dalam Kejadian 5:3 kita baca:

“Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya”.

Dalam dafar berikut kalau disebelah nama Adam ditulis angka 130 dan dibawahnya nama Set, maka artinya umur Adam 130 tahun waktu Set lahir.

Adam 130

Set 105

Enos 90

Kenan 70

Mahalaleel 65

Yared 162

Henokh 65

Metusalah 187

Lamekh 186

 Nuh ---------

1056

Jadi dari Adam sampai Nuh lahir ada selang waktu 1056 tahun. Waktu terjadi banjir besar, umur Nuh 600 tahun. Jadi banjir Nuh terjadi 1656 tahun sejak Adam diciptakan Allah. Selanjutnya:

Nuh 500

Ham, Sem, Yaphet 100

Arphaksad 350

Selah 30

Eber 34

Peleg 30

Rehu 32

Serug 30

Nahor 29

Terah 70

Abram 100

Ishak 60

Esau, Yakub ---------

                    1365

Antara Adam sampai Yakub lahir ada selang waktu 2421 tahun. Kemudian saya tidak dapatkan lagi angka-angka berdasarkan usia manusia. Tetapi ayat-ayat berikut dapat dipakai untuk menghitung usia bumi sejak Yakub lahir sampai Salomo meninggal dunia.

Kejadian 47:8,9 Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub: “Sudah berapa tahun umurmu?” Jawab Yakub kepada Firaun: “Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun ......”

Keluaran 12:40 Lamanya orang Israil diam di-Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun.

1 Raja-raja 6:1 Dan terjadilah pada tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israil keluar dari Tanah Mesir pada tahun keempat sesudah Salomo menjadi raja ............

1 Raja-raja 11:42 Lamanya Salomo memerintah Yerusalem atas seluruh Israil ialah empat puluh tahun.

Jadi dari Adam sampai Salomo meninggal dunia ada selang waktu 3497 tahun. Selanjutnya saya tidak dapat angka-angka yang tepat lagi dari Salomo meninggal sampai Yesus lahir. 1 Tawarikh 3:10 s/d 24 dan Matius 1 menyebutkan jumlah generasi dari Salomo sampai Yesus lahir ada kira-kira 30 generasi. Kalau satu generasi 30 tahun, maka 30 generasi adalah 30 X 30 tahun = 900 tahun.

Menurut Encyclopedia Americana jilid 25 halaman 202, Salomo meninggal pada tahun 922 sebelum Kristus lahir. Bila ini benar maka dari Adam sampai Kristus lahir ada selang waktu 4377 tahun. Jumlah hari per tahun pada zaman Perjanjian Lama mungkin lain dengan zaman sekarang. Mungkin waktu itu setahun dianggap sama dengan 360 hari. Usia Adam waktu Seth lahir dihitung sejak penciptaan Adam atau sejak Adam diusir dari Taman Firdaus? Angka 4377 tahun mungkin tidak tepat benar. Tetapi selisihnya jelas kurang dari 1000 tahun.

Angka-angka lain yang pernah dihitung manusia ialah: Ussher 4004, Yahudi 3760, Septuaginta 5270, Josephus 5555, Kepler 3993, Melanchton 3964, Luther 3961, Lightfoot 3960, Hales 5402, Playfair 4008, Lipman 3916 dsb. (“The Genesis Record” oleh H.M. Morris, halaman 45, Baker Book House, Grand Rapids, Michigan, U.S.A. , 1990).

Augustinus (354-430) dalam bukunya “De Civitate Dei” (“The City of God”) bab 10 mendukung tafsiran Eusebius yang mendasarkannya pada Septuaginta dan menyebut angka kurang dari 6000 tahun. Katakan saja bahwa menurut exegese yang sehat dari Alkitab, umur bumi kurang dari 10.000 tahun.

 

II-3. ADAM.

Kejadian 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.

Kejadian 2:7 ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Jelas bahwa menurut Alkitab, Allah menciptakan Adam langsung jadi, dari debu tanah kurang dari 10.000 tahun yang lalu.

 

III. APA YANG DIKATAKAN MANUSIA MENGENAI UMUR BUMI?

Manusia sepanjang masa memang bertanya-tanya darimana dan bilamana alam semesta beserta umat manusia ini ada. Seorang filsuf Yunani kuno Aristoteles (384-322 sebelum Kristus) berpendapat bahwa alam semesta selamanya ada. Tidak pernah ada masa bahwa alam semesta tidak ada. Tetapi manusia dan binatang darat lainnya menurut Aristoteles berasal dari binatang laut. Herakleitos dan Empedocles juga telah berspekulasi suatu teori evolusi yang samar-samar. Ibn Rushd (1126-1198) yang diberi nama Latin Averoes sependapat dengan Aristoteles bahwa alam semesta selamanya ada. Dalam abad kedua puluh ini pendukung bahwa alam semesta selamanya ada ialah astronom Rusia Vorontzoff Velyaminov dan astronom Inggris Fred Hoyle. Fred Hoyle berpendapat bahwa makhluk hidup dibumi ini berasal dari astronot-astronot angkasa luar yang pernah singgah dibumi. Tetapi ia tidak terangkan darimana berasal manusia angkasa luar itu.

Pada tahun 1749 seorang pangeran dari Perancis G.L. de Buffon menerbitkan bukunya yang diberi judul “Histoire Naturelle” (“Sejarah Alam”). Isinya menerangkan bahwa mula-mula ada zat yang berupa cairan panas. Oleh tabrakan atau hampir tabrakan dengan sebuah komet, sebagian dari cairan panas itu terpental keluar. Dalam waktu 75.000 tahun, cairan yang terpental itu membeku dan menjadi planet-planet dan bulan-bulan. Salah satu planet itu adalah bumi kita ini. Cairan induknya tetap panas dan itulah matahari. Kant dan kemudian Laplace mengatakan bahwa pada mulanya yang ada ialah zat yang berupa kabut atau nebula. Kabut ini berputar dan dalam waktu 5 milliar tahun terjadilah bintang-bintang, planet-planet dan bulan-bulan. Pada tahun 1948 George Gamow mengatakan bahwa pada mulanya yang ada ialah zat yang sangat panas dan sangat padat. Kemudian zat itu memuai. Pada jam pertama terbentuklah atom-atom dan molekul-molekul. Dalam waktu beberapa ratus juta tahun terbentuklah bintang-bintang, planet-planet dan bulan-bulan, dalam waktu 3 milliar tahun terbentuklah manusia. Fred Hoyle dalam siaran radio BBC menyerang teori ini yang diberi nama ejekan “The Big Bang Theory”. Sampai sekarang nama itu melekat pada teori Gamow. Teori itulah yang kini diajarkan disekolah-sekolah dan universitas-universitas seolah-olah itu adalah sebuah fakta.

Pada tahun 1981 Stephen W. Hawking diundang ke-Vatican untuk berbicara pada sebuah konferensi mengenai Kosmologi yang diselenggarakan para rohaniwan Katolik Roma dari ordo Yesuit. Vatican mau menghindari kesalahan seperti pernah mereka lakukan dalam kasus Galileo. Setelah konferensi Paus memberikan sebuah audiensi pada para peserta konferensi. Paus mengatakan: it was all right to study the evolution of the universe after the big bang, but we should not inquire into the big bang itself because that was the moment of Creation and therefore the work of God. Waktu itu Stephen Hawking diam saja. Baru belakangan ia beri komentar.

 

III-1. APAKAH YANG DIKATAKAN STEPHEN HAWKING?

Pada tahun 1988, Stephen Hawking menulis dalam bukunya “A brief history of time” dan yang diterbitkan oleh Bantam Books halaman 10. Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Dr A. Hadyana Pudjaatmaka dan judulnya dirubah menjadi “Riwayat Sang Kala” (Penerbit P.T. Pustaka Utama Grafiti, cetakan ketiga, 1994).

Dalam bukunya itu ia menjawab pernyataan Paus sbb: (“A brief history of Time” by Stephen Hawking, Bantam Books, 1988, page 116): “I was glad then that he did not know the subject of the talk I had just given at the conference - the possibility that space-time was finite but had no boundary, which means that it had no beginning, no moment of Creation.” Ia juga menulis (Ibid page 140): “So long as the universe had a beginning, we could suppose it had a creator. But if the universe is really completely self-contained, having no boundary or edge, it would have neither beginning nor end: it would simply be. What place, then, for a Creator?”

Tetapi apakah Stephen Hawking menuntut bahwa teorinya harus diterima sebagai mutlak benar? Sama sekali tidak. Ia juga menulis sbb (Ibid page 10, Bahasa Indonesia halaman 11-12):

Any physical theory is always provisional, in the sense that it is only a hypothesis: you can never prove it. No matter how many times the results of experiments agree with some theory, you can never be sure that the next time the result will not contradict the theory. On the other hand, you can disprove a theory by finding even a single observation that disagrees with the predictions of the theory.

[Setiap teori fisika selalu bersifat sementara, dalam arti teori itu hanyalah suatu hipotesis; Anda tidak pernah dapat membuktikannya. Tidak peduli berapa kali hasil-hasil eksperimen cocok dengan suatu teori, Anda tidak pernah dapat merasa pasti bahwa lain kali hasil itu tidak akan berlawanan dengan teori itu. Di pihak lain Anda dapat membuktikan bahwa suatu teori itu salah dengan menemukan suatu pengamatan, bahkan satu saja sudah cukup, yang tidak cocok dengan ramalan itu.]

Stephen Hawking setuju dengan filsuf Karl Popper (1902-1994) dan Sir James Jean (1877-1946), bahwa sebuah teori tidak pernah dapat dibuktikan benar. Ini tentu juga berlaku bagi teori-teori ciptaan Stephen Hawking sendiri. Jadi Stephen Hawking tidak pernah mengatakan bahwa teorinya mutlak benar. Ia bahkan berpendapat bahwa teorinya tidak pernah dapat dibuktikan benar. Jadi mengapa para teolog harus berkompromi dengan teori Stephen Hawking????? (Untuk pembahasan yang lebih terperinci mengenai konsep kebenaran dalam ilmu pengetahuan alam, lihat Appendix )

Stephen Hawking sendiri adalah seorang ateis dan percaya bahwa alam semesta berasal dari dentuman besar. Teori dentuman besar (Big Bang) dikemukakan George Gamow pada tahun 1948. Secara singkat teori Gamow adalah sebagai berikut: “Pada mulanya yang ada ialah materi yang sangat padat dan sangat panas. Kemudian materi ini memuai. Dalam satu jam pertama terbentuklah atom-atom dan molekul-molekul. Dalam beberapa ratus juta tahun terbentuklah bintang-bintang dan planet-planet. Dalam waktu 3 milliar tahun terbentuklah manusia.” Ia berspekulasi bahwa dentuman besar itu terjadi 3.4 milliar tahun yang lalu. Stephen Hawking pada tahun 1988 berspekulasi bahwa hal itu terjadi 15 milliar tahun yang lalu. Jadi dalam waktu 40 tahun antara teori Gamow dan Hawking, usia alam semesta bertambah kira-kira 12 milliar tahun.

Hawking sangat toleran terhadap teori kreasi atau teori penciptaan. Bagi mereka yang percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta ini, Hawking menulis (ibid halaman 9): “One could still imagine that God created the universe at the instant of the big bang, or even afterwards in just such a way as to make it look as though there had been a big bang, ........”

(Bahasa Indonesia halaman 10-11) : “Orang masih dapat membayangkan bahwa Tuhan menciptakan jagat raya pada saat dentuman besar itu. Atau bahkan sesudahnya, hanya dengan cara sedemikian agar tampak seakan-akan sebelum itu ada dentuman besar”.

 

III-2. APA YANG DIKATAKAN STEPHEN JAY GOULD?

Seorang evolusionis biologis yang sangat terkemuka masa kini ialah Stephen Jay Gould, pemuka teori “Punctual Equilibrium” dan pemuka teori evolusi yang merupakan modifikasi dari teori Darwin. Menurut Darwin, Gould dan para evolusionis biologis lainnya manusia berevolusi dari binatang, dan binatang berevolusi dari materi mati. Secara garis besar proses evolusi ialah materi mati-protoplasma-protozoa-cacing-ikan-amfibi-vertebrata-primat purba-manusia dan monyet. Manusia bukan keturunan monyet seperti dikira banyak kaum awam, tetapi dari primat purba. Jadi monyet menurut para evolusionis adalah “sepupu” manusia. Dan “sepupu” yang paling dekat ialah simpanse. Gould menulis sebuah artikel dalam majalah “Discover” bulan Januari 1987. Setelah menyatakan imannya yang besar bahwa teori evolusi yang telah dimodifikasinya itu benar ia tambahkan dengan jujur kata-kata sbb: “ ..... though absolute certainty has no place in the lexicon of scientists” (…walaupun kepastian mutlak tidak ada dalam kamus para ilmuwan).

 

III-4. APA YANG DIKATAKAN CHARDIN DAN BANYAK TEOLOG LAIN?

Diatas kita lihat bahwa ilmuwan evolusionis astronomis Stephen Hawking dan ilmuwan evolusionis biologis Stephen Jay Gould, tidak pernah menuntut bahwa teori-teori ilmiah, termasuk teori-teori mereka sendiri diterima sebagai mutlak benar. Dengan lain perkataan dua evolusionis top masakini berpendapat bahwa teori evolusi bisa salah. Begitulah apa yang disebut ilmu pengetahuan alam.

Tetapi mengapa Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 23 Oktober 1986 mengatakan bahwa teori evolusi lebih dari sekedar teori? Apakah menurut Paus, teori evolusi harus diterima sebagai mutlak benar? Sebenarnya Paus Yohanes Paulus II hanya mengikuti apa yang dikatakan seorang rohaniwan Katolik Roma Pater Teilhard de Chardin. Pater Teilhard de Chardin S.J. (1881-1955) menulis sbb.: “Evolution is a general condition to which all theories, all hypotheses, all system must bow, and which they must satisfy henceforward if they are to be thinkable and true. Evolution is a light illuminating all facts, a curve that all line must follow.” (Evolusi adalah kondisi umum dimana semua teori dan semua hipotese harus tunduk, dan yang selanjutnya harus dipenuhi kalau ia mau dapat dipikirkan dan benar. Evolusi adalah cahaya yang menerangi semua fakta, sebuah kurva yang harus diikuti oleh semua garis.) Dengan lain perkataan, segala sesuatu yang bertentangan dengan teori evolusi, menurut Chardin, adalah salah. Ilmu pengetahuan alam harus tunduk secara mutlak pada prinsip evolusi. Chardin adalah seorang rohaniwan yang pernah belajar ilmu pengetahuan alam, terutama teori evolusi baik evolusi geologis maupun biologis. Katanya ia turut berjasa dalam penggalian fosil Homo Pekingensis disekitar Peking atau Beijing. Sebagai seorang rohaniwan Katolik Roma, Pater Chardin berpikir sebagai rohaniwan. Ilmu Pengetahuanpun mau dijadikannya semacam “agama”. Ia menuntut bahwa prinsip evolusi harus diterima sebagai kebenaran mutlak. Yang boleh dikoreksi hanyalah mekanisme evolusi.

PATER TEILHARD DE CHARDIN S.J. TELAH MEMBUAT EVOLUSI MENJADI SEMACAM “AGAMA” , YANG HARUS DITERIMA SEBAGAI MUTLAK BENAR.

Chardin begitu fanatik sehingga ia bukan hanya menuntut agar semua ilmu pengetahuan tunduk pada prinsip evolusi, tetapi ia juga tuntut agar Alkitab tunduk pada prinsip evolusi. Ayat-ayat Alkitab yang tidak bertentangan dengan teori evolusi boleh ditafsirkan harafiah kalau mau, tetapi yang bertentangan dengan teori evolusi “hanya” dapat diterima secara simbolis/allegoris. Berdasarkan prinsip tersebut ia menafsirkan ulang Alkitab dan menyebutnya “tafsiran baru.”

Mula-mula Vatican menolak teori-teori dan tafsiran Alkitab Chardin. Chardin bahkan hampir dikucilkan dari gereja Katolik Roma. Pada tahun 1962 Vatican melarang mahasiswa teologi membaca buku-buku Chardin. Tetapi kemudian timbul banyak perdebatan-perdebatan. Makin lama makin banyak rohaniwan Katolik Roma yang mendukung Chardin. Pada tanggal 23 Oktober 1996, Paus mengeluarkan pengumuman diatas. Tetapi Paus tidak bicara ex-Cathedra, artinya orang Katolik boleh menerimanya kalau setuju dan boleh menolaknya kalau tidak setuju. Paus hanya bicara ex-Cathedra dalam hal agama dan etika. Dan teori evolusi masih dianggap adalah teori dalam bidang ilmu pengetahuan alam.

Kemudian teolog-teolog protestan juga pada lata mendukung teori evolusi. Di-Amerika Serikat seorang teolog protestan Dr Hugh Ross juga mendukung teori evolusi. Di-Indonesiapun beberapa STT sudah menerima “agama” evolusionisme dalam STT mereka.

 

IV. ANJURAN-ANJURAN KEPADA ORANG KRISTEN.

Sampai dengan akhir abad ke-18 praktis semua teolog percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam waktu enam hari kurang dari 10.000 tahun yang lalu. Tetapi kemudian pada abad ke-19 apalagi abad ke-20 banyak teolog yang berkompromi dengan teori evolusi (“Day-age theory, Gap-theory, Theistic evolution dsb). Banyak teolog menafsirkan Adam sebagai makhluk atau makhluk-makhluk pertama yang beralih dari binatang menjadi manusia atau pakai istilah Chardin makhluk yang beralih dari Bio-sphere ke Noo-sphere, makhluk yang beralih dari lingkungan hidup kelingkungan pikiran. Tetapi kompromi-kompromi demikian sangat berbahaya.

Roma 5:17 Sebab, jika oleh dosa satu orang maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

Adam yang diciptakan Allah pada kitab Kejadian 1 kadang-kadang disebut Adam pertama, dan Yesus Kristus kadang-kadang disebut Adam kedua. Kalau Adam pertama “hanya” simbolis, maka konsekwensi logis Adan kedua juga “hanya” simbolis. Kalau Adam pertama “hanya” simbolis maka kejatuhan dalam dosa juga “hanya” simbolis. Konsekwensi berikutnya keselamatan dikayu salib juga “hanya” simbolis. Apa yang sisa dari iman Kristen? Kompromi-kompromi seperti inilah salah satu sebab timbulnya paham liberal. Pada abad ke-16 para teolog, baik Katolik Roma maupun Protestan, mengutuk teori Heliosentris. Kemudian setelah teori Heliosentris makin mantap, mereka kompromikan Alkitab dengan teori Heliosentris. Kemudian para rohaniwan mengutuk lagi percobaan-percobaan manusia untuk terbang. Setelah teknik penerbangan maju, mereka kompromi lagi. Para teologpun sering terbang kemana-mana. Kemudian para teolog mengutuk lagi teori evolusi. Kini banyak teolog yang berkompromi dengan teori evolusi. Hal mengutuk kemudian kompromi berulang-ulang ini, menghancurkan kewibawaan intelektuil para teolog diseluruh dunia terutama di-Eropah Barat dan Amerika Serikat. Pada tahun 1925, Alfred North Whitehead menulis mengenai hal ini sbb.: “The result of the continued repetition of this undignified retreat, during many generations, has at last almost entirely destroyed the intelectual authority of religious thinkers.” (“Science and the Modern world” by alfred North Whitehead, The New American Library, 1958, page 188). Belajarlah dari sejarah! Tidak perlu menyesalkan kesalahan-kesalahan para teolog dimasa lampau. Para ilmuwanpun dimasa lampau banyak membuat kesalahan. Tetapi begitu sadar salah, para ilmuwan tidak segan-segan mengadakan koreksi. Demikian juga hendaknya para teolog baik Katolik Roma maupun Protestan hendaknya belajar dari kesalahan masa lampau. Teori Heliosentris sesungguhnya tidak lebih benar dari teori Geosentris. Tidak perlu berkompromi dengan teori Heliosentris sekalipun. (Lihat KESAKSIAN I).

Kepada orang Kristen yang manapun, terutama para teolog saya anjurkan:

JANGAN MENGUTUK TETAPI JUGA JANGAN BERKOMPROMI DENGAN TEORI ILMU PENGETAHUAN YANG MANAPUN.

 

Firman Allah, jaitu Alkitab, kekal abadi selamanya. Sedangkan teori-teori ilmu pengetahuan hanya bersifat sementara. Teori-teori ilmiah belum tentu benar, bahkan tidak pernah dapat dibuktikan benar. Ini ditunjukkan David Hume dan Karl Popper, dan diterima oleh Albert Einstein, Sir James Jean, Stephen Hawking, dan semua ilmuwan berbobot lainnya. Jadi memang bisa (dan sudah) terjadi bahwa ada ayat Alkitab yang bertentangan dengan sebuah teori tertentu. Ini bukan malapetaka, tetapi sebuah kesempatan bagi ilmuwan yang mampu. Sebuah konflik antara sebuah ayat Alkitab dengan sebuah teori Ilmu Pengetahuan Alam tertentu, menunjukkan bahwa dibelakang konflik itu ada teori yang lebih dalam, lebih luas, lebih tinggi yang akan menghapuskan konflik itu. Sesungguhnya baik teori evolusi maupun teori kreasi tidak dan tidak akan pernah dapat dibuktikan secara ilmiah. Bukti ilmiah, dalam arti kata pengamatan-pengamatan dan percobaan-percobaan yang teliti dan dapat diulangi. Orang hanya dapat selidiki alam semesta masakini. Bagaimana terjadinya tidak dapat diulangi dan diselidiki dengan seksama. Kita tidak dapat kembali kemasa alam semesta belum diciptakan Allah, dan menyelidiki dengan teliti bagaimana terjadinya. Ini adalah soal iman dan bukan soal ilmu pengetahuan alam yang sesungguhnya.

Kini ada ribuan ilmuwan yang bergelar S3, S2 dan S1 yang menyatakan dirinya kreasionis, ialah orang yang percaya bahwa Allah yang menciptakan alam semesta. Ada yang disebut “Old Earth Creationists” (Kreasionis Bumi Tua), yang percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta jutaan bahkan miliaran tahun yang lalu. Ketiga ilmuwan yang diminta STEMI untuk bicara soal evolusi adalah “Old Earth Creationists”. Ada ilmuwan yang percaya bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam waktu enam hari kurang dari 10.000 tahun yang lalu. Mereka disebut “Young Earth Creationists” (Kreasionis Bumi Muda). Bapak astronomi modern Yohann Kepler (1571-1630), Bapak fisika modern Sir Isaac Newton (1642-1727), Dr H.M. Morris, Dr Duane Gish, Dr Charles Phallaghy, Dr A.E. Wilder Smith, Dr Dmitri Kouznetsov dll adalah “Young Earth Creationists”. Ada teolog yang mengatakan bahwa adalah berbahaya untuk mengaitkan Alkitab dengan teori kreasi. Bila teorinya terbukti salah maka bukankah Alkitabnya juga terbukti salah? Keprihatinan para teolog ini sungguh beralasan. Teori Canopy Dr H.M. Morris umpama juga tidak pernah dapat dibuktikan benar, maksimal dapat dikatakan belum terbukti salah. Iman orang Kristen baik teolog maupun awam hendaknya berdasarkan Firman Allah, dan bukan berdasarkan teori-teori buatan manusia termasuk teori kreasi. Teori kreasi dibutuhkan untuk mengimbangi teori evolusi dan teori steady state. Secara ilmiah alam semesta ini dapat diterangkan dengan teori kreasi, teori evolusi atau teori steady state.

Banyak evolusionis yang mengejek teori kreasi yang mereka katakan adalah agama yang berselubung ilmiah. Para Kreasionis mengatakan bahwa teori evolusi sesungguhnya adalah juga “agama” yang berselubung ilmiah.

Sesungguhnya kalau teori evolusi adalah ilmu pengetahuan alam, maka teori kreasipun adalah ilmu pengetahuan alam. Sebaliknya kalau kreasionisme adalah agama, maka evolusionismepun adalah agama. Keduanya tidak pernah dapat dibuktikan benar. Tidak ada bukti ilmiah yang dapat dipakai untuk membuktikan baik teori kreasi maupun teori evolusi. Bukti ilmiah dalam artikata pengamatan-pengamatan dan percobaan-percobaan yang teliti dan dapat diulangi dengan seksama.

WAKTU ALLAH MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA INI, ANDA DAN SAYA BELUM ADA. TETAPI DARWIN, STEPHEN JAY GOULD, STEPHEN HAWKING, CHARDIN DLL JUGA BELUM ADA. WAKTU ITU BELUM ADA MANUSIA. YANG ADA HANYA ALLAH. YANG MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA ADALAH ALLAH. YANG TAHU SETEPATNYA HANYA ALLAH. DAN MELALUI ALKITAB ALLAH TELAH MENERANGKAN UMAT MANUSIA BAGAIMANA DAN BILAMANA ALLAH MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA SERTA UMAT MANUSIA INI. PERCAYALAH PENCIPTAAN ALAM SEMESTA TERMASUK UMAT MANUSIA BERDASARKAN ALKITAB. JANGAN BERDASARKAN TEORI-TEORI BUATAN MANUSIA BAIK TEORI KREASI, TEORI EVOLUSI MAUPUN TEORI STEADY STATE. MARI KITA KEMBALI KE-ALKITAB, KEMBALI KEKITAB KEJADIAN.