Suku MIAO dan ALKITAB
Suku Miao atau Miautsu
dahulu tinggal dipedalaman negeri Cina, selatan dari sungai Yang Tze, tetapi
kemudian tergeser kearah gunung-gunung. Suku Miao yang dimaksud dalam karangan
ini, menyatakan bahwa mereka tergeser dari propinsi Kiangsi. Tradisi suku Miao
relatip sangat eksak dibandingkan dengan tradisi suku lain karena mereka
menuliskannya dalam bentuk sajak.
Kalimat
kedua menerangkan kalimat pertama. Sajak ini dibacakan pada pesta perkawinan dan
upacara penguburan. Itu sebabnya sajak ini terpelihara dengan baik selama ribuan
tahun. Yang mengherankan ialah ada banyak sekali persamaan sajak suku Miao ini
dengan Kitab Kejadian, walaupun ada juga perbedaannya.
Contoh sajak (terjemahan bebas):
PENCIPTAAN.
Pada hari Tuhan menciptakan langit dan bumi,
Pada hari Dia membuka pintu cahaya,
Dibumi Dia membuat banyak tumpukan tanah dan batu
Dilangit Dia membuat badan matahari dan bulan.
Dibumi
Dia buat elang dan layang-layang.
Didalam air Dia menciptakan udang gala dan ikan.
Dihutan Dia membuat macan dan beruang,
Buat tumbuh tumbuhan untuk menutupi gunung.
Membuat hutan-hutan,
Membuat rotan yang hijau dan ringan,
Membuat barisan bambu.
Selanjutnya sajak ini melukiskan penciptaan manusia dari kotoran, laki-laki dan
perempuan.
Nama
manusia pertama ialah Kotoran (Dirt). Anaknya bernama Se-The, Anak Se-The
bernama Lusu. Anak Lusus bernama Gehlo . Anak Gehlo bernama Lama. Anak Lama
bernama Nuah.
Istri Nuah ialah Gaw Bo-lu-en. Anak-anak mereka ialah Lo Han, Lo Shen dan Jah-hu.
Perhatikan persamaan nama Nuah dari sajak suku Miao dengan Nuh dari Alkitab.
Nama istri Nuah ialah Gaw Bo-lu-en tidak ada dalam Alkitab. Lo Han mirip betul
dengan Sam, Lo Shen dengan Sem dan Jah-hu dengan Japhet.
Kemudian dikisahkan manusia menjadi sangat jahat kecuali Nuah dan keluarganya.
Tuhan datangkan banjir yang mirip betul dengan banjir Nuh dalam Alkitab. Tetapi
Nuah dan keluarganya diselamatkan dalam kapal yang sangat besar, yang dibuatnya
sebelumnya. Selanjutnya setelah banjir reda, dikisahkan menara Babel dan
keturunan Nuah dan keluarganya yang mirip sekali dengan Alkitab. Kisah Kejadian
versi suku Miao ini jauh lebih teliti dan mirip dengan Kitab Kejadian Alkitab
daripada kisah Enuma Elish dari Babilonia.
Mengapa ada persamaan yang begitu banyak antara kisah suku Miao dengan Alkitab?
Menurut saya karena suku Miao mengisahkan Penciptaan dan awal sejarah manusia
yang sama dengan Kitab Kejadian. Keduanya memang betul-betul terjadi. Mengapa
ada perbedaan? Perbedaannya kecil dan hal ini lumrah karena yang menulis Kitab
Kejadian lain daripada yang menulis sajak suku Miao.
Orang-orang percaya, kaum injili, percaya bahwa ini adalah bukti bahwa Kitab
Kejadian betul-betul terjadi dan penulisannya berdasarkan Wahyu Allah kepada
Musa, Joshua dll.
Tentu saja
mengenai penciptaan alam semesta dan manusia pertama baik penulis sajak suku
Miao, baik Musa bahkan Adam sendiri tidak melihatnya sendiri. Saya percaya Adam
sudah diberi Wahyu oleh Allah mengenai hal ini. Penulis sajak suku Miao
mengisahkan kisah Penciptaan yang diceritakan Adam kepada anak cucunya. Musa
juga sudah tahu kisah ini. Tetapi penulis sajak suku Miao menulis sajaknya
berdasarkan apa yang ia dengar dari nenek-moyangnya. Musa menulisnya berdasarkan
apa yang ia dengar dan diberi Wahyu oleh Allah untuk menulisnya secara tepat dan
sesuai dengan kehendak Allah.
Orang-orang tidak percaya atau percaya setengah-setengah, kaum liberal, tetap
akan menolak bahwa Kitab Kejadian benar-benar terjadi. Banyak dari mereka
percaya teori evolusi. Dahulu mereka bilang Kitab Kejadian ditulis oleh
rabi-rabi Yahudi sewaktu masa pembuangan berdasarkan mitologi Babilonia Enuma
Elish. Dengan didapatinya sajak suku Miao ini, apa kata mereka? Orang tidak
percaya akan mempunyai seribu satu alasan untuk tetap tidak percaya.
Sejak tahun 1987 saya percaya bahwa sesungguhnya Allah, Pencipta langit dan bumi
dengan segala isinya, paling tahu bilamana dan bagaimana Dia menciptakan alam
semesta dan sejarah umat manusia mula-mula. Dan melalui Kitab Kejadian Allah
telah mengisahkannya kepada kita. Yang menulis Kitab Kejadian memang manusia,
dan dalam bahasa manusia yang serba terbatas, tetapi dengan Wahyu dan bimbingan
dari Allah.
Halleluyah!
Amin.
Oleh: Ir. Stanley I. Sethiadi