“PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN DAN PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN”


Sejak awal sejarah umat manusia, manusia telah memperhatikan alam semesta, dan dirinya sendiri dan bertanya-tanya akan banyak hal. Ini berlainan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang.  Ini menghasilkan ilmu pengetahuan, agama dan kebudayaan.


1. PENGARUH IMAN PADA ILMU PENGETAHUAN.

Ilmu Pengetahuan bermula dari filsafat Yunani kuno. Pada abad ke-6 sebelum Kristus, Thales dari Milletos mengamati alam semesta ini dan mengatakan: “Semua adalah air”. Seorang filsuf lainnya Anaximandros berpendapat bahwa: “Semua adalah yang tak terbatas (to apeiron)”.  Filsuf lainnya lagi, Anaximenes mengatakan: “Semua adalah udara”. Kemudian timbul filsuf-filsuf lain dan yang paling berpengaruh pada ilmu pengetahuan alam manusia ialah Aristoteles yang hidup diabad ke-4  sebelum Kristus. Pengetahuan ilmu pengetahuan alam praktis dikembangkan oleh Archimedes. Silahkan baca buku Filsafat Yunani untuk detail lebih lanjut.

Yang mau saya tekankan disini ialah pengaruh iman pada ilmu pengetahuan Setelah Thales mengamati alam semesta ini ia mulai kembangkan pikiran dan kesimpulan-kesimpulannya. Mengapa ia lakukan itu? Karena ia percaya bahwa alam semesta ini dapat dimengerti oleh otaknya. Tanpa kepercayaan ini ia
tidak akan buat kesimpulan-kesimpulan dan teori-teori atau filsafat-filsafat.  Bahwa alam semesta dapat dimengerti akal manusia tidak dapat dibuktikan tetapi harus diterima dengan iman. Ini iman pertama yang
paling mendasar dari ilmu pengetahuan alam. Thales sangat terkesan akan air. Ia tentu sering melihat hujan. Pulau Miletos dikelilingi laut. Air kalau dipanaskan jadi uap air. Uap air kalau mendingin jadi air kembali. Thales menambah iman kedua ialah bahwa semua adalah air. Anaximandros setuju dengan
Thales bahwa alam ini dapat dimengerti oleh otak manusia. Tetapi ia tidak setuju dengan iman Thales yang kedua bahwa semua adalah air. Ia masukkan dalam filsafatnya iman keduanya sendiri ialah bahwa semua adalah ketidak terbatasan. Iman kedua Anaximenes adalah udara. Filsuf-filsuf berikutnya memasukkan imannya sendiri dalam filsafatnya. Makin lama makin banyak dan makin kompleks.

Kepercayaan atau iman ini: “ialah bahwa alam semesta dapat dimengerti oleh manusia” diteruskan dari generasi kegenerasi. Kemudian Galileo dan Newton mengambil alih iman ini begitu saja dan menambah iman baru: “Apa yang berlaku kemarin, juga berlaku hari ini dan besok”. Mereka kembangkan rumus-rumus yang mereka percaya berlaku selamanya. Ini iman kedua. Para ilmuwan selanjutnya mengambil alih iman ini dan dalam perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang sesungguhnya ilmu pengetahuan manusia
dipengaruhi oleh iman tambahan mereka sampai sekarang. Makin lama makin besar pengaruh iman pada ilmu pengetahuan.

Pengaruh iman pada teori-teori manusia ditunjukkan a.l. oleh Alfred North Whitehead dan Albert Einstein.  Iman ini dalam ilmu pengetahuan disebut juga presupostions, preassumptions (asumsi mula) atau axioms. Kalau ada satu saja asumsi mula yang salah, maka salahlah seluruh teori atau filsafat yang dibangun diatasnya. Apakah ada cara untuk menguji teori-teori ilmiah dengan cara yang lebih dapat diandalkan? Menurut saya ada, ialah dengan prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi.



PRINSIP VERIFIKASI DAN FALSIFIKASI.

Pada tahun 1895 di-Universitas Wina diberikan matapelajaran “filsafat ilmu pengetahuan induktif”. Kehormatan mengajar diberikan kepada seorang akhli fisika Ernst Mach (1838-1916). Dengan demikian ilmu pengetahuan mulai disoroti secara filosofis. Sejak 1922 pelajaran diberikan oleh Moritz Schlick (1882—1936), seorang akhli fisika. Schlick mengumpulkan beberapa dosen dari jurusan lain. Setiap minggu mereka jumpa untuk membahas secara filosofis jurusan masing-masing. Diantaranya terdapat akhli matematika Kurt Goedel, Hans  Hahn, Rudolf Carnap dll . Diantara akhli-akhli ilmu exakta tersebut ada seorang sosiolog Otto Neurath (1882-1945).  Ludwig von Witgenstein dan Karl Popper mempunyai pengaruh yang besar, tetapi tidak pernah jadi anggota kelompok ini. Mula-mula filsafat yang dikeluarkan
kelompok ini bernama filsafat dari lingkungan Wina (der Wiener Kreis). Tetapi kini lebih dikenal sebagai positivisme logis (logical positivism). Banyak sekali makalah makalah dan buku-buku yang ditulis kelompok ini. Yang paling  menyolok ialah bahwa mereka sangat tekankan prinsip verifikasi. Mereka katakan: “Suatu ucapan yang tidak dapat diverifikasi ialah ucapan yang tidak bermakna”. Karl Popper menunjukan bahwa sebuah teori tidak pernah dapat diverifikasi (dibuktikan benar) tetapi teori yang bermakna seharusnya
dapat difalsifikasi (dibuktikan salah).

Positivisme Logis kemudian mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pengetahuan alam khususnya., diseluruh Eropah Barat bahkan diseluruh dunia sampai sekarang. Prinsip verifikasi dan/atau falsifikasi dapat seleksi teori-teori yang
“benar” dan teori-teori yang “salah”. Yang “benar” diteruskan dan dikembangkan, sampai ia terbukti salah. Yang salah masuk tong sampah atau maksimal sejarah masa lampau.  Buah dari ilmu pengetahuan alam ialah Teknologi dan kedokteran. Keduanya maju dengan pesat, sangat pesat, makin lama makin pesat. 



METAFISIKA.

Lawan dari positivisme logis adalah metafisiska. Metafisika disini mungkin mempunyai arti yang sedikit lain daripada metafisika dari Aristoteles. Seorang metafisikus percaya bahwa apa yang masuk keakalnya adalah juga benar walaupun tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi.

Albert Einstein menunjukkan bahwa berapa positifnyapun seorang ilmuwan mengaku, kalau ia buat teori, maka didalam teorinya ada unsur-unsur metafisis. Einstein mengakui bahwa dalam teori-teorinya sendiri ada unsur metafisis. Seorang ilmuwan lain yang juga sangat terkenal Wernher von Heisenberg menunjukkan betapa miskinnya ilmu pengetahuan manusia bila hanya yang dapat diverifikasi/falsifikasi saja yang dianggap bermakna. 

Saya mengakui apa yang ditunjukkan kedua ilmuwan besar itu adalah benar. Tetapi saya juga tunjukkan bahwa sebuah teori yang masuk akal menurut seorang, belum tentu masuk akal untuk orang lain. Hal itu sangat tergantung pada asumsi-asumsi mula (preassumptions, presuposition) yang diambilnya sebelum ia menyelidiki sesuatu. Saya telah tunjukkan bahwa Thales dari Milletospun telah mempunyai mempunyai asumsi mula bahwa alam semesta ini dapat dimengerti sebelum ia mulai filsafatnya.

Contoh: Persoalan “Teori Evolusi versus Teori Kreasi”:

Kalau seorang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka tidak masuk keakalnya bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Baginya lebih masuk keakalnya kalau alam semesta ini selamanya ada, atau berevolusi perlahan-lahan dari sebuah gumpalan masa yang sangat padat. Ini adalah hakekat dari “The Big
Bang Theory”.  Inilah hakekat dari teori evolusi.

Kalau seorang percaya bahwa Tuhan itu ada, maka masuk keakalnya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta. Kalau seorang percaya Tuhan yang mempunyai kesanggupan tak terbatas, masuk keakalnya bahwa Tuhan dapat menciptakan alam semesta dalam waktu sekejap. Tetapi kalau asumsi mulanya ialah bahwa Tuhan hanya lebih besar sedikit dari manusia, maka hal itu tidak masuk keakalnya. Yang lebih masuk keakalnya ialah kalau Tuhan menciptakan alam semesta sedikit, sedikit dalam waktu sangat lama. Kalau ia percaya ada Tuhan seperti disaksikan Alkitab, maka masuk keakalnya bila Tuhan ciptakan alam semesta dalam waktu enam hari seperti disaksikan Alkitab. Inilah hakekat dari teori kreasi.

Seorang yang percaya  pada Tuhan Alkitab, tetapi percaya juga teori evolusi akan berusaha untuk mengkompromikan keduanya. Inilah yang dilakukan a.l. oleh  seoarang rohaniwan Katolik Pater Tijlhard de Chardin S.J.  Kompromi ini diambil alih oleh beberapa rohaniwan Katolik lain termasuk Paus Yohannes
Paulus II, dan (sayangnya) juga oleh beberapa teolog protestan.

Baik teori evolusi, maupun teori kreasi tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi. Keduanya hanya soal lebih masuk akal yang mana menurut Anda. Sebelum Anda mengambil keputusan tanya dahulu apa asumsi-asumsi mula Anda?

Sesungguhnya perdebatan evolusi/kreasi adalah perdebatan ilmiah atau perdebatan agama?

Kesimpulan pasal I:

Sebuah teori ilmiah seharusnya dapat diverifikasi dan/atau difalsifikasi, walaupun dalam teori yang  manapun ada unsur metafisik dan unsur iman. Kalau sebuah teori  sama sekali tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi.
seperti umpamanya teori evolusi/kreasi, maka sesungguhnya ia sudah keluar dari bidang ilmiah dan masuk bidang agama atau kepercayaan atau filsafat.




II. PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA IMAN.



AGAMA.

Sejak semula manusia sudah penuh pertanyaan mengenai alam semesta dan dirinya sendiri. Siapakah sesungguhnya saya ini? Mengapa saya ada disini? Setelah mati kemana saya? Manusia membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi banyak pertanyaan manusia tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan. Manusia
butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.  Manusia butuh agama yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia ini. Manusia tidak puas dengan ilmu pengetahuan saja.

Pernyataan-pernyataan agama pada umumnya tidak dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. Umpama mengenai keberadaan Tuhan. Inipun sesungghunya tidak dapat dibuktikan, tidak dapat diverifikasi /falsifikasi. Argumen kosmologis teleologis dsb dari Thomas Aquinas telah dibantah oleh filsuf-filsuf lain.

Bertrand Russel membahas soal ini dengan cara yang sederhana sekali. Siapa yang ciptakan alam semesta?. Tuhan! Siapa yang ciptakan Tuhan? Tuhan selamanya ada. Kalau ada yang selamanya ada, mengapa harus Tuhan? Mengapa bukan alam semesta saja? Keduanya sama logis atau sama onlogisnya. Keduanya sama-sama tidak dapat diverifikasi/falsifikasi. Karena Tuhan tidak kelihatan tetapi materi nyata, maka lebih masuk akal untuk mengatakan materi selamanya ada.

Agama adalah kepercayaan yang tidak dapat  diverifikasi/falsifikasi, jadi adalah kepercayaan non-ilmiah. Luther dan Calvin tidak pernah berpretensi bahwa teologi mereka “ilmiah”. Apalagi teolog-teolog sebelum mereka seperti Agustinus dan Thomas Aquinas, walaupun mereka mungkin terpengaruh filsuf-filsuf seperti Plato dan Aristoteles.


PENGARUH ILMU PENGETAHUAN PADA AGAMA KRISTEN.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang amat pesat menimbulkan kekaguman umat manusia kepada ilmu pengetahuan. Ini mempengaruhi seluruh kehidupan dan jalan pikiran umat manusia termasuk beberapa teolog. Metode-metode ilmu pengetahuan mereka berusaha trapkan kepada Alkitab. Ini
kemudian mereka sebut sebagai: “Studi Kritis Alkitab”.  Kemudian lagi mereka kembangkan apa yang kini ada yang sebut sebagai teologi modern dan ada yang
sebut teologi liberal.

Sejak abad ke-18 ada teolog yang berpretensi bahwa mereka adalah juga “ilmuwan” karena mereka trapkan metode-metode “ilmiah” dalam studi mereka. Mula-mula jumlah teolog seperti itu sedikit, tetapi kemudian makin lama makin banyak. Yang menolak kesimpulan-kesimpulan mereka mereka ejek sebagai
kuno, primitip, cupat, tertutup, orthodox atau fundamentalis. Sedangkan yang mau terima mereka puji sebagai berani, terbuka, modern dsb. Hal itu berlangsung sampai dengan sekarang.

Yang paling gigih mengembangkan “Studi Kritis Alkitab” ialah Tubingen Schule di-Tubingen, Jerman Barat.  Pengaruh teolog-teolog Tubingen ini kemudian mempengaruhi seluruh Eropah Barat dan kemudian Amerika Serikat.  Pengaruh ini juga masuk Indonesia melalui beberapa STT.



PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA “DER WIENER KREIS” DAN “DER TUBINGEN KREIS”.

Pengaruh teolog-teolog Tubingen  dalam bidang teologi, mungkin dapat disamakan dengan pengaruh para ilmuwan dari Wina dalam bidang ilmu pengetahuan alam. Mungkin mereka dapat juga disebut teolog-teolog dari lingkungan Tubingen (Der Tubingen Kreis). Keduanya mempunyai pengaruh yang sangat besar pada Eropah Barat, Amerika Serikat dan kemudian seluruh dunia.

Tetapi perbedaan yang sangat menyolok ialah karena pengaruh DER WIENER KREIS ilmu pengetahuan alam dan teknologi menjadi sangat maju terutama di-Eropah Barat dan Amerika Serikat, sedangkan karena pengaruh DER TUBINGEN KREIS gereja-gereja menjadi sangat sepi terutama di-Eropah Barat dan Amerika Serikat.


KRITIK ATAS “KRITIK ATAS”.
(Critique on “Higher Criticism).

Praktis semua kesimpulan “Studi Kritis Alkitab” tidak dapat diverifikasi dan/atau diverifikasi.

Contoh: Teori JEDP

Seorang dokter Perancis, Jean d’Astruc pada tahun 1753 mempelajari Pentateuch dalam bahasa Ibrani. Ia mengamati bahwa kadang-kadang penulis pakai istilah Jehovah atau YHWE untuk Allah, kadang-kadang Elohim. Ia masih percaya bahwa Pentateuch ditulis oleh Musa, tetapi ia tarik kesimpulan bahwa
Musa memakai dua sumber, ialah sumber J dan sumber E. Kemudian kesimpulan d’Astruc ini dianggap normatif, artinya dijadikan pegangan studi lebih lanjut. Hupfeld dan Welhausen kemudian tambah-tambah spekulasi-spekulasi metafisis d’Astruc dengan spekulasi-spekulasi metafisis mereka sendiri menjadi 4 sumber ialah JEDP.

Kritik: Darimana d’Astruc tahu Musa pakai dua sumber? Mungkin Allah memberi Musa wahyu untuk memakai YHWE dan Elohim sebagai gambaran lanjutan pengertian manusia mengenai Allah Tritunggal. Masakini, kalau Anda buat paper, kadang-kadang Anda pakai istilah Tuhan, dan kadang-kadang istilah
Allah. Dalam makalah inipun kedua istilah itu agak campur aduk. Kata orang istilah Tuhan berasal dari terjemahan kata “God” dan kata Allah diambil dari bahasa Arab, tepatnya agama Islam. Benarkah begitu? Apakah dapat disimpulkan saya memakai dua sumber untuk membuat makalah ini, ialah sumber T dan sumber A???? Tentu saja kesimpulan begitu salah.  Kalau d’Astruc salah maka Hupfeld
dan Welhausen juga salah.

Setahu saya tahun 1753 adalah tahun yang paling tua dari studi kritis Alkitab yang diakui teolog-teolog dari Tubingen. Jean d’Astruc bukan orang Jerman tetapi mungkin orang Perancis atau Belgi, lagipula ia bukan teolog tetapi seorang dokter. Tetapi Hupfeld dan Welhaussen mungkin teolog Tubingen. Benarkah? Pada saat ini saya belum punya data lebih lengkap dan terperinci mengenai mereka.

Teori d’Astruc, Hupfeld dan Welhausen tidak pernah dapat diverifikasi dan/atau falsifikasi. Argumen mereka, menurut mereka, “masuk akal”. Ilmiahkah argumen-argumen seperti ini? Seorang positivis jelas akan menolak argumen demikian dan memasukannya sebagai “spekulasi-spekulasi metafisis yang tak bermakna”. Seorang metafisikus mungkin masih dapat terima kalau ia bisa terima asumsi-asumsi mula dari d’Astruc/Hupfeld/Welhausen.

Analisa yang sama dapat dilkukan untuk Injil Sinopsis dengan sumber M, Sumber L dan sumber Q yang diasumsikan para teolog liberal.

Para teolog Tubingen  Schule dll tidak atau kurang mengerti apa itu yang disebut ilmiah. Mereka menerima spekulasi-spekulasi metafisis yang belum tentu benar bahkan tidak pernah dapat dibuktikan benar sebagai kebenaran yang lebih tinggi daripada Firman Allah. Kini saya tidak heran bahwa orang-orang Kristen di-Eropah Barat dan sebagian dari Amerika Serikat tidak ada motivasi lagi untuk kegereja. Gereja liberal makin lama makin sepi pengunjung. Janganlah hal itu sampai terjadi di-Indonesia.


AGAMA PADA HAKEKATNYA ADALAH IMAN. ILMU PENGETAHUAN PADA HAKEKATNYA ADALAH PENGAMATAN-PENGAMATAN DAN PENYELIDIKAN-PENYELIDIKAN YANG DAPAT DIAMATI DENGAN CERMAT DAN DAPAT DIULANGI.  APA YANG DISEBUT “STUDI KRITIS ALKITAB” OLEH BEBERAPA TEOLOG  DIKIRA ADALAH ILMIAH. TETAPI KESIMPULAN-KESIMPULAN STUDI KRITIS TIDAK DAPAT DIVERIFIKASI ATAU FALSIFIKASI. SESUNGGUHNYA “STUDI KRITIS ALKITAB” BUKAN AGAMA DAN BUKAN ILMU. JADI APA? TIDAK LAIN DARIPADA SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS YANG TIDAK BERMAKNA, ALIAS OMONG KOSONG.


FIRMAN ALLAH BERADA JAUH DIATAS SPEKULASI-SPEKULASI METAFISIS MANUSIA. METODE ILMIAH SANGAT COCOK UNTUK MENAKLUKAN ALAM (Kejadian 1:28), TETAPI SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGRITIK FIRMAN ALLAH.


Jakarta, September 2000
Revisi I, Juni 2001

Stanley I.Sethiadi.