Home

Daftar Isi Neraka
& Download Buku

Baca Bab IV

 

Daftar Isi
Pelajaran tentang
Kematian & Neraka

 

BAB III

 

Ajaran Siksaan-tanpa-akhir Berasal dari Kekafiran

(sebagian besar berasal dari mitologi Mesir)

 


 

BAGIAN II

Doktrin Siksaan-tanpa-akhir diciptakan oleh Orang Kafir;

merupakan sebuah rekayasa, dongeng,

Dibuktikan oleh Pengakuan mereka sendiri.

 

 

Siapa pun yang tahu tentang tulisan-tulisan orang Yunani atau Roma kuno, pastilah memperhatikan betapa seringnya mereka mengakui bahwa “agama” nasional itu adalah rekayasa para pembuat hukum (tokoh politik) dan imam, dengan tujuan untuk memerintah dan mengekang rakyat jelata.  Jadi, semua pembuat hukum mengaku bisa berkomunikasi dengan para dewa, yang mengirimkan penglihatan kepada mereka untuk menyiapkan kitab undang-undang mereka.  Zoroaster (pendiri agama Zoroaster di Persia) mengaku menerima hukum-hukumnya dari sumber “ilahi”; Lycurgus mengaku mendapatkannya dari Dewa Apollo, Minos orang Kreta mengaku mendapatkannya dari Dewa Jupiter, Numa dari kota Roma mengaku mendapatkannya dari Egeria, Zaleucus dari Dewi Minerva, dan lain-lain.  Tapi mereka semua (para pemimpin negara dan pemimpin agama) berbohong, karena semua dewa-dewi adalah tokoh dongeng yang mereka ciptakan sendiri, lalu setan-setan betul-betul tampil sebagai dewa-dewi itu untuk menakut-nakuti rakyat.  Tujuan penipuan-agama ini adalah untuk mengesankan orang banyak, dan membuat mereka lebih patuh kepada hukum-hukum itu.  Jadi Augustine berkata, dalam karyanya City of God, “Ini sepertinya dilaksanakan untuk satu tujuan, yaitu karena itu adalah urusan para pangeran/pemimpin bangsa untuk menipu rakyat mereka dalam hal “agama”, hukum-hukum itu keluar dari pemikiran mereka sendiri; para pangeran, di bawah panji agama, membujuk rakyat untuk percaya bahwa hal-hal itu adalah benar, padahal mereka sendiri tahu bahwa hal-hal itu adalah dongeng hampa; dengan cara ini, demi kenyamanan mereka dalam memerintah, mereka menjamin posisi mereka di pemerintahan.” B. iv. 32.

 

Tentu saja, untuk lebih memastikan kepatuhan rakyat, mereka terpaksa harus menciptakan hukuman “spiritual” (siksaan-tanpa-akhir di Underworld) untuk mereka yang tidak patuh pada hukum yang tertulis di kitab-kitab itu.  “Jadi,” kata Uskup Warburton, “mereka mempromosikan kepercayaan adanya siksaan-kekal setelah-kematian dengan segala cara.”  Dan berbicara tentang ditambahkannya metempsychosis, atau pemindahan jiwa, uskup itu berkata: “Ini adalah solusi yang cerdik, direkayasa oleh para pembuat hukum di Mesir, untuk menyingkirkan semua keraguan rakyat tentang kebaikan para dewa.”

 

Mesir disebut “Ibu Segala Takhyul” (Sumber Segala Takhyul), dan seluruh sejarah perkembangan “agama” Mesir menunjukkan betapa tepatnya sebutan itu. Orang Yunani dan Romawi, para pembuat hukum dan filsuf, mengakui utangbudi mereka pada mitologi Mesir, dan dengan jujur mengakui bahwa Mesir adalah sumber asli dari mitologi Yunani dan Roma dalam hal kengerian di Underworld; walau harus diakui bahwa para pemimpin “agama” Yunani dan Roma juga menambahkan dan mengubah beberapa detailnya, dan dari mitologi Yunani dan Roma terlihat kemampuan imajinatif mereka itu.

 

Dr. Good memiliki tulisan mengenai topik ini, dalam bukunya Book of Nature, yang harus saya perkenalkan di sini.  “Sebagian besar negara percaya bahwa neraka ini, hades, atau Underworld, dibagi menjadi dua bagian yang sangat jelas dan bertolak-belakang, dipisahkan oleh jurang yang lebar dan tak dapat diseberangi; yang satu disebut tempat sukacita, firdaus, atau elysium, dan yang satu lagi tempat siksaan, gehenna, atau tartarus; dan di sana ada seorang hakim agung dan pengadilan yang adil untuk para shade, di mana para hantu itu harus hadir, dan di mana mereka diputuskan untuk masuk ke salah satu tempat tadi, sesuai dengan perbuatan-perbuatan mereka selama hidup di atas bumi.

 

Mesir disebut-sebut sebagai pencipta awal dari bagian yang penting dari tradisi ini – dan tanpa keraguan lagi ajaran itu ditemukan dalam catatan-catatan paling awal dari sejarah Mesir.  Tapi, dari kemiripannya secara garis besar dengan ajaran Perjanjian Lama, mungkin saja ajaran itu berasal dari Sumber Yang Lebih Tinggi, dan membentuk sebagian dari ajaran-ajaran para bapa (Abraham dll), tertampung dalam beberapa saluran, walau terlupakan atau lenyap dalam saluran-saluran lain, jadi itu adalah wahyu dari sorga di masa-masa awal sejarah dunia ini.

 

(Harpers' Edit., hal. 338.  Lihat juga, ajaran siksaan tanpa akhir berasal dari Mesir yang dibuktikan dengan lengkap dalam Divine Legation, karya Warburton, yang sangat berguna bagi pembuktian bagian ini, dengan kutipan-kutipan dari teks aslinya.  Juga Leland di Necessity of Divine Revelation, Part III, chaps.  i-viii.  Awal dan pertumbuhan ajaran itu di Mesir ditunjukkan dengan singkat oleh Heeren, Historical Researches, African Nations, vol.  ii.  189-199, 2nd Edit.  Layak untuk diselidiki secara mendalam.  Lihat juga Book of the Dead dalam Bibliotheca Sacra untuk 1868, hal. 69-112.)

 

Kutipan tadi jelas merupakan pernyataan gegabah dari Dr. Good.  Sebab, 1) Ajaran siksaan-tanpa-akhir sama sekali tidak mirip dengan ajaran Perjanjian Lama yaitu Berkat-dan-Kutuk di atas dunia, seperti yang sudah kita selidiki. 2) Ajaran-ajaran para bapa (Abraham dll) sama sekali tidak pernah menyebutkannya – dan seandainya itu adalah bagian dari wahyu di masa-masa awal sejarah dunia ini, lalu hilang, kita bisa ambil kesimpulan logis bahwa itu seharusnya diulangi waktu Pemberian 10 Hukum kepada Musa.  Tapi ternyata tidak dinyatakan di saat Pemberian 10 Hukum kepada Musa.

 

Lagipula, seandainya orang-orang Mesir memperoleh ajaran itu dari para bapa, berarti ajaran itu berasal dari Yakub atau Yusuf, sesudah mereka masuk ke Mesir.  (Karena Abraham hanya sebentar di Mesir, dan jelas dalam kesempatan itu Abraham tidak pernah mengajarkan ajaran itu kepada raja Mesir.)  Padahal, kita semua tahu, Yusuf di Mesir hanyalah bawahan dari Firaun, dan Yakub hanya sebentar saja tinggal di Mesir.  Ajaran Underworld-Anubis saat itu sudah ada di Mesir.  Jadi tidak mungkin Yusuf yang mengajarkan ajaran tentang Underworld-Anubis kepada para imam Mesir.  Jadi, itu berarti ajaran siksaan-tanpa-akhir sheol adalah ajaran yang cukup baru di antara orang Israel, dan mereka menganggapnya berasal dari Tuhan; tapi kesimpulan ini dihancurkan dengan fakta bahwa Musa, walaupun ditunjuk Tuhan sebagai pengajar mereka, menyingkirkan ajaran siksaan-tanpa-akhir dari tulisan-tulisannya, dan Musa menunjukkan ketidaksukaannya pada ajaran siksaan-tanpa-akhir dengan tidak menyebutnya sama sekali!  Memang aneh, sebab seandainya pendapat Dr. Good itu benar, kenapa kita mendapati ajaran siksaan-tanpa-akhir begitu mencolok di antara orang Mesir, tapi tak ada sedikit pun di antara orang-orang Israel pada generasi-generasi awal.  Tapi, setelah berabad-abad, orang Israel mulai tercemar oleh agama penyembahan dewa dari bangsa-bangsa sekitarnya, dan telah meninggalkan 10 Hukum Musa (khususnya hukum I dan II), barulah kita temukan ajaran sheol yang berkembang perlahan-lahan di antara orang Israel.  (Ingat bahwa penulis Perjanjian Lama menggunakan kata sheol hanya dalam arti kuburan/kematian/keterpurukan, bukan dalam arti tempat siksaan-tanpa-akhir.)  Dan yang sangat penting untuk disimak, seperti yang ditunjukkan oleh bab berikut, pemunculan pertama ajaran sheol sebagai tempat-siksaan-tanpa-akhir, adalah dalam kitab-kitab Deuterokanonika yang ditulis oleh orang Yahudi berkebangsaan Mesir.  Jadi faktanya ternyata sangat bertolakbelakang dengan teori Dr. Good; – bukan orang Mesir dan mendapatnya dari para bapa Israel, tapi orang Israel yang mendapatnya dari orang Mesir.

 

Dalam usaha untuk menjelaskan seperti apa konsep Underworld ala orang Mesir, sulit untuk memilih di antara tulisan-tulisan para penulis Yunani: Herodotus, Diodorus Siculus, Plutarch, dll., dan penerjemah tulisan-tulisan hieroglyph Mesir.  Tapi, mereka semua sepakat dalam garis besarnya, walau terdapat banyak perbedaan dalam detailnya.  Tapi cukup jelas, dari kesaksian mereka, bahwa masalah penghakiman setelah kematian, pemberian berkat karena banyak berbuat baik, dan siksaan karena banyak berbuat jahat, dengan semua kekhidmatan resmi dari penghakiman dan penghukuman, berasal dan disempurnakan oleh orang Mesir, menurut sifat-sifat mitologi mereka.  Dari Mesir ajaran Underworld itu dibawa ke Yunani, di mana dibuat perubahan dan tambahan agar cocok dengan sistem pemikiran dan kondisi bangsa Yunani.

 

Kelihatannya, setiap distrik di Mesir memiliki apa yang disebut “danau suci”, di balik mana terdapat pemakaman.  Acherusia, danau di dekat Memphis, mungkin menjadi model percontohan bagi yang lainnya, dan kata “Acherusia” menjadi istilah yang dipakai untuk menggantikan kata “kuburan”.

Kalau ada orang Mesir yang mati, menurut Diodorus, para kerabatnya wajib memberitahu ke-42 hakim atau wakil hakim, yang tugasnya adalah untuk memutuskan seperti apa sifat orang mati itu semasa hidupnya, lalu menentukan hari penguburan.  Sewaktu hari itu tiba, jasad orang mati itu dibawa dalam sebuah prosesi (iring-iringan) ke tepi danau.  Ke-42 hakim, setelah dipanggil, menunggu di tempat “pemberangkatan”, untuk menerima jasadnya, dan memasuki proses penghakiman.  Pada saat itulah menjadi legal, bagi siapa pun yang mau, untuk membuat dakwaan terhadap orang mati itu; dan jika ditemukan bahwa orang mati itu jahat selama hidupnya, para hakim mengutuk dia akibat kejahatannya, dan menolak memberikan upacara pemakaman, yang dianggap sebagai salah satu aib terbesar bagi rakyat Mesir.  Tapi jika orang yang mendakwa orang mati itu gagal membuktikan dakwaannya, pendakwa itu akan dihukum dengan hukuman yang berat (hukuman di atas bumi, misalnya didenda, dll).

 

Jika tak ada orang yang mendakwa, atau jika dakwaan itu terbukti palsu, maka teman-teman dan kerabat orang mati itu dipersilakan memberikan pujian-pujian bagi si orang mati, memuji amal-amalnya, menyebutkan sifat-sifatnya yang baik, dan menceritakan kehidupannya yang patut dicontoh.  Lalu dilanjutkan dengan doa-doa kepada dewa-dewa Underworld untuk menerimanya ke dalam tempat-orang-yang-terberkahi. Lalu ada persetujuan dari orang banyak yang hadir di situ, yang sepakat dalam memuji sifat-sifat orang itu, dan dalam bersyukur karena dia sekarang akan bersatu dengan orang-orang baik lainnya di Amenti atau Hades.

 

Sesudah ini selesai, jasadnya ditempatkan di dalam sebuah perahu pemakaman, dikemudikan oleh Horus, pendayung perahu di dunia orang mati, dan dibawa menyeberangi danau ke tempat pemakamannya. Setelah ini selesai, upacara pemakaman itu pun berakhir.

 

Bagi orang mati yang ditolak hakim untuk dikuburkan, jasadnya lalu dibawa pulang oleh para kerabat, dan peti-matinya disandarkan pada tembok rumah.  Menurut kepercayaan Mesir, roh/jiwa orang mati itu tak pernah bisa beristirahat dengan tenang sampai tubuhnya dikubur.  “Lama hukuman ini ada batasnya,” kata Wilklinson, “menurut kejahatan yang didakwakan kepada orang itu.  Ketaatan kerabatnya dalam beribadah, ditambah sumbangan sukarela untuk upacara agama, dan doa-doa para imam yang dipercaya bisa meredakan kemarahan para dewa, dipercaya dapat memperpendek jangka waktu roh/jiwa orang mati itu dalam purgatory (api pencucian).

 

(Dari sinilah, jelas, asal-mula dogma (ajaran palsu) tentang purgatory dalam agama Katolik.  “Sumbangan sukarela” dan “doa-doa para imam” adalah ciri-ciri yang sama dalam purgatory versi Katolik dan purgatory versi Mesir, sehingga kita bisa yakin bahwa ajaran purgatory dalam agama Katolik adalah dongeng yang berasal dari Mesir)

 

Selain penghakiman yang dilakukan ke-42 hakim di dunia orang hidup, dipercaya ada penghakiman lagi setelah roh/jiwa orang mati itu memasuki Amenti atau Underworld.  Untuk apa, kita tidak tahu, kecuali bahwa para hakim di dunia-sana ini adalah semacam pengadilan tinggi, yang memeriksa kasus itu dari awal, dengan tujuan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dari penghakiman para hakim tadi.

 

Sir J. G. Wilkinson mengatakan ‘gambaran penghakiman Underworld yang ditemukan di kuburan-kuburan dan papirus, kadang-kadang menggambarkan roh/jiwa orang mati itu dibimbing oleh Horus ke Amenti.  Cerberus ada di sana sebagai penjaga gerbang, dekat tempat di mana timbangan didirikan.  Anubis, dewa “pemimpin proses penimbangan”, setelah menempatkan sebuah guci yang melambangkan amal atau hati orang mati itu pada salah satu sisi timbangan, dan ukiran atau lambang KEBENARAN di sisi yang lainnya, lalu meneruskan proses itu untuk memastikan apakah roh/jiwa orang mati itu betul-betul berhak masuk.  Jika, setelah ditimbang, dia dinyatakan tidak layak, dia lantas ditolak, lalu Dewa Osiris – hakim orang mati, memiringkan tongkat kerajaannya sebagai tanda penentuan bahwa orang itu terkutuk, menetapkan hukuman baginya, dan mengutuk jiwanya untuk kembali ke bumi dan lahir kembali sebagai babi, atau binatang haram lainnya.  Ditempatkan di dalam sebuah perahu, jiwa itu dikembalikan ke bumi, di bawah pengawasan 2 ekor monyet, dari Amenti, semua bentuk komunikasi yang tadi diputuskan oleh seorang pria yang membacok bumi dengan kapak setelah jiwa itu lewat (ini hanya perlambang, bukan betul-betul membacok bumi); dan dimulainya bentuk kehidupan baru itu ditandai oleh monyet-monyet itu – lambang Dewa Thoth, personifikasi Waktu.  Tapi, jika penghakiman itu membuktikan bahwa amal orang mati itu sangat layak untuk membolehkannya masuk ke Underworld, Horus memperkenalkan orang mati itu kepada Osiris.’

(Ancient Egyptians, karya Wilkinson, bab x.  Harpers' Edit. vol. ii. hal. 356-400.  Lihat juga Pictorial Dictionary of the Bible karya Bohn, dan Ree's Cyclopedia, Art.  Eqypt. karya Ree,  American Encyclopedia, Art.  Hieroglyphics.)

 

Berhubungan dengan penghakiman ini, tepatnya waktu jiwa yang terkutuk itu dikirim kembali ke bumi dalam bentuk binatang, terdapatlah ajaran reinkarnasi.

 

Menurut Herodotus, orang Mesir percaya jiwa dapat pindah dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain, sampai melengkapi lingkaran-kehidupan dari semua jenis binatang: darat, laut, dan udara; lalu jiwa itu kembali lagi masuk ke dalam tubuh manusia. Satu kali lingkaran perpindahan jiwa ini dipercaya memakan waktu 3000 tahun.

 

            Ada cukup banyak perbedaan pendapat para ahli tentang point ini, tapi ide utamanya, sepertinya berupa penghukuman orang jahat, sebab hanya orang jahat saja, menurut beberapa pemimpin masyarakat, yang harus dihukum, roh orang mati yang baik langsung diterima Osiris, waktu pemakaman jasadnya, ke dalam peristirahatan, atau kembali menyatu dengan SANG MAHA BAIK (Konsep Tuhan Pencipta versi orang Mesir) dari mana mereka berasal. Dan kelihatannya, menurut Wilkinson, hanya orang-orang jahat yang tidak terlalu jahat, bukan yang paling jahat, yang dikutuk ke purgatory.  Menurutnya,”jiwa-jiwa yang mengalami reinkarnasi adalah orang-orang yang dosa-dosanya sedang-sedang saja sehingga bisa dibersihkan; sedangkan orang jahat yang dosanya tak bisa diampuni dihukum dengan api kekal.” Api kekal di sini artinya api yang membakar tanpa-akhir.

Catatan dari orang Yunani kuno ini, dikukuhkan oleh monumen-monumen seperti yang digambarkan oleh cendekiawan modern, menunjukkan kepada kita asal-usul ajaran penghakiman setelah kematian, dan tentang siksaan tanpa-akhir setelah kematian, sebagai hukuman atas kejahatan yang dilakukan dalam hidup di atas dunia.  Dari orang Mesir, ajaran itu diturunkan, dengan beberapa perubahan seperlunya, kepada orang Yunani dan Romawi.  Diodorus sendiri jelas menunjukkan bahwa dongeng tentang Danau Acherusia, Hecate, Cerberus, Charon, dan sungai Styx, berasal dari upacara kematian di Mesir dan kepercayaan orang Mesir.

 

Dan Profesor Stuart, dalam sebuah catatan mengenai Essay on Hieroglyphics karya Greppo, menerima pernyataan Spineto, bahwa Amenti ala orang Mesir menjadi asal dari dongeng klasik tentang Hades dan Tartarus, Charon, Pluto, hakim-hakim di dalam Underworld, anjing Cerberus, para Chimera, Harpies, Gorgon, Furies, “dan hal-hal aneh dan seram lainnya yang digunakan orang Yunani dan Roma untuk tartarus mereka yang cuma sekadar fantasi itu."

 

            Sangat menarik untuk memperhatikan sejumlah detail yang sangat mirip antara mitologi Mesir dan Yunani.  Kata Acherusia di Mesir berubah menjadi kata Acheron di Yunani.  Kata tartar di Mesir, yaitu ratapan-ratapan para kerabat terhadap orang mati yang ditolak dikubur karena hidupnya yang jahat, menjadi Tartarus, tempat di mana orang jahat dihukum dalam mitologi Yunani.  Perahu pemakaman yang menyeberangi danau, si pendayung perahu Horus, dan emas di dalam mulut orang mati dalam mitologi Mesir, menjadi perahu yang menyusuri sungai Styx, Charon si pendayung perahu, dan emas untuk pembayaran jasa Charon dalam mitologi Yunani.  Pemakaman di seberang danau, dikelilingi pohon-pohon, disebut Elisout atau Elisaeus oleh orang Mesir, adalah sumber dari istilah Elysian Fields dalam mitologi Yunani.  Ketiga hakim di Underworld Yunani, Minos, Aeacus, Rhadamanthus, berasal dari hakim-hakim Mesir; dan bentuk-bentuk kepala (topeng seluruh kepala) para hakim Mesir, diubah orang Yunani menjadi kepala monster Gorgon, Harpies, Furies, dan lain-lain.

            Tapi, seperti yang telah saya tunjukkan, walau orang Yunani meniru mitologi Mesir, mereka mengubah dan mengembangkannya.  Dan, sesuai dengan sifat individualisme yang sangat mencolok dalam bangsa Yunani, mereka tidak puas dengan metode orang Mesir yang menyamaratakan penghukuman kepada roh orang mati yang jahat, tapi mulai menggambarkan secara individual hukuman-hukuman itu.  Dari sinilah muncul dongeng tentang Ixion, Tantalus, Tityrus, dan lain-lain, yang jenis siksaannya telah disebut dalam bagian awal bab ini.  Segala sesuatunya harus jelas, tajam, dan dramatis, agar sesuai dengan tujuan para filsuf dan pujangga Yunani yang sangat imajinatif, dan kengerian Underworld harus ditampilkan sedemikian rupa untuk memicu imajinasi dalam bentuk yang sangat kuat, dan menghasilkan dampak langsung pada masyarakat secara umum maupun perorangan.

 

            Seluruh mitologi Underworld Yunani direkayasa untuk memberi dampak, mempengaruhi rakyat Yunani, untuk mengekang nafsu mereka, dan untuk membantu para hakim dan penguasa politik dalam mencegah rakyat melakukan pelanggaran hukum.  Mitologi Yunani adalah ciptaan para imam dan pembuat-hukum, yang menganggap ini sebagai cara paling mudah untuk memerintah rakyat.  Mereka mengaku memiliki “hak ilahi” untuk memerintah rakyat; mengaku bahwa hukum-hukum mereka berasal dari para allah (dewa), seperti yang sudah kita tunjukkan di atas; dan bahwa, karena itu, para allah (dewa) akan menghukum para pelanggar hukum dengan kengerian dan siksaan di Underworld.  Jadi, melalui kerjasama yang licik antara imam dan pembuat hukum (pemimpin politik), melalui kerjasama licik antara Gereja dan negara, kita dapatkan semua penipuan dan kebohongan tentang dunia-sana.  Jadi, sekitar 99% ajaran Katolik adalah dongeng!  Roh orang mati sebetulnya tidak berada di api pencucian (purgatory), karena purgatory itu sebetulnya tidak ada!

 

            Tapi, tanpa komentar lebih lanjut lagi, saya akan memperkenalkan kesaksian dari orang kafir sendiri dalam hal ini, dan dari antara mereka akan saya tampilkan yang paling terpelajar, yang akan menceritakan kisah mereka dengan gaya mereka sendiri. Walau begitu, satu kesimpulan awal, yang sudah terbentuk sebagian dalam benak kita, ingin saya ulangi, dan saya harap para pembaca tetap mengingatnya: para pemimpin politik, hakim, imam, dibantu pujangga, merekayasa cerita-cerita seram ini untuk membuat rakyat agar menurut pada mereka (lalu setan-setan juga menampilkan penampakan-penampakan sesuai dongeng-dongeng itu); secara agamawi rakyat percaya pada cerita-cerita itu; sementara para pengarang cerita-cerita itu, dan orang-orang terpelajar, para imam dan filsuf, walau mengajarkan cerita-cerita itu kepada rakyat, sama sekali tidak percaya pada cerita-cerita itu – yang memang hasil imajinasi mereka sendiri dan juga merupakan penglihatan yang ditanamkan Setan kepada pikiran mereka.

 

1. Polybius, sejarahwan, mengatakan: “Karena rakyat selalu labil, penuh nafsu melanggar hukum, keinginan-keinginan yang tidak masuk akal dan kekejaman, tak ada cara lain untuk menjaga mereka tetap menurut hukum selain dengan menciptakan rasa takut terhadap Underworld; yang di mata saya, nenek-moyang kita telah bertindak sangat masuk akal dengan mengarang-ngarang cerita tentang para dewa dan Underworld dan bekerja keras dalam mempopulerkannya kepada rakyat." B. vi. 56.

 

2. Dionysius Halicarnassus menganggap mitologi Underworld sebagai sesuatu yang berguna untuk mengendalikan masyarakat, tapi bukan sebagai ajaran yang benar.  Antiq. Rom., B. ii.

 

3. Livy, sejarahwan terkenal, membicarakan tentang mitologi dalam nada yang sama; dan dia memuji kebijaksanaan Numa, karena Numa menciptakan rasa takut kepada para dewa, sebagai “sarana yang paling efektif untuk mengatur dan memerintah rakyat yang bodoh dan liar seperti orang barbar,” Hist., i. 19.

 

4. Strabo, ahli geografi, mengatakan: “Rakyat dicegah melakukan pelanggaran hukum dengan cerita-cerita dongeng tentang hukuman para dewa yang katanya akan diberikan kepada para pelanggar hukum, dan dengan cerita-cerita seram yang dihasilkan dengan menggunakan kata-kata yang menyeramkan dan penggambaran sosok-sosok monster yang ditanamkan dalam pikiran mereka, … sebab sangat sulit untuk mengendalikan kerumunan kaum wanita, dan rakyat pada umumnya, dengan dialog filosofis, dan sangat sulit pula untuk menuntun mereka kepada kebaikan dan kesucian – hal ini harus dilaksanakan melalui takhyul, atau rasa takut kepada para dewa, dengan cara menciptakan dongeng-dongeng; sebab semua guruh, aegis, trident (garpu berujung tiga Dewa Neptunus), torch para Furies, naga, dan lain-lain, adalah dongeng, sama seperti semua konsep ketuhanan kuno (mitologi).  Hal-hal ini diciptakan oleh para pembuat hukum bagai orang-orangan sawah yang diciptakan petani, untuk menakut-nakuti rakyat yang kekanak-kanakan (menyukai dongeng).” Geog., B.  i.

 

5. Timaeus Locrus, seorang Pythagorean (penganut filsafat Pythagoras), setelah menyatakan bahwa ajaran tentang siksaan tanpa-akhir sangatlah penting bagi masyarakat, melanjutkan dengan kata-kata berikut: “Sama seperti kita sering mengobati tubuh kita dengan obat yang tidak begitu manjur, sebab obat yang paling manjur ternyata tidak bisa mengobati, demikianlah kita mengekang pikiran rakyat dengan dongeng-dongeng palsu, sebab tidak bisa diyakinkan dengan kebenaran.  Jadi timbul suatu keharusan, untuk menanamkan rasa takut terhadap siksaan-siksaan asing (foreign) itu: yaitu bahwa jiwa orang mati masuk ke raga (tubuh) lain; jiwa orang yang pengecut semasa hidupnya dimasukkan ke dalam tubuh seorang perempuan – jiwa seorang pembunuh dikurung dalam tubuh hewan liar; orang yang sombong dan plin-plan diubah menjadi burung, dan orang yang malas dan bodoh menjadi ikan.”

 

(Orang Yunani dan Roma, kalau membicarakan tentang hal-hal ‘religius’, biasanya menggunakan kata “asing” (“foreign”) yang berarti “berasal/diimport dari Mesir”.  Ajaran itu diimport dari Mesir oleh para pembuat hukum dan filsuf Yunani, yang sebelumnya telah berkunjung ke Mesir untuk mempelajari kepercayaan mereka, dan diajarkan takhyul-takhyul Mesir yang sangat terkenal di seluruh bumi.)

 

6. Plato, dalam komentarnya tentang Timaeus, 100% mendukung apa yang dikatakannya tentang penggunaan jenis-jenis siksaan dari mitologi Mesir ini dalam mitologi Yunani.  Dan Strabo mengatakan bahwa “Plato dan para brahmana dari India menciptakan dongeng-dongeng tentang siksaan di naraka.” (Hades).  Dan Chrysippus menyalahkan Plato karena mencoba mencegah manusia melakukan kejahatan dengan menggunakan ceria-cerita seram tentang siksaan tanpa-akhir.

 

Plato sendiri sangat plin-plan, kadang menggunakan dongeng-dongeng para pujangga, bahkan dalam ceramahnya yang paling serius sekalipun, dan kadang-kadang menolak dongeng-dongeng itu dan menyebutnya 100% kebohongan, dan memberikan gambaran yang terlalu menyeramkan dari Underworld.  Kadang-kadang, dia berpendapat, dari sudut pandang sosial dongeng-dongeng itu sangatlah penting untuk mencegah orang melakukan kejahatan, tapi kadang-kadang dia menentang dongeng-dongeng itu dari sudut pandang politik, dengan menyatakan bahwa dongeng-dongeng itu menakut-nakuti rakyat, membuat tentara menjadi pengecut, karena mempercayai hal-hal itu mereka jadi takut mati, sehingga tidak bisa bertempur dengan efektif. Tapi ini jelas menunjukkan sudut pandangnya tentang mitologi; bahwa mitologi bukanlah kebenaran, tapi dongeng, di satu sisi memudahkan dalam memerintah rakyat, tapi di sisi lain sulit ditangani karena menyebabkan tentara menjadi pengecut.

 

7. Plutarch memperlakukan mitologi dengan cara yang sama (plin-plan); kadang membela mitologi dengan amat tulus, dan kadang menyebut mitologi sebagai “cerita yang hebat, dongeng ibu-ibu dan para pengasuh anak.”

 

8. Seneca mengatakan: “Hal-hal itu yang membuat Underworld begitu menyeramkan, kegelapan, keterkekangan, sungai api, penghakiman, dll., semuanya itu dongeng, yang digunakan para pujangga untuk menyenangkan diri mereka sendiri, dan merusak pikiran kita dengan kengerian yang sebetulnya tak berguna.” Sextus Empiricus menyebutnya “dongeng puitis tentang neraka;” dan Cicero menyebutnya “kekonyolan dan dongeng” (ineptiis ac fabulis).

 

9.  Aristotle (Aristoteles).  “Diturunkan secara turun-temurun dalam bentuk mitos (dongeng) dari zaman yang paling awal sampai sekarang, bahwa ada banyak tuhan (dewa), dan bahwa mereka menguasai seluruh alam.  Semuanya telah ditambahkan, berupa dongeng, untuk membujuk orang banyak, dan untuk kepentingan hukum, dan keuntungan negara.” Church Hist., i., hal. 7. karya Neander.

 

(Penyair Ovid dalam Buku ke-15 dari seri Metamorphoses, mengenai ajaran pemindahan jiwa, menyatakan sebagai berikut:


Wahai kamu yang takut pada kematian,

kenapa kamu takut terhadap Styx, nama-nama tokoh dongeng, dan kegelapan tanpa-akhir,

impian (imajinasi) para pujangga (penyair), dan siksaan yang cuma karangan

dari kisah tentang naraka yang hanyalah kebohongan?

walau lidah api yang terakhir begitu mengagetkan,

walau tubuhmu renta dimakan usia, jiwamu tidak merasa sedih,

atau merasa sakit.  Jiwa manusia hidup selamanya,

terus-menerus (berulang-ulang) jiwa meninggalkan rumah (tubuh/raga) yang lama,

untuk hidup kembali dalam tubuh yang baru, yang menerimanya sebagai tamu,

semua berubah, tapi tak ada satu pun yang membusuk.

Ke sana kemari roh berkelana;

Menjadi tamu bagi segala macam raga,

keluar dari tubuh hewan, masuk ke tubuh manusia,

keluar dari tubuh manusia, masuk ke tubuh hewan,

dan tak pernah mati.

Seperti lilin cair masuk ke cetakan, roh/jiwa masuk ke dalam raga,

Roh/jiwa tak terikat pada raga, tapi meninggalkan raga yang lama

Namun roh/jiwa tetap sama: jiwa tetap eksis,

walau tinggal di dalam raga yang bermacam-macam.”)

 

"O you, whom horrors of cold death affright,

why fear you Styx, vain names, and endless night,

The dreams of poet, and feigned miseries

Of forged hell?  Whether last flames surprise,

Or age your bodies waste, they do not grieve,

Nor suffer pains.  Our souls forever live,

Yet evermore their ancient houses leave

To live in new, which them as guests receive

All alter, nothing finally decays.

Hither and thither still the spirit strays;

Guests to all bodies, out of beasts it flies

To man, from men to beasts, and never dies. 

As pliant wax each new impression takes,

Fixed to no form, but still the old forsakes,

Yet is the same: so souls the same abide,

Though various bodies may the sameness hide.")

 

[ Ingat, menurut mitologi, roh dan jiwa adalah hal yang sama, tapi menurut Kebenaran, roh dan jiwa adalah dua hal yang berbeda.  Jiwa manusia (yang masih hidup) adalah kerangka berpikir, bisa dianggap seperti ruangan-ruangan, yang ditempati roh manusia, roh setan, dan Roh Tuhan. – Pen.]

 

→ Perhatikan baik-baik kutipan di atas, Ovid mengajarkan dongeng tentang reinkarnasi, agar orang-orang tidak perlu takut pada naraka.  Tapi tetap saja, baik reinkarnasi maupun naraka sama-sama dongeng.  Kembali lagi diingatkan, bahwa orang mati tidak punya roh dan tidak punya jiwa.

 

Jadi, pertanyaan yang ditanyakan di awal bagian ini, “Dari mana ajaran tentang siksaan tanpa-akhir muncul?” sekarang, saya yakin, telah terjawab oleh sejumlah saksi yang cukup untuk menyelesaikan masalah itu tanpa perlu diperdebatkan lagi.  Orang-orang kafir sendiri yang mengaku bahwa merekalah yang menciptakan dogma-dogma itu, dan menciptakan semua cerita-cerita dongeng tentang Underworld – para pembuat hukum dan penyair dengan jujur menyatakan bahwa semua itu dibuat (dengan harapan) untuk menguasai rakyat yang bodoh, yang tak dapat dikekang dengan filsafat semata (hukum sipil).

 

(Montesquieu memiliki artikel yang berharga tentang topik ini, berjudul “La Politique Des Remains dans la Religion.”  Montesquieu dengan tegas mengatakan bahwa para pemimpin Roma “menciptakan ‘agama’ (mitologi) demi kepentingan negara,” dan bahwa “Romulus, Tatius dan Numa, memperbudak para dewa (dalam hal ini, berarti menciptakan kisah-kisah tentang dewa) demi kepentingan politik.” (asservirent les dieux a la Politique).)

 

Mereka sendiri [para pemimpin negara, para pujangga dan para pemimpin agama] tidak percaya pada cerita-cerita dongeng itu; mereka tidak berpendapat bahwa cerita-cerita itu betul-betul perlu untuk mengatur hidup mereka sendiri, atau mencegah mereka melakukan pelanggaran hukum; tapi cerita-cerita itu dibuat untuk rakyat jelata, massa yang tak berpendidikan, yang hanya dengan cara ini dapat ditakut-takuti agar menurut hukum.  Kita pasti melihat persamaannya antara orang-orang sok pintar di zaman itu dengan orang-orang sok pintar di zaman sekarang (yaitu semua pemimpin agama Katolik, Islam, Hindu, pemimpin agama-agama lain, dan beberapa pendeta Protestan), yang kelihatannya begitu gigih dalam mempertahankan ajaran siksaan-tanpa-akhir itu dengan alasan bahwa itu sangat penting untuk mencegah orang berbuat dosa.  Tapi, sayangnya, teori itu terbukti salah; sejarah membuktikan, di antara kaum penyembah berhala dan orang “Kristen”, tetap saja banyak orang yang berbuat dosa.

 

Home           Daftar Isi Neraka & Download Buku              Baca Bab IV