|
Home
Daftar Isi Neraka
& Download Buku
Baca Bab III-2
Daftar Isi
Pelajaran tentang
Kematian & Neraka |
BAB IV
Orang Yahudi Memasukkan Ajaran Siksaan-Tanpa-Akhir
dari orang kafir ke dalam
agama Yahudi
Thomas B. Thayer, 1881: Semua mengakui bahwa orang Yahudi di zaman Yesus percaya
ajaran siksaan-tanpa-akhir; itu adalah bagian dari agama Yahudi di masa itu
(agama Yahudi-mitologi yang seperti yang ada sekarang, bukan agama
Yahudi-Kebenaran-yang-diturunkan-Nabi-Musa). Tentu saja, karena ajaran itu tidak
ada di dalam Kitab Suci mereka (Perjanjian Lama), timbul pertanyaan, di mana
ajaran itu berada? Pada saat penutupan kitab Perjanjian Lama, mereka tidak
percaya ajaran itu; tapi pada saat dimulainya Perjanjian Baru, mereka percaya.
Di antara kedua titik itu ada periode selama sekitar 400 tahun, di mana tak ada
nabi Tuhan di antara orang Israel-Yahudi. Pada waktu itu, orang Israel-Yahudi
sudah kembali dari Babel, dan pulang ke tempat asal mereka di Yerusalem dan
sekitarnya. Di zaman Perjanjian Baru, orang Yahudi lebih dominan dibanding orang
Israel, dan orang Israel lalu disebut “Samaria”. Maleakhi adalah nabi Perjanjian
Lama yang terakhir, dan dari masa hidupnya sampai masa hidup Yesus terdapat era
kekosongan selama 4 abad (400 tahun), di mana orang Yahudi tidak memiliki
pengajar yang diilhami Tuhan ataupun wahyu yang diturunkan Tuhan kepada nabi.
Dan selama waktu itu mereka sangat erat bergaul dengan orang kafir, khususnya
Mesir, Yunani, dan Roma, yang percaya pada ajaran siksaan-tanpa-akhir sebagai
kepercayaan nasional mereka. Jadi, dari sinilah orang Yahudi mengkopinya, sebab
sudah pasti mereka tidak mungkin mendapatkannya dari Tuhan, sebab tak ada wahyu
dari Tuhan selama masa itu.
Lagipula, pada saat itu mereka semakin jauh dari Hukum Taurat, seperti yang kita
bisa lihat dari apa yang mereka lakukan sebelumnya di zaman Nabi Yeremia
(menyembah patung), dan Kebenaran Nabi Musa semakin tercemar oleh dongeng
(mitologi); sehingga akhirnya mereka membuang seluruh hukum Taurat dan
menggantikannya dengan tradisi mereka. Markus 7:9, 13.
Brucker mengatakan bahwa “sesudah zaman Esdras, Zakharia, Maleakhi, dan
nabi-nabi Perjanjian Lama, orang Yahudi mulai meninggalkan ajaran Kebenaran yang
suci, dan berpaling pada mimpi buatan manusia (humani ingenii somnia); walau
sampai sekarang mereka tetap mempertahankan Kebenaran Ibrani yang diterima dari
para bapa.” Hist. Philos. Judaica. Tom. ii. 703,
Bagian terakhir dari pernyataan ini, mungkin, terlalu berlebihan. Yang
sebetulnya adalah, orang Yahudi sekarang sama sekali tidak mempertahankan
Kebenaran Ibrani dari para bapa. Sejak zaman Maleakhi (penutupan zaman
nabi-nabi), mereka sudah meninggalkan Kebenaran para bapa. Penyimpangan ini
malah sebetulnya sudah dimulai jauh sebelum zaman Maleakhi, yaitu sebelum zaman
pembuangan ke Babel. Filsafat timur menciptakan kesan yang mendalam pada pikiran
rakyat Israel-Yahudi maupun para pemimpin Israel-Yahudi. Perlahan-lahan
runtuhlah tembok 10 Hukum yang melindungi Iman Kebenaran Musa, dan menyiapkan
tempat bagi ajaran-ajaran palsu (mitologi) yang akhirnya menyebabkan orang
Israel membunuh nabi-nabi Tuhan. Sebuah penelitian tentang kitab-kitab terakhir
Perjanjian Lama akan menunjukkan hal ini dengan sangat jelas.
Berbicara tentang hal ini, Guizot mengatakan: “Orang Yahudi telah mendapat
banyak filsafat timur waktu mereka ada di Babel, dan sudut pandang teologi
mereka telah mengalami banyak perubahan besar karena integrasi kebudayaan ini.
Kita menemukan mitologi dalam kitab Pengkhotbah (12:2-6), Amsal, dan beberapa
nabi-nabi sesudahnya, filsafat yang tadinya tidak diketahui orang Yahudi sebelum
penawanan di Babel, yang berasal dari berbagai bangsa di belahan bumi timur.
Jadi, Tuhan digambarkan dengan sosok terang (Nur), dan setan digambarkan dengan
kegelapan; sejarah tentang malaikat baik dan jahat (dilengkapi dengan nama-nama,
padahal di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru hanya ada satu nama malaikat,
yaitu Gabriel); dongeng tentang firdaus dan ‘neraka’ ala orang Arab (yang
sekarang ada dalam agama Islam, yaitu: firdaus memiliki banyak tingkatan/bagian
– ada yang mengatakan terdiri dari 7 tingkat, dan ‘neraka’ memiliki banyak
tingkatan/bagian – salah satunya disebut jahannam), dll., adalah ajaran-ajaran
yang seluruhnya, atau setidaknya garisbesarnya, berasal dari filsafat timur.”
(Gibbon karya Milman. Perhatikan di bagian awal bab xxi. Dalam hal “firdaus dan
neraka”, menurut kami soal itu agak dibesar-besarkan – tak ada bukti tentang
adanya point “neraka” dalam mitologi Babel.)
Dengan demikian kita melihat bahwa tali yang mengikat mereka pada kitab-kitab
Musa, dan pada hukum Tuhan yang tertulis, telah mengendur perlahan-lahan. Tentu
saja, setelah nabi terakhir mati, dan Tuhan menarik semua bimbingan-Nya, dongeng
(mitologi) dan penerimaan filsafat kafir meningkat dengan pesat.
Proses itu mudah dimaklumi. Sekitar tahun 350 SM, Alexander Agung telah
menguasai seluruh Asia Barat, termasuk Yudea dan Mesir. Lalu dia membangun kota
Alexandria di Mesir, yang dengan cepat menjadi kota metropolis perdagangan yang
besar, dan menarik banyak orang Yahudi, yang selalu berambisi untuk meningkatkan
kesempatan mereka bepergian dan berdagang. Beberapa tahun kemudian, Ptolemy
Soter menguasai Yerusalem, dan membawa 100.000 penduduknya ke Mesir. Di sini,
tentu saja, mereka setiap hari bertemu dengan orang Mesir dan Yunani, dan
pelan-pelan mulai menerima filsafat dan mitologi mereka, atau memodifikasi agama
Yahudi agar mirip dengan mitologi-mitologi tersebut.
“Ke mana pun mereka pergi,” tulis seorang sejarahwan yang teliti, “orang Yahudi
berinteraksi dengan orang Yunani dan filsafat Yunani, dan filsafat Yunani
mengubah Kebenaran Perjanjian Lama sedikit demi sedikit, mitologi Yunani ada di
sekitar mereka dan di antara mereka; sebab segelintir orang itu (Yahudi)
terpencar di dalam negara mereka sendiri, juga di negara-negara sekitar mereka.
Mitologi Yunani menyusup masuk dengan perlahan pada mulanya; tapi menyerbu
mereka dari segala sisi, dan bergerak dari tahun ke tahun, akhirnya tercampur
rata dalam semua cara berpikir orang Yahudi, dan pada tahun 150 Sebelum Masehi,
telah membawa perubahan besar dalam sudut pandang mereka dan cara berpikir
mereka.” (Universalist Expositor, vol. tahun 1834, hal. 423.)
Di Alexandria, Mesir, juga didirikan Sekolah Filsafat dan ‘Teologi’ yang
terkenal, yang menimbulkan pengaruh negatif baik pada agama Yahudi-Kebenaran
maupun agama Kristen-kebenaran.
“Sekolah ini,” kata Enfield, “dengan berpura-pura mengajarkan doktrin tentang
Tuhan dan hal-hal sorgawi dengan lebih hebat lagi, menjerat orang-orang dari
banyak negara dan agama, termasuk Yahudi, untuk mempelajari mistik-mistiknya,
dan memasukkannya ke dalam agama Yahudi… Dengan demikian, dengan menggunakan
simbol-simbol, ajaran kafir lambat laun masuk ke dalam sekolah-sekolah Yahudi –
dan ajaran Plato, pertama-tama digabung dengan Pythagoras, lalu mitologi Mesir
dan belahan bumi timur lainnya, dicampur dengan Kebenaran dalam usaha mereka
untuk menjelaskan hukum dan tradisi mereka.”
“Kecemaran ini, yang dimulai di zaman Ptolemy Philadelphus (283 SM), segera
menyebar ke Palestina, dan di mana-mana menyusuplah di antara orang Yahudi suatu
keinginan untuk mencicipi nuansa metafisik dan mistik… Di bawah arahan kaum
Ptolemies, orang-orang Yahudi mulai belajar mitologi Mesir dan timur, dan
memasukkan ajaran-ajaran asing itu ke dalam Kebenaran… Beberapa dari mereka
begitu tidak setia pada negara mereka dan Tuhan Yang Maha Esa, sampai menerima
perkenan penguasa mereka (Antiochus Epiphanes), dengan mencampurkan mitologi dan
takhyul kafir dengan ajaran-ajaran dan upacara-upacara mereka yang Suci.”
(History of Philosophy, Book iv, sec. 1, Lihat juga Mosheim, vol. i. 39. karya
Murdock.)
Dari kutipan-kutipan ini kita mendapat fakta-fakta penting yang berguna untuk
penelitian kita. “Filsafat kafir perlahan-lahan masuk ke dalam sekolah-sekolah
Yahudi,” dan orang Yahudi memasukkan filsafat dan mitologi Mesir ke dalam
Kebenaran mereka, sumber utama ajaran siksaan-tanpa-akhir sheol. Bukan cuma
mitologi Mesir, tapi juga mitologi timur dan filsafat Pythagoras, yang semuanya
mengandung ajaran yang sangat mencolok yang disebut ajaran metempsychosis, atau
perpindahan jiwa, sebagai semacam penebusan dosa setelah kematian, malah,
Pythagoras sangat mempromosikan dogma ini, sehingga sering disebut dengan
menggunakan namanya (filsafat Pythagorean); dan dipercaya hampir oleh semua
bangsa-bangsa di belahan bumi timur, sampai sekarang ini, khususnya oleh agama
Hindu, orang Burma, penganut kepercayaan Tibet, dan agama Buddha. Ajaran ini
lebih dikenal dengan sebutan reinkarnasi.
Karena ajaran ini cukup penting bagi penelitian kita, mungkin ada baiknya kita
bahas sedikit lebih jauh. Mitologi Mesir sudah kita pelajari, Pythagoras
mengajarkan bahwa jiwa-jiwa dimasukkan ke dalam raga (tubuh) sesuai tindakan
mereka dalam kehidupan sebelumnya. Jiwa orang baik diizinkan memasuki tubuh
hewan yang lembut dan hidup berkelompok, seperti lebah, burung merpati, semut,
dan lain-lain. Jiwa orang jahat dimasukkan ke dalam tubuh hewan sesuai sifat
mereka dalam kehidupan sebelumnya; yang pemarah dan kejam menjadi ular; yang
rakus dan gemar merampas menjadi serigala – yang suka menipu dan menjerat
menjadi musang; dan, menurut cara berpikir orang Arab yang kejam, para pengecut
dan banci akan dimasukkan ke dalam tubuh perempuan. (Belakangan, para pengikut
Muhammad menghapus ajaran reinkarnasi dari agama Islam, tapi beberapa dongeng
Arab masih ada di dalam agama Islam – misalnya naraka dan firdaus yang terdiri
dari beberapa tingkatan, padahal sorga yang asli hanya terdiri dari satu
tingkatan.)
Orang Buddha, menurut Judson, percaya bahwa manusia akan lahir kembali ke dalam
raga baru, yang sifatnya ditentukan oleh tindakan mereka dalam kehidupan yang
sekarang. Mereka bisa dilahirkan kembali sebagai burung, hewan liar, ikan, atau
serangga, mulai dari yang tinggi menuju yang rendah, jika mereka jahat, sampai
mencapai neraka, atau tempat siksaan belaka. Dalam kasus kejahatan yang sangat
besar, misalnya membunuh orangtua, atau membunuh pemimpin agama Buddha, orang
itu tidak mengalami reinkarnasi dulu, tapi langsung masuk ke semacam-neraka.
(Life of Judson, vol. i. 144-152, karya Wayland.)
Ini, kita lihat, mirip dengan apa yang dikatakan Wilkinson tentang ajaran Mesir,
bahwa hanya penjahat yang kejahatannya bisa disucikan yang diberikan perpindahan
jiwa melalui purgatory, sementara penjahat yang kejahatannya tak dapat diampuni
dikutuk ke dalam pembakaran tanpa-akhir.
Para pemimpin agama Hindu memoles ajaran itu sampai menjadi ‘sempurna’, sehingga
mereka berani mengaku dapat “mengetahui dengan tepat dosa apa yang dilakukan
seseorang dalam kehidupan sebelumnya, dengan melihat kesialan-kesialan yang
terjadi dalam kehidupannya yang sekarang. Misalnya, sakit kepala adalah hukuman
karena berbicara tidak sopan kepada orangtua dalam kehidupan sebelumnya.
Kegilaan adalah hukuman karena tidak menurut pada orangtua, atau pada brahmana
atau guru. Epilepsi adalah hukuman karena dalam kehidupan yang lalu meracuni
seseorang atas perintah orang lain. Rasa sakit pada mata adalah hukuman karena
dalam kehidupan yang lalu menginginkan isteri orang lain. Kebutaan adalah
hukuman karena telah membunuh ibu – tapi orang ini, sebelum lahir kembali, akan
menderita dulu selama bertahun-tahun di naraka.” (Commentary on John ix 2. karya
Clarke.)
Begitulah, sudut pandang yang dipercaya orang Mesir, kaum Pythagorean, dan
orang-orang timur, tentang reinkarnasi sebagai sistem pembalasan atas perbuatan
seseorang semasa hidupnya. Dan dari sumber-sumber ini Enfield dan yang lainnya
mengatakan bahwa orang Yahudi mencampurkan dogma-dogma dari filsafat dan
mitologi timur dengan ajaran-ajaran mereka yang Suci yang berasal dari Nabi
Musa. Apa ada bukti bahwa mereka memasukkan ajaran itu? Ada banyak bukti, yang
akan ditampilkan berikut ini.
Tentu saja, dalam melakukan hal ini, kita tidak akan membedakan antara mitologi
yang mana yang murni dari Mesir dan yang mana yang murni Yunani. Karena,
sebetulnya, kedua mitologi itu begitu tercampur-aduk setelah Mesir dikuasai
Alexander (raja Yunani yang mendirikan kota Alexandria di Mesir), dan setelah
masuknya orang Yunani ke negeri Mesir, sehingga hampir tak mungkin membedakan
kedua mitologi itu dalam pengaruh mereka kepada cara berpikir orang Yahudi.
Dalam menampilkan bukti-bukti itu, kita akan tampilkan pengakuan dari orang
Yahudi sendiri.
Dalam kitab Kebijaksanaan (salah satu kitab Deuterokanonika), yang mungkin
ditulis pada masa antara 50 hingga 90 tahun sebelum Yesus lahir, oleh seorang
keturunan Yahudi yang menjadi warga negara Mesir, kita mendapat kesaksian: “Aku
mempunyai kepribadian yang menyenangkan bahkan seperti anak-anak; dengan
penampilan yang ceria, atau bahkan sebagai orang baik, aku telah masuk ke dalam
tubuh yang tak bernoda.” Kebijaksanaan, bab (pasal) 8, ayat 19, 20. [Kitab Suci
Komunitas Kristiani, edisi Pastor Katolik (Bahasa Indonesia), Penerbit OBOR, Jl.
Gunung Sahari no. 91, Jakarta 10610. Diterjemahkan dari penerbit Pastoral Bible
Foundation, U.P.P.O. Box 4, 1101 Quezon City, Philippines, copyright © Bernardo
Hurault 2002.]
“Memang aku seorang pemuda yang baik budi pekertinya, dan aku mendapat jiwa yang
baik; atau sebaliknya: oleh karena aku ini baik, maka aku masuk ke dalam tubuh
yang tak bercela.” Kebijaksanaan Salomo, bab 8, ayat 19, 20. [Teks Alkitab
Terjemahan Baru (TB) © Lembaga AIkitab Indonesia, Teks Deuterokanonika © Lembaga
Biblika Indonesia. ]
Kedua terjemahan di atas agak kurang tepat, sebab bahasa Inggrisnya berbunyi
begini:
"I was a witty child, and had a good spirit. Yea, rather, being good, I came
into a body undefiled." Book of Wisdom, chapter viii, 19, 20.
Jadi kalau diterjemahkan dengan tepat, sesuai tatabahasa Inggris (past tense –
perhatikan kata was), bunyinya sebagai berikut:
[Dalam kehidupan (reinkarnasi) yang dulu aku adalah anak yang ceria, dan
mempunyai roh yang baik. Atau mungkin lebih tepat lagi kalau dikatakan: karena
aku baik, aku lalu masuk ke dalam sebuah tubuh yang tak bernoda.]
(Kitab-kitab Deuterokanonika [apocryphal books] adalah kitab-kitab yang terdapat
di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Alkitab versi Katolik.
Seluruh kitab-kitab jenis ini mengajarkan dongeng, termasuk ajaran dusta tentang
purgatory / api pencucian. Alkitab Katolik terdiri dari tiga bagian: Perjanjian
Lama [yang beberapa ayatnya sudah diubah], Deuterokanonika, dan Perjanjian Baru
[yang beberapa ayatnya sudah diubah]. KITAB-KITAB DEUTEROKANONIKA tidak berasal
dari Tuhan, tapi dari campuran antara dongeng (imajinasi manusia) dan peristiwa
sejarah. HAMPIR SEMUA AJARAN KATOLIK ADALAH KEBOHONGAN, DONGENG, BERASAL DARI
MITOLOGI ROMA DAN YUNANI.
Josephus, yang menulis sekitar 150 tahun sesudahnya, menulis mengenai orang
Farisi: “Mereka percaya semua jiwa manusia bersifat abadi dari sananya (dengan
sendirinya), baik orang jahat maupun orang baik sama-sama memiliki jiwa abadi,
dan bahwa di bawah bumi (sheol/hades) akan ada anugerah dan hukuman, sesuai
dengan kehidupan mereka di atas bumi – baik atau jahat. Jiwa orang jahat akan
dikurung dalam semacam penjara kekal; tapi jiwa orang baik akan diberi kekuatan
untuk hidup kembali (bereinkarnasi).” Ini, adalah perubahan besar dari kata
“sheol” di Perjanjian Lama. Kita tidak menemukan “sheol” dalam pengertian ini di
dalam tulisan-tulisan para bapa dan nabi Perjanjian Lama.
Lagi katanya: “Jiwa-jiwa orang baik dan penurut hukum akan memperoleh sebuah
tempat yang paling kudus di sorga, yang setelah melewati waktu yang cukup lama,
mereka akan dikirimkan kembali kepada tubuh yang murni,” sedangkan jiwa-jiwa
yang melakukan bunuh-diri “dimasukkan ke dalam tempat paling gelap di hades.”
Lagi: “Semua jiwa bersifat abadi, tapi jiwa-jiwa orang baik dipindahkan ke dalam
tubuh baru; sedangkan jiwa-jiwa orang jahat dihukum selama-lamanya.” (Jewish
Antiq., B. xviii., c. i. 3; Jewish Wars, B. iii, c. viii. 14; B. iii., c. viii.
5.)
Kesaksian-kesaksian ini cukup untuk menunjukkan betapa mendalamnya ajaran
reinkarnasi berakar di dalam kepercayaan Yahudi di zaman Yesus.
[Ingat, reinkarnasi adalah dongeng. Tapi setan selalu membuat reinkarnasi terasa
sungguhan. Semua orang yang mengaku dirinya sudah bereinkarnasi, adalah orang
yang dirasuki setan, atau bisa juga orang itu sebetulnya setan yang meniru
manusia. Demikian juga, api pencucian adalah dongeng, tapi setan selalu memberi
penglihatan-penglihatan kepada manusia tentang api pencucian, sehingga
seolah-olah nyata. Hal yang sama berlaku mengenai siksa kubur versi Islam dan
hell versi Kristen, naraka versi Hindu, sheol versi mitologi Yahudi, dan
Underworld.]
Akan terlihat bahwa kutipan-kutipan itu menandakan bahwa perpindahan jiwa/roh,
atau izin untuk memasuki tubuh lain di bumi, dipercaya oleh orang Farisi dan
Yahudi sebagai anugerah atas perbuatan baik (amal); sedangkan hal itu tidak
diberikan kepada orang jahat, yang ditahan di dalam underworld, atau hades, dan
dihukum dalam hukuman kekal. Gambaran sheol atau underworld yang sunyi, tidak
aktif, dan suram dari orang-orang Ibrani generasi awal, yang telah kita
gambarkan secara kasar (Bab II, bag. v.), mungkin telah terbawa kepada dongeng
tentang sheol di antara orang Yahudi, dan menyebabkan mereka menganggap bahwa
keluputan dari sheol menuju kehidupan di atas bumi adalah sebuah anugerah.
Itu jelas merupakan pendapat umum, dan bahkan sampai tercatat di kitab 2 Makabe
(salah satu kitab Deuterokanonika), mungkin ditulis tahun 150 S.M., bahwa orang
jahat akan dihukum berupa tidak diberi kebangkitan, atau terkurung di dalam
underworld sebagai hantu, tanpa kegiatan atau kesenangan (2 Makabe pasal vii,
xiv). Ini, saya yakin, adalah catatan pertama yang kita miliki tentang ajaran
hukuman di-balik-kematian yang muncul di antara orang Yahudi, yang seperti kita
lihat, timbul bukan dalam bentuk siksaan-dibakar, tapi berupa penolakan untuk
dibangkitkan.
Ajaran ini sangat dominan di antara orang Yahudi. David Kimchi (1240 M.)
mengatakan: “Hujan sama-sama diberikan kepada orang benar dan orang fasik, tapi
kebangkitan orang mati hanyalah sesuatu yang khusus diberikan pada orang benar.”
Moses Gerundensis mengatakan: “Tak ada yang mendapat bagian dalam berkat-berkat
yang ada dalam dunia-sana (Firdaus-versi-mitologi), selain jiwa-jiwa orang
benar, yang, dipisahkan dari tubuh mereka, akan masuk ke dalamnya.” Manasseh Ben
Israel, dalam sebuah karyatulis tentang kebangkitan orang mati, mengatakan:
“Dari benak dan pemikiran orang Yahudi kuno, kita simpulkan bahwa tidak akan ada
kebangkitan yang diberikan bagi semua orang mati, tidak semua orang mati
diberikan kebangkitan.” Pocoke telah memberi banyak bukti dari para rabbi
penulis-kitab-mitologi-Yahudi untuk membuktikan hal ini. (Lihat Resurrection,
hal. 253, karya Bush, yang merupakan sumber dari kutipan-kutipan ini.)
Pernyataan dari Ben Israel, bahwa ini adalah “pemikiran semua orang Yahudi
kuno,” sebetulnya salah (karena Musa tidak percaya adanya siksaan-tanpa-akhir);
tapi itu menunjukkan bahwa pada masa yang paling awal sekalipun ajaran ini telah
ada di dalam kepercayaan Yahudi. Kitab 2 Makabe, ditulis 250 tahun sesudah
Maleakhi, menunjukkan bahwa ajaran tentang adanya siksaan-tanpa-akhir dipercaya
pada masa itu.
Tapi ajaran semua-orang-jahat-akan-menderita-siksaan-tanpa-akhir bukanlah ajaran
yang dipercaya seluruh orang Yahudi, sebab sebagian dari mereka lebih percaya
pada perpindahan jiwa (reinkarnasi), yaitu orang jahat yang dosanya tidak
terlalu besar akan lahir kembali ke dalam tubuh baru dan menderita semacam cacad
atau penyakit. Ajaran reinkarnasi sudah ada dalam agama
Yahudi-yang-tercemar-mitologi di zaman Yesus. Kita mendapat catatan sejarahnya:
Seorang buta yang dicelikkan oleh Yesus. Yohanes 9:2. “Rabi, siapakah yang
berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”
Ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi mempercayai ajaran bahwa orang itu
dilahirkan kembali ke dalam tubuh yang buta sebagai hukuman atas dosanya dalam
kehidupannya (reinkarnasinya) yang dulu, yang merupakan ajaran yang sama dengan
ajaran Mesir, Hindu, Buddha, dan agama-agama dari Cina dan Jepang.
Dalam Lukas 9:18, kita menemukan bukti lain adanya ajaran reinkarnasi di antara
orang Yahudi. Dalam menjawab pertanyaan Yesus, “Kata orang banyak, siapakah Aku
ini?”, murid-murid menjawab, “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia,
ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit
(bereinkarnasi).” Mereka percaya jiwa dari salah satu pemimpin itu telah kembali
ke bumi dalam tubuh baru, yaitu tubuh Yesus, yang bagi mereka merupakan
penjelasan yang cukup memuaskan tentang mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya.
Banyak cendekiawan Yahudi (doktor) percaya bahwa jiwa-jiwa Adam, Abraham, dan
yang lainnya, telah masuk dan menggerakkan tubuh-tubuh para pemimpin negara
mereka.
Aneh sekali, orang-orang Yahudi yang pendapatnya dikutip para murid itu bisa
percaya bahwa Yohanes Pembaptis, yang baru saja dibunuh, bisa masuk ke dalam
tubuh Yesus, yang sudah berusia 30 tahun. Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah dua
orang yang berbeda, dan berkali-kali bertemu muka dengan muka sewaktu mereka
berdua masih hidup! Tapi, memang, alur pemikiran rakyat jelata maupun para
cendekiawan Yahudi tentang hal ini sangat campur-aduk dan tidak jelas, lagipula,
ada bermacam-macam variasi tentang ajaran reinkarnasi yang mereka percayai.
Orang Mesir percaya reinkarnasi sebagai hukuman bagi orang jahat yang tidak
terlalu jahat semasa hidupnya; orang Farisi percaya reinkarnasi sebagai anugerah
bagi orang yang baik semasa hidupnya, dan kaum Pythagorean percaya reinkarnasi
berfungsi baik sebagai hukuman maupun sebagai anugerah. Orang Mesir percaya
orang yang sangat jahat tidak mengalami reinkarnasi; dan orang Farisi menganggap
semua orang jahat tidak mengalami reinkarnasi tapi dihukum di dalam sheol;
sementara kaum Pythahorean percaya bahwa yang tidak mengalami reinkarnasi adalah
jiwa orang-orang yang sangat baik, atau murni akibat bertapa, yang langsung
dikirim ke sorga, atau negeri dewa-dewa. Begitu banyak perbedaan-perbedaan dalam
konsep-konsep reinkarnasi, bahkan dalam hal inti moral dari ajaran-ajaran itu.
Philo, seorang berdarah Yahudi yang berkebangsaan Mesir yang hidup di zaman
Yesus, percaya bahwa udara dipenuhi roh-roh orang mati, yang dari waktu ke waktu
turun untuk “menggabungkan diri dengan tubuh-tubuh fana, berambisi untuk hidup
lagi di dalam tubuh-tubuh itu.” Dan Josephus melaporkan bahwa kaum Essenes,
salah satu dari tiga sekte terbesar dalam agama Yahudi, mempercayai ajaran yang
sama soal keberadaan roh-roh manusia sejak Adam belum diciptakan, yang
sebetulnya sama dengan ajaran reinkarnasi. (Whitby dan Clarke, mengenai Yohanes
9:20. Schoettgen mengatakan bahwa orang Yahudi percaya bahwa semua jiwa-jiwa
manusia sudah ada sebelum adanya tubuh manusia yang pertama (Adam). Horae Hebri,
sebagaimana yang dikutip oleh Norton, Translation of the Gospels, ii. 408.)
Nah, sudah cukup banyak bukti yang telah kita lihat untuk membuktikan bahwa
orang Yahudi menerima ajaran reinkarnasi dari orang kafir, lengkap dengan
detail-detailnya soal Penghukuman Tanpa-Akhir. Dan mereka membuktikan pernyataan
Enfield, bahwa “Kemurnian ajaran Tuhan telah tercemar di antara orang Yahudi di
Mesir, yang, di bawah kedok simbol-simbol, menerima ajaran-ajaran yang tak
pernah terlintas dalam pikiran Musa dan nabi-nabi; dan orang-orang Yahudi
menerima tafsir 10 Hukum versi mistik, yang mengubah artinya yang sederhana dan
jelas menjadi ribuan dongeng-dongeng kosong.”
Tapi bentuk lain dari Penghukuman Tanpa-Akhir juga diterima, lebih mirip dengan
kepercayaan kasar yang terdapat dalam bab sebelumnya. Kitab Deuterokanonika yang
bernama Kebijaksanaan Salomo, ditulis antara 50 sampai 70 tahun sesudah kitab 2
Makabe, mengandung ajaran anugerah-setelah-kematian. Tempat tinggal orang-orang
jahat adalah di dalam kegelapan dan di tengah-tengah kengerian, dan Yang Maha
Kuasa mengirimkan semua unsur alam menentang mereka, petir dan hujan batu, angin
badai dan ombak laut yang besar.
Philo juga mengajarkan bahwa jiwa-jiwa orang jahat dilemparkan ke dalam
Tartarus, ke dalam kegelapan yang paling gelap, di mana mereka dikelilingi
setiap jenis bayangan-bayangan arwah dan penampakan-penampakan menyeramkan. Di
sini mereka menderita siksa-kematian-tanpa-akhir, merasakan sakitnya siksaan
yang sedang terjadi dan merasa takut menghadapi siksaan yang akan terjadi, tanpa
hiburan dan tanpa harapan. Ini seperti tiruan dari dongeng-dongeng klasik, dan
mengingatkan kita pada inti kepercayaan kafir. Ajaran ini berasal dari Yunani,
dengan sedikit nuansa Yahudi.
Saya rasa sudah cukup, dan saya akan menutup pembahasan kita dengan mengutip
kata-kata Dr. Campbell, yang menyatakan dengan sangat jelas proses pertumbuhan
ajaran siksaan-tanpa-akhir-di-alam-kematian di antara orang Yahudi, yang berasal
dari mitologi Yunani dan Romawi.
“Sejak masa penawanan, tepatnya sejak waktu bangsa Yahudi dikalahkan oleh bangsa
Babel sampai Roma, selama masa itu mereka memiliki hubungan erat dengan orang
kafir, mereka tanpa sadar menyerap banyak cara-berpikir kafir, khususnya pada
bagian di mana Hukum Taurat tidak mengatakan apa-apa, (Kita sudah belajar bahwa
Hukum Taurat tidak mengatakan apa-apa dalam hal siksaan-tanpa-akhir, malah
siksaan jenis apa pun setelah kematian, dan justru pada bagian inilah orang
Yahudi banyak meniru dari orang kafir.) juga di bagian di mana mereka menganggap
diri mereka tidak perlu mematuhinya (yaitu hukum ke-2, penyembahan patung). Pada
topik mengenai keadaan orang mati, kita menemukan perbedaan yang cukup besar
dalam sudut pandang orang Yahudi di zaman Yesus, dibandingkan di zaman nabi-nabi
Perjanjian Lama. Karena baik orang Yunani dan Roma telah menerima sudut pandang
bahwa hantu-hantu (arwah orang mati) bisa merasakan sukacita atau penderitaan,
mereka menjadi percaya adanya semacam pembalasan dalam dunia-orang-mati atas
tindakan orang itu semasa hidup. Orang Yahudi tidak menerima 100% dongeng Yunani
tentang hal ini, tapi juga tidak membuat dongeng Yahudi yang sama sekali berbeda
dari dongeng Yunani; sudut pandang dari kedua bangsa itu (Yahudi dan Yunani)
cukup mirip.” (Dissertation vi., Pt. ii., di mana topik itu dibahas dengan
keterbukaan dan otoritas yang seimbang.)
Mereka tidak meniru semua detail dari dongeng-dongeng kafir, tapi mereka
menggunakan dasar dan kerangka-pikiran dongeng-dongeng itu, dan menciptakan
sendiri detail-detailnya yang sama menjijikkan dan sama konyolnya. Le Clerc
mengatakan bahwa orang Yahudi “menarik begitu banyak dongeng (ont debite un si
grand nombre de fables), sehingga ‘catatan sejarah’ mereka, setelah zaman para
penulis sejarah suci (Penulis Perjanjian Lama), hampir sama anehnya dengan
‘catatan sejarah’ orang kafir.” [Jadi, kitab-kitab Deuterokanonika adalah
dongeng, tapi oleh pemimpin agama Katolik dinyatakan sebagai kitab sejarah.
Salah satu contohnya adalah kitab-kitab Makabe dan Tambahan Kitab Daniel.] Dan
dia menambahkan, bahwa “karena orang Yahudi lebih dituntun Tuhan dibandingkan
orang kafir, maka mereka lebih bersalah dibanding orang kafir, karena
menciptakan begitu banyak dongeng.” (Lihat karya Jortin berjudul Remarks, i.
113. Anda yang sudah membaca beberapa dongeng konyol dalam kitab Talmud pasti
akan setuju dengan pendapat Le Clerc ini.)
Para pemimpin agama Yahudi menciptakan mitologi Yahudi dan mengkopi mitologi
kafir, sehingga, seperti kata Tytler, di zaman Yesus, “mereka sudah sangat
mencemari Taurat dengan pencampuran ajaran-ajaran kafir dan upacara-upacara yang
dipinjam dari kaum penyembah berhala,” singkatnya, “Yudaisme sendiri telah
menjadi begitu tercemar dan berubah, sampai-sampai tercipta golongan-golongan
[Farisi dan Saduki] yang menjadi sumber perpecahan bangsa Yahudi.” (Universal
History, Book vi, chapter iv, Note.)
Fakta-fakta dan kesaksian-kesaksian ini sudah cukup, saya yakin, untuk
memberitahu Anda tentang dari mana orang Yahudi mendapat ajaran
siksaan-tanpa-akhir dan ajaran-ajaran lain yang mereka kembangkan mengenai
alam-baka (sheol). Lalu, teringatlah kita akan kata-kata Juruselamat kita yang
gamblang: “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka
ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada
adat istiadat manusia.” Matius 15:9. Jadi kita bisa lihat inti dakwaan-Nya
kepada orang Farisi, yaitu karena mereka “mengesampingkan perintah Allah” supaya
mereka “mengikuti adat istiadat” mereka, menyatakan firman Allah “tidak berlaku”
Markus 7:9, 13), dan juga, peringatan-Nya kepada murid-murid untuk
berjaga-jagalah terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki. Matius 16:6-12.
Fakta: selama 400 tahun pergaulan bangsa Yahudi dengan bangsa kafir, di mana
mereka tidak mendapat ajaran dari Tuhan, filsafat dan takhyul kafir telah
menyingkirkan Hukum Taurat Musa dan Perjanjian Lama, dan menggantikannya dengan
dongeng-dongeng buatan orang Yahudi sendiri tentang alam-baka sheol. (Kita akan
lihat kesaksian-kesaksian lain tentang hal ini dalam Bab X, bagian iii.)
Pencemaran agama Yahudi: sejumlah besar ajaran kafir yang telah dimasukkan ke
dalam agama Yahudi sebelum zaman Kristus, adalah point penting dalam argumen
ini, karena menunjukkan tahap-tahap penyusupan ajaran siksaan-tanpa-akhir ke
dalam agama Yahudi. Jadi, kita sediakan tempat untuk kesaksian-kesaksian
berikut:
“Ajaran-ajaran salah yang paling merusak,” kata Dr. Mosheim, “telah merasuki
seluruh bangsa itu (Yahudi). Di antara mereka terdapat beberapa pola-pikir
konyol dan tak-masuk-akal mengenai hal-hal ‘sorgawi’, sehingga menyebabkan
munculnya takhyul, kekuatan gaib, ilmu sihir, dll. yang sebagian berasal dari
zaman penawanan di Babel, dan sebagian lagi berasal dari orang-orang Mesir,
Siria, dan Arab yang tinggal di antara mereka.” Lagi Mosheim mengatakan,
“Nenek-moyang orang Yahudi yang hidup di zaman Yesus telah membawa dari Chaldaea
(Kasdim/Babel) dan negeri-negeri tetangganya banyak dongeng-dongeng kosong yang
dibuat-buat, yang sama sekali tak dikenal oleh para pendiri bangsa Yahudi
(Musa). Penguasaan Asia oleh Alexander Agung juga merupakan peristiwa penting
dalam hal masuknya ajaran-ajaran salah ke dalam agama Yahudi, sebab, akibat
revolusi itu, sudut pandang orang Yunani mulai menyebar di antara orang Yahudi.
Selain itu, dalam perjalanan-dagang mereka ke Mesir dan Fenisia, orang-orang
Yahudi juga membawa pulang, bukan hanya kekayaan dari negara-negara yang
tercemar takhyul ini, tapi juga ajaran-ajaran salah yang merusak, dan
dongeng-dongeng kosong, yang perlahan-lahan tercampur dengan ajaran-ajaran
Yahudi yang benar.” (Church History, century i. pt. i. chap. ii. karya Mosheim.
Lihat juga catatan Guizot dalam Gibbon karya Milman, chap. xxi History karya
Neander, i. hal. 49-62.)
“Orang-orang Ibrani menerima ajaran setan-setan itu dari dua sumber. Pada zaman
pembuangan ke Babel, mereka mendapat ajaran-ajaran itu dari ilmu sihir mitologi
Chaldaea-Persia; lalu, selama kekuasaan Yunani di Mesir, orang-orang Yahudi
bergaul erat dengan orang-orang asing ini, khususnya di Alexandria, dan
menambahkan mitologi Mesir-Yunani kepada mitologi Chaldaea-Persia. Dan campuran
ini sangat jelas terlihat dalam Perjanjian Baru. Sangat sulit untuk mencegah
mitologi Yunani mencemari kebenaran Perjanjian Lama. Para nabi tidak ada.
Penelitian filsafat kafir dimulai. Ajaran yang dipercaya rakyat jelata dan
ahli-ahli filsafat menjadi berbeda; dan bahkan para ahli filsafat terbagi-bagi
menjadi beberapa sekte: Farisi, Saduki, dan Essenes; dan sudut pandang pengikut
Plato dan Pythagoras, tercampur dengan ajaran-ajaran dari timur, telah membuka
jalan bagi filsafat Hellenisme dan Kabbalah. Inilah kondisi masyarakat di zaman
Kristus.” (Encyclopedia Americana, art. “Demon.”)
Kesaksian dari sejarahwan yang terpelajar dan teliti ini langsung menjelaskan ke
inti masalahnya, dan memberitahu kita sumber-sumber dari pencemaran Kebenaran,
ajaran-ajaran palsu, takhyul, dan dongeng kafir yang ada di antara orang Yahudi
di zaman Yesus, yang mengalahkan kebenaran-sederhana yang diajarkan Musa dan
nabi-nabi.
Home Daftar Isi Neraka & Download Buku
Baca Bab III-2
|
|